
“Iya. Eh… maksudku wajah kamu berbeda saat masih kecil.” Feby semakin gelagapan.
Sedangkan Chandra hanya tersenyum tipis menanggapinya. Dia juga tidak melanjutkan pembicaraannya karena mobil yang ia kemudikan kini sudah sampai di sebuah restaurant.
“Kita mau kemana?” tanya Feby.
“Lah. Kita kan berhenti di restaurant. Tidak mungkin kan antre sembako. Ya makan malam lah. Ayo!” jawab Chandra.
Feby akhirnya keluar mobil dan berjalan mengekor di belakang Chandra. Mereka berdua duduk di salah satu tempat yang paling sudut dengan pemandangan keramaian kota. Kebetulan juga mereka memilih tempat yang ada di lantai dua.
Seorang pelayan datang memberikan buku menu lalu mencatat pesanan Chandra dan Feby. Setelah itu mereka diminta untuk menunggu sebentar.
“Nih, ponsel kamu!” Chandra menyodorkian sebuah paper bag pada Feby.
Feby langsung menyambutnya dengan senyuman karena ponselnya sudah kembali lagi, walau keadaannya rusak.
“Loh! Ini bukan ponselku. Ini ponsel baru.” Ucapnya dengan nada kecewa lalu mengembalikan lagi pada Chandra.
“Iya, itu memang ponsel baru. Ponsel kamu rusak kan? Jadi aku ganti yang baru.”
“Tidak perlu diganti, Chan. Aku nggak butuh ponsel baru. Aku hanya perlu isi ponsel itu. Jadi buat apa juga yang baru. Aku sudah punya. Lagipula kenapa kamu menggantinya?” Tolaknya dengan halus.
“Bukalah dulu!” perintah Chandra kemudian.
Feby pun mengaktifkan ponsel berlogo buah itu. Kemudian dia melihat isinya. Betapa terejutnya dia saat melihat salinan semua data dalam ponselnya yang lama sudah ada di ponsel baru itu. Bahkan folder dan foto-fotonya juga masih lengkap. Tidak ada yang hilang sedikitpun. Namun ada sesuatu yang meengganjal hati Feby. Bagaimana bisa Chandra memindahkan semua data itu. Eh ralat. Bisa saja Chandra memindah data itu, tapi apakah laki-laki itu juga membuka semua foto-fotonya.
“Kamu yang memindahkan semua data ini?” tanya Feby.
“Iya. Dulu aku hanya ingin mengecek kerusakannya saja. Lalu aku lihat ternyata sangat parah rusaknya. Jadi sebelum semua data kamu hilang, aku pindahkan terlebih dulu.”
“Ehm, apakah kamu melihat semua isi data di ponselku, termasuk fot-“
“Kamu tenang saja. Aku hanya memindahkannya saja. Aku tahu privasi.” Ucapnya berbohong.
__ADS_1
Feby tampak lega setelah mendengar jawaban Chandra. Rasanya dia tidak punya muka kalau saja Chandra melihat foto-foto seksinya yang sengaja ia buat untuk koleksi pribadi.
“Terima kasih. Tapi nggak seharusnya kamu gantiin ponselku. Kan saat itu aku yang salah.” Ucap Feby merasa tak enak.
“Nggak apa-apa. Terima saja. Anggap itu hadiah dari pertemuan kembali kita.” Jawab Chandra santai.
“Tapi ini berlebihan, Chan.” Ucapnya sambil menyodorkan ponsel itu pada Chandra.
Chandra memegang ponsel itu. “Kalau kamu balikin, berarti aku bebas buka semua isinya? Dan aku bisa-“
“Baiklah. Aku terima ponsel ini. terima kasih.” Jawab Feby dengan cepat dan meraih ponsel itu kembali.
Chandra mengulas senyum tipis tanpa Feby tahu. Entah kenapa Chandra sangat suka mejaili perempuan yang dulu menjadi teman masa kecilnya itu.
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Chandra dan Feby segera menyantap makanan mereka tanpa berbicara lagi. Feby makan sambil menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sementara