
Rama masih terdiam dengan melirik punggung Kila yang berjalan menjauh, dia meraih bantal yang sebelumnya Kila berikan lalu melemparkan bantal tersebut ke lantai, ‘apa yang dilihat Gilang, ke perempuan tanpa sopan santun sepertinya?' batin Rama seraya beranjak berdiri.
Dia terus berjalan, lalu berhenti kembali saat pandangannya itu terjatuh kepada Kila yang berdiri mematung di depan jendela, ‘masalah apa lagi yang ingin dia lakukan?’ Rama kembali membatin, sebelum jalan berbelok ke samping.
“Bahkan, tanpa perlu keluar rumah, di sini bisa dengan leluasa melihat langit,” gumam Kila sambil menempelkan telapak tangannya di jendela.
“Jika aku membeli rumah dengan lantai bertingkat, mungkin aku akan mendapatkan hal yang sama … Aku harus mengumpulkan uang agar bisa lari dari sini,” sambung Kila bergumam pelan, sebelum dia berbalik meninggalkan jendela.
Kila memperlamban kakinya, saat Rama masih berjalan menuruni tangga di hadapannya, ‘dia terlihat mirip sekali dengan Gilang, jika dilihat dari belakang,’ batin Kila yang mulai menggerakan kakinya menuruni tangga.
Langkah Kila terus berlanjut, dengan matanya yang kadang kala melirik ke arah beberapa asisten rumah tangga yang diam-diam sembunyi, berbisik sambil menatapi mereka dari kejauhan. ‘Dia sudah memiliki Istri, kan? Apa Istrinya, tahu akan pernikahan kami?’ tukas Kila di dalam hati sembari tetap melangkah sedikit jauh di belakang Rama.
“Kak!” panggil Kila hingga membuat Rama menghentikan langkah.
“Apa Kakak bisa mengikutiku? Ada sesuatu yang harus aku kembalikan,” sambung Kila kembali sambil berjalan melewati Rama.
“Ini berhubungan dengan Gilang.” Rama mengepalkan dengan kuat tangannya, sebelum melangkah mengikuti Kila yang membawanya ke sebuah kamar di salah satu rumahnya.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Rama yang berdiri di pintu, menatapi Kila yang berjalan lalu duduk di sisi ranjang.
Kila masih terdiam, dengan tangannya yang mengorek ke dalam barang-barang yang ia bawa, “benda milik Gilang yang ia titipkan kepadaku,” ucap Kila, dia mengangkat tangannya yang memegang sebuah foto ke arah Rama.
Rama melangkah mendekatinya, lalu meraih selembar foto yang Kila berikan. “Itu foto kalian berdua saat masih kecil, dia sering kali menceritakan … Bagaimana mengagumkannya, kakak laki-lakinya itu. Aku, ingin mengembalikannya lagi kepada kalian,” sahut Kila sambil menundukan wajahnya.
__ADS_1
“Kenapa, Gilang memberikannya kepadamu? Dan kenapa, dia menceritakan-”
Wajah Kila terangkat saat Rama menghentikan kata-katanya, “entahlah, bahkan saat pertama kali kami bertemu, itu murni karena uang.”
“Apa maksudmu?”
Kila menggerakan kedua tangannya ke belakang, untuk menyangga tubuhnya duduk di kasur, “apa Kakak pernah mendengar istilah Pacar Sewaan?”
“Awalnya, Gilang dulu menyewaku untuk menjadi Pacarnya selama satu bulan … Saat itu, dia hancur karena kakaknya menikahi gadis yang ia cintai. Selama dia menyewaku, tentu aku harus memberikannya perhatian yang layak, tapi sepertinya Gilang sendiri hanyut dalam perhatian yang aku berikan-”
“Kenapa kau tiba-tiba menceritakan ini?” tukas Rama memotong perkataannya.
“Kenapa? Aku hanya ingin memberitahukan, siapa yang sebenarnya telah menghancurkan Gilang. Aku telah membuatnya kembali bangkit, melupakan semua patah hati yang ia dapat … Tapi kalian, kembali menghancurkannya. Kalian merebut Gilang-ku, kalian merebutnya dariku,” ucap Kila sambil sebelah tangannya bergerak mengusap pipinya yang basah.
