Suami Kedua

Suami Kedua
Keputusan


__ADS_3

‘Apa yang akan dia pikirkan, jika saja dia tahu … Rencananya untuk menarik perhatian suaminya sendiri justru gagal. Lihatlah! Wajah suami kita yang lelap tertidur di rangkulanku ini,’ batin Kila, sambil mengusap rambut Rama yang berbaring di sampingnya.


“Apa aku membangunkanmu, kak?” tanya Kila yang menghentikan gerakan tangannya saat Rama membuka mata.


“Jam berapa sekarang?”


Kila melirik ke arah jam yang ada di arah belakang Rama, “hampir jam delapan malam. Aku, akan menyiapkan makan malam,” ucap Kila, sambil mengangkat tangan Rama yang merangkul pinggangnya.


Kila beranjak turun dari ranjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya, “apa kak Rama tahu, makanan kesukaannya kak Citra?” tanya Kila, dengan melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.


Rama masih belum menjawab pertanyaan Kila, dia hanya beranjak duduk lalu bersandar di kepala ranjang. Matanya melirik ke arah ponsel Kila yang terselip di bawah bantal, ‘bahkan wallpaper ponselnya pun, masih fotonya dan foto Gilang bersama … Menjadikanku sebagai pengganti Gilang, kah?’ batin Rama, dia melirik ke teko air terbuat dari beling di meja kecil yang ada di samping ranjang.


Rama membuka penutup di teko tersebut, lalu menjatuhkan ponsel Kila begitu saja ke dalam air yang ada di dalamnya. ‘Apa pun yang berhubungan dengan Gilang, aku sudah muak … Manusia manja sepertinya, selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan selama ini. Bagaimana rasanya melihat wanita yang dulu ingin kau perjuangkan hingga ke pernikahan … Justru, menikmati sentuhan yang aku lakukan, wahai adikku,” sambung Rama membatin sambil beranjak berdiri mengikuti Kila yang masih di dalam kamar mandi.


Rama berdiri dengan menatapi Kila yang tengah membasuh tubuhnya di bawah kucuran air, dia berjalan lalu mendekap tubuh Istrinya itu dari belakang, “kak Rama?” tukas Kila dengan sedikit terkejut oleh perlakuannya yang tiba-tiba.


“Kak, tubuhku masih penuh sabun,” sambung Kila, dia sedikit meringis saat jari Rama bergerak masuk begitu saja ke organ kewanitaannya.


Rama semakin memperkuat dekapannya, diikuti kecupan beruntun yang ia tinggalkan di leher Kila. Tubuhnya turut basah, oleh kucuran air yang mengalir keluar. “Kila, aku tidak sengaja menjatuhkan ponselmu ke dalam air. Aku berjanji, akan membelikanmu ponsel yang baru.”


Mata Kila membesar saat mendengar bisikan Rama di telinganya, “pon-” ucapan Kila kembali berhenti oleh rintihan, saat benda nan keras berusaha untuk masuk ke dalam miliknya.


“Kau tidak marah jika aku menggantinya dengan yang baru, kan? Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya,” ungkap Rama, dengan napasnya yang sedikit memburu.

__ADS_1


‘Dia pasti sengaja melakukannya … Apa karena aku memakai fotoku dan Gilang sebagai wallpaper? Apa ini berarti, dia sudah sedikit jatuh kepadaku?’


‘Tapi di ponsel itu, punya banyak sekali kenangan-’


Kila menggigit kuat bibirnya, dia berusaha menahan desahan saat Rama sudah mulai menggerakan pinggulnya, ‘ini salahmu, Gilang! Ini salahmu karena telah menyerahkanku kepadanya! Aku, tidak akan mundur dari apa yang telah aku mulai, walaupun itu harus mengorbankan perasaanku padamu,’ lanjut Kila membatin, dia meraih keran lalu membungkuk dengan menyandarkan dirinya di sana saat Rama sendiri semakin intens memberikan kenikmatan padanya.


_______________.


Rama menjatuhkan tubuh Kila yang lunglai itu ke ranjang, ‘kenapa? Aku sulit mengendalikan diri jika itu dia … Padahal dulu, melihat wajahnya saja aku-’


“Kak,” panggil Kila dengan napas memburu hampir tak beraturan.


