Suami Kedua

Suami Kedua
Jalan-jalan


__ADS_3

Usia kandungan Lidia saat ini sudah lima bulan. Berdasarkan pemeriksaan terakhir, jenis kelamin calon buah hatinya itu adalah laki-laki. Lidia sangat bersukur karena janinnya tumbuh dengan sehat. Begitu juga dengan si ibu yang menunjukkan perkembangan berat badan yang normal.


Di usia kandungannya itu Lidia sedikit kualahan mengasuh Viana yang semakin aktif. Selain Bibi Anne yang membantu untuk mengasuhnya, Silvia pun juga ikut bergantian mengasuh. Sementara Xander sibuk dengan pekerjaannya.


Selama tinggal di luar negeri, Xander juga masih memantau perusahaan cabang milik Sean. Dia juga tahu perusahaan pusat masih dipegang oleh Sean. Hanya saja sampai saat ini Xander tidak bisa melacak keberadaan Sean meski sahabatnya itu masih memimpin perusahaannya sendiri. Bahkan Xander tidak tahu kalau perusahaan pusat sudah menjadi milik David. Yang Xander tahu saat ini Sean berada di luar negeri, tapi tidak tahu di negera mana.


Kemampuan Xander yang hampir sama dengan Sean pun tidak bisa menembus informasi mengenai sahabatnya. Entah apa yang terjadi dengan Sean hingga sampai saat ini tak kunjung datang untuk menjemput istrinya.


“Semoga kamu selalu baik-baik saja, Sean!” gumamnya sambil menatap layar laptop di depannya.


Selama tidak bisa mendapatkan informasi tentang Sean, Xander pun memilih fokus dengan kantor cabang yang memang selama ini sangat sibuk. Bahkan Xander telah melewatkan satu email dari seseorang yang telah dikirim beberapa bulan yang lalu. Dan saat ini dia baru sempat membukanya.


Pengirim email itu adalah Erick. Mungkin Xander hanya melihatnya saja sekilas saat itu tanpa membukanya. Dia pikir Erick mengirim email hanya untuk urusan pekerjaan. Lagipula kalau sangat urgent, pria itu pasti menghubunginya lagi.


Klik


Xander membuka email yang dikirim oleh Erick.


“Tuan, kantor pusat baru saja meeting dengan dihadiri langsung oleh Tuan Sean. Namun saya heran saat Tuan Sean mengatakan kalau saat ini Tuan Sean bekerjasama dengan perusahaan Tuan David. Dan usai meeting, diam-diam Tuan Sean memberikan catatan kecil untuk diberikan pada Nona Marsha. Saya harap anda berhati-hati dengan rekan bisnis Tuan Sean yang dulunya adalah lawan bisnis Tuan Billal.”


#Flasback On


Sean berusaha tenang saat anak buah David masuk ke dalam ruangan dimana hanya ada dirinya dan sekretarisnya yaitu Erick. Sean masih menyimak pemaparan Erick mengenai laporan bulanan perusahaan. Padahal diamnya Sean sedang memikirkan cara untuk menyematkan catatan kecil pada laporan Erick.


Sean tampak semakin gusar kala David selesai melakukan panggilannya dengan seseorang. Pria itu segera bergabung duduk bersama Sean dan Erick.

__ADS_1


Lama mendengar penjelasan hasil laporan bulanan, David sedikit bosan. Dia pun segera mengakhirinya. Dan memilih beranjak terlebih dulu. Dan saat itulah Sean sengaja menjatuhkan lembaran kertas yang diberikan oleh Erick.


“Maaf-maaf.” Ucap Sean lalu memungut lembaran kertas yang jatuh berserakan di lantai.


David hanya melirik sekilas. Dengan cepat Sean mengambil catatan kecil yang sudah ia kantongi sejak tadi, dan diberikan pada Erick.


Erick yang awalnya tidak mengerti apa-apa, seketika bisa membawa diri dan berusaha bersikap biasa saja.


#Flashback Off


Xander benar-benar terkejut saat membaca email itu. Dia sangat menyesal karena melewatkan berita penting dari Erick. Lantas Xander segera menghubungi Leon untuk menanyakan hal tersebut. Lebih tepatnya pada Marsha. Karena dia tidak mempunyai kontak Marsha.


Sialanya lagi sejak tadi Xander masih kesulitan menghubungi Leon. Mungkin pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Tok tok tok


Xander melihat pintu kamar terbuka dan memunculkan sosok Chandra yang berlari ke arahnya.


“Ada apa, Chan?”


“Om, temani Chan jalan-jalan yuk. Mama tadi bilang adik Chan yang di dalam perut Mama ingin makan es krim.”


Xander pun segera menutup laptopnya. Dia teringat dengan Lidia yang sedang hamil. Pasti dia sedang ngidam makan es krim. Kepedulian Xander pada Lidia hanya karena pesan yang dititipkan oleh Sean. Dan juga karena rasa kemanusiaan.


“Ayo kita pergi jalan-jalan!” ajak Xander pada Chandra.

__ADS_1


Xander keluar kamar lalu meminta Silvia segera bersiap. Tidak mungkin dia meninggalkan kekasihnya begitu saja. Silvia hanya mengangguk patuh lalu berganti pakaian.


Kini Xander sudah bersiap mengajak Chandra, Viana, Lidia, dan juga Silvia untuk pergi jalan-jalan. Mereka menaiki mobil milik Jonathan. Sedangkan Fredy memilih tetap di rumah saja.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di sebuah taman bermain yang ada di pusat kota. Taman itu tidak diperuntukkan untuk anak-anak saja, melainkan untuk semua kalangan.


Xander memilih tempat duduk yang yang bisa menampung banyak orang. Karena dirinya saat ini tidak sedang berkencan.


Banyak orang-orang yang menikmati weekend mereka sore itu. Chandra pun sangat antusias dan bisa bermain sepuasnya. Begitu juga dengan Viana. Namun Viana masih terus berada dalam pantauan Silvia.


“Kalian tunggu disini saja, biar aku belikan es krim.” Ucap Xander, lalu meninggalkan Silvia dan Lidia.


Xander kembali ke tempatnya sambil membawa beberapa cup es krim di tangannya. namun hanya ada Lidia yang duduk di sana. Karena Silvia sedang mengejar Viana yang tampak berlari-lari.


“Makanlah dulu, kata Chandra kamu ingin sekali makan es krim.” Ucap Xander lalu memberikan satu cup es krim untuk Lidia.


Karena fokus dengan orang-orang yang berlalu-lalang, tangan Lidia tidak tepat menerima es krim itu. Alhasil es krimnya tumpah ke bajunya. Xander pun reflex membersihkan noda es krim seolah seperti mengusap perut buncit Lidia.


Silvia menatap nanar kegiatan kedua orang itu.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2