Suami Kedua

Suami Kedua
Jeff Kabur


__ADS_3

David masih bingung dengan kabar yang baru saja ia dapat. Entah ada hubungan apa antara Bryan dengan sekretaris Sean. Tapi setelah itu dia tidak mau ambil pusing. mungkin nanti jika Bryan sudah sadarkan diri, akan menanyakannya langsung.


Tak lama kemudian David kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun sebelumnya dia ingin menghubungi seseorang yang sudah sangat ia percaya untuk menanyakan sesuatu yang sudah ia persiapkan untuk mendapatkan Sean. Sambungan pertama masih belum mendapat respon dari si penerima telepon. Lalu pada sambungan ketiga David baru bisa melakukan perbincangannya.


“Bagaimana? Apakah masih lama?”


“Kamu tenanglah. Bukankah sudah aku bilang, ini membutuhkan waktu yang agak lama. Jika kamu menginginkan hasil terbaik, jadi bersabarlah.”


“Baiklah, aku akan bersabar.”


Setelah itu David memutus sambungan teleponnya. Pria berusia lima puluh tahun itu tersenyum sinis membayangkan rencananya nanti akan berjalan dengan sangat mulus sesuai yang diinginkannya.


***


Setelah pertemuannya dengan Kenzo waktu lalu, Sean kembali menjalin kerjasama dengan perusahaannya. Anggap saja sebagai ganti rugi atas kerjasamanya di perusahaan cabang yang diputuskan secara sepihak oleh pemilik yang baru. Sean sebenarnya ingin memberikan pinalti pada perusahaan Kenzo. namun pria itu menolaknya. Kenzo tidak bisa menyalahkan semuanya pada Sean. Karena memang itu semua musibah. Jadi sebagai gantinya ia meminta menjalin kerjasama lagi.


Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, Sean teringat pesan yang dikirim oleh Xander semalam mengenai Silvia. Dia bahkan sampai lupa kalau efek dari hilangnya perusahaan cabang dari tangannya juga berdampak pada Silvia. Xander menyampaikan kalau sampai saat ini Silvia masih terus berusaha mencari pekerjaan baru. Dan ide yang muncul dalam benak Sean adalah merekomendasikan Silvia ke perusahaan cabang milik Kenzo yang ada di kota B. atau di perusahaan milik Iqbal.


Sean juga akan mengirim gaji Silvia yang belum terbayar. Setidaknya perempuan itu masih bisa mencukupi kebutuhan adik-adiknya selama masih belum dapat pekerjaan.


Sementara dengan Xander, mungkin Sean akan meminta sahabatnya itu datang ke kota ini untuk kembali membantu beberapa pekerjaannya. Walau Sean tahu kalau Xander bisa dengan mudah mencari pekerjaan lain.


Lama berkutat dengan pekerjaannya, Sean bahkan sampai lupa karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang tiba. Pria itu melihat jam tangannya lalu bersiap pulang seperti biasa yaitu makan siang bersama istrinya. Namun belum sempat Sean melangkah keluar ruangannya dia mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya mengenai Jeff.


Anak buah Sean mengatakan kalau Jeff akan bersiap meninggalkan kota ini setelah mengetahui kabar tentang Bryan. Dan sebelum Jeff kabur, Sean harus segera bertindak untuk memberi sedikit pelajaran pada pria itu.


“Baiklah, aku akan segera kesana.” Ucap Sean sebelum mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Amarah Sean kembali meluap saat teringat perbuatan Jeff yang hampir menabrak istrinya dan juga merusak mobilnya agar kecelakaan. Sean meraih kunci mobilnya dan segera menuju tempat yang dimana Jeff berada.


Tak lama kemudian Sean sudah sampai di depan rumah kontrakan kecil yang diyakini sebagai tempat tinggal sementara Jeff selama berada di kota ini. dan tak perlu menunggu waktu lama, Sean mengetuk pintu rumah itu.


Tok tok tok


Cklek


Jeff masih belum menyadari kedatangan Sean, karena pria itu membuka pintu dengan pandangan tertuju pada ponselnya.


Brukk


Sean mendorong tubuh Jef sampai pria itu jatuh dan ponsel dalam genggamannya juga ikut terjatuh.


“Brengs-“


Umpatan yang akan Jeff lontarkan mendadak tertahan saat melihat siapa yang telah mendorong tubuhnya. Amarah yang sudah ada di ubun-ubunnya tadi menguap seketika dan berubah menjadi ketakutan.


Jeff duduk lalu badannya mundur perlahan saat melihat Sean semakin mendekat. Bahkan melihat wajah Sean yang sudah memerah, Jeff sangat yakin kalau pria itu sebentar lagi akan menghabisinya.


“Mau kemana kau?” tanya Sean saat berhasil emncengkeram kerah baju Jeff sambil berjongkok.


“Ampun, Tuan. Maafkan saya.. saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya-“


Bugh


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Sean sudah menghadiahi bogeman mentah pada pipi kiri Jeff. Meskipun Sean tahu kalau Jeff hanya suruhan Bryan, namun dia juga harus memberi pelajaran pada pria itu.

__ADS_1


“Maafkan saya, Tuan.” Mohon Jeff sambil menelungkupkan kedua tangannya.


Bugh


Sean kembali memberi bogem mentah pada pipi kanan Jeff. “Seenakanya saja minta ampun setelah apa yang telah kamu lakukan pada aku dan istriku, hah?” bentaknya.


“Tap..tapi saya hanya disuruh seseorang, Tuan.”


Sean menraik tubuh Jeff agar berdiri. Namun cengkeraman tangannya pada kerah baju Jeff belum terlepas. “Apa kamu tahu karena ulahmu, istriku sampai kehilangan janinnya?” tanyanya.


Jeff menggelengkan kepala sekaligus terkejut. Pria itu benar-benar ketakutan melihat wajah Sean. Bahkan ini adalah pertama kali baginya melakukan tindak kejahatan karena alasan ekonomi.


“Ampun Tuan, maafkan saya. saya tidak tahu.” Berulang kali Jeff mengucapkan kalimat yang sama.


“Jika hanya satu kali saja kamu menuruti kemauan si berengsek itu, mungkin aku akan memaafkanmu. Tapi tidak, setelah kamu kembali berulah merusaka mobilku dan hendak mencelakai aku dan anak istriku.”


Lagi-lagi Jeff terkejut mendengarnya. Pasalnya dia sudah bekerja sebaik mungkin saat akan merusak mobil Sean saat di mall dulu. Bahkan dia juga sudah menghilangkan rekaman cctv yang menangkap perbuatannya. Ternyata kini ia sadar kalau lawannya bukan orang sembarangan.


“Apa kamu tahu kalau boss kamu saat ini sedng sekarat? Setidaknya kamu juga harus mersakan hal yang sama dirasakan oleh Bryan.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


 


__ADS_2