“Jika kita telah selesai melakukannya, aku ingin permisi memberikan makan malam untuk Kak Citra.”


“Setelah ini, aku juga akan mengajaknya berbicara … Aku tidak ingin jika dia mengadu kepada Mamaku di saat kondisi Mamaku seperti sekarang,” ucap Rama dengan mengecup bibir Kila yang berbaring menghadapnya.


Kila melirik ke arah ponsel miliknya yang tenggelam ke dalam air di teko, ‘aku tahu, dia memang sengaja melakukannya,’ batin Kila, matanya turut terpejam membalas kecupan dari Rama di bibirnya.


‘Aku, tidak bisa menolak atau membantah perintahnya. Jika apa yang ia katakan itu benar … Mau tidak mau aku harus membuatnya jatuh cinta sebelum perempuan tua itu hadir. Dia telah menghancurkan kebahagiaanku, aku semakin penasaran saat dia mengetahui rumah tangga menantu kesayangannya menjadi seperti sekarang,’ Kila kembali membatin dengan semakin memperkuat rangkulannya di leher Rama saat Rama melanjutkan kembali permainannya.


________________.


Kila duduk bersandar di sofa sambil menatapi dua orang laki-laki selain Rama yang juga turut ikut duduk di tempat yang sama seperti mereka. Lirikan mata Kila, beralih ke arah Citra yang menatap tajam ke arahnya sebelum duduk di sofa yang lain. “Aku memanggil kalian semua karena ingin mendiskusikan sesuatu,” ucap Rama yang membuka keheningan di antara kami.

__ADS_1


“Aku menikahi Kila, karena permintaan Gilang. Jika kau ingin bersikap seperti ini terus, Citra … Aku telah menyiapkan surat cerai yang bisa kau tanda tangani kapan pun-”


“Apa? Surat cerai?” sautnya memotong perkataan Rama.


“Aku, tetap akan memberikan uang bulanan hingga nantinya kau menikah dengan laki-laki lain-”


“Tunggu, aku Istrimu, Rama! Aku istrimu! Aku perempuan yang kau nikahi secara sah!”


“Dia juga istriku, aku menikahinya secara sah. Aku memberikan pilihan ini kepadamu, karena aku sendiri tidak bisa menceraikannya,” ucap Rama sambil memijat kepalanya sendiri.


Kila menggigit bibirnya saat tatapan matanya itu terjatuh ke sebuah map berwarna yang disodorkan salah satu laki-laki ke arah Citra. “Kenapa aku yang harus mengalah! Aku yang terlebih dahulu bersamamu! Aku!” bentak Citra dengan merobek-robek beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya.


“Apa kau bahagia menghancurkan rumah tangga seseorang! Apa kau bahagia menghancurkan pernikahan kami, perempuan murahan!” geram Citra, dia beranjak dengan menjambak kuat rambut Kila yang saat itu tergerai.


‘Jika kau mengurus rumah tanggamu dengan benar, suamimu tidak akan mudah berpaling … Walaupun, itu kesalahanku yang telah menebar keraguan padanya,’ Kila membatin, sambil berusaha menahan diri walau rasa sakit saat rambutnya dijambak semakin menjadi-jadi.


“Hentikan perbuatanmu, Citra!” Rama membentaknya saat asistennya berhasil menjauhkan Citra dari Kila yang masih tertunduk.


“Kau bertanya, apa aku bahagia menghancurkan rumah tangga seseorang?”


‘Tentu saja, aku bahagia jika itu rumah tanggamu,’ batin Kila dengan mengangkat kembali wajahnya, lengkap dengan air mata yang berusaha ia keluarkan.


“Rumah tanggaku pun hancur, aku paham benar rasanya … Aku juga tidak ingin melakukan ini, aku tidak ingin menjadi orang ketiga di hubungan kalian,” Kila berpura-pura menangis dengan kembali tertunduk sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


“Biarkan aku saja yang menandatangani surat cerai itu, kak. Aku, sudah lelah dipandang murahan oleh keluarga kalian,” sambung Kila, dia mengusap matanya sebelum beranjak berdiri di depan Rama.


__ADS_2