Kila beranjak berdiri di depan Rama, tangannya merebut buku yang Rama pegang lalu melemparkannya ke lantai, “lihat baik-baik mataku! Apa aku terlihat seperti membohongimu?” tukas Kila, kali ini dia meraih tangan Rama lalu meletakannya hingga menyentuh pipinya, “saat dia menyentuh pipiku dulu, yang ada di bayangannya adalah saat kakaknya menyentuh perempuan yang ia cintai. Apa sebelum menikahi Istrimu, kau tidak bertanya … Sudah berapa lama mereka menjalin hubungan?”
“Omong kosong macam apa yang kau katakan ini?” tukas Rama sembari menarik kembali tangannya.
“Dibanding Kakaknya, tentu Gilang bukanlah siapa-siapa,” sahut Kila sambil melirik ke arah tangan Rama, “jika aku menjadi perempuan tersebut, tentu aku akan memilih laki-laki yang lebih sukses dan mapan. Gilang laki-laki yang baik, walau terkadang masih suka bersikap kekanakan … Tapi karena itulah, aku menyukainya,” ucap Kila sembari duduk kembali ke pinggir ranjang.
‘Maafkan aku, Gilang. Aku harus menabur garam di luka keluargamu … Tapi mereka, berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika kau mengirimku untuk menghancurkan rumah tangga kakakmu? Maka aku, akan melakukannya dengan senang hati,’ batin Kila dengan tetap menatapi Rama yang hanya berdiri dengan meremas foto di tangannya.
“Karena aku, sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku, sudah boleh pergi, kan?” tanya Kila, dia kembali beranjak dengan meraih barang-barang yang ia bawa.
__ADS_1
Kila berjalan melewati Rama yang masih terdiam, ‘laki-laki tersebut, wajahnya susah sekali ditebak. Aku akan sulit melancarkan rencanaku, jika dia tidak-’
“Tunggu!”
Kila menghentikan langkah, dia tersenyum kecil sebelum kembali berbalik menatap Rama, “aku masih belum memberikanmu izin untuk pergi. Ceritakan kembali, apa yang Gilang ceritakan selama ini kepadamu!”
“Kenapa aku harus melakukannya? Aku, tidak berkewajiban untuk melakukannya. Namun, jika kau benar ingin memintaku melakukannya, penuhi hanya satu syarat dariku,” tukas Kila sambil mengangkat jari telunjuknya.
“Dan apa syaratnya?”
“Nikahi aku, sesuai hukum di Negara ini. Pernikahan Siri? Apa kau berencana menjadikanku sebagai simpanan yang tersakiti seperti di sinetron-sinetron? Aku tidak sebodoh itu!”
“Nikahi aku secara sah di mata hukum, atau tidak usah menikahiku sama sekali. Aku masih bisa hidup tanpa uang pemberianmu, tapi jika kau menikahiku tanpa ada dokumen resmi, bagaimana aku ingin menghadapi mereka? Maksudku, ibumu yang sangat membenciku, atau Istrimu yang merupakan mantan kekasih dari adikmu sendiri.”
“Menjadi Istri siri tidak akan menguntungkan untukku. Aku, akan kesulitan mendapatkan harta gono-gini selepas bercerai. Setelah kau memenuhi syaratku, aku akan memberitahukanmu kenapa Gilang bisa tertarik kepadaku, dan apa saja yang Gilang sembunyikan darimu … Apa Kakak yang begitu ia kagumi, tidak bisa berkorban sedikit untuknya?”
Kila kembali tersenyum saat mata Rama yang memerah itu menatapnya, “besok, kita akan mempersiapkan semuanya,” tukas Rama sambil berjalan keluar melewati Kila.
Kila berbalik, melangkah mendekati pintu lalu menutup pintu tersebut, “tentu saja, suamiku,” ungkap Kila sebelum kembali berjalan mendekati ranjang.
Kila meletakan barang bawaannya di sudut ranjang, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang tersebut. “Aku, akan menghancurkan keluarga ini, seperti mereka menghancurkanmu, Gilang. Aku, akan melakukan apa pun untuk mencapai semuanya-”
“Jadi, bahagialah di sana. Aku mencintaimu … Maafkan aku, untuk baru menyadari semuanya,” sambung Kila dengan menutup mata menggunakan sebelah lengannya.
__ADS_1
Kila mengangkat tangan kanannya ke atas, dengan lama ia menatap tangannya itu, “mereka, berhak merasakan rasa sakit yang sama. Ini masih belum cukup untuk dikatakan sebagai bayaran, karena telah menghancurkan impian dan kebahagiaan kita berdua,” lanjut Kila bergumam sembari menggerakan tubuhnya berbaring ke samping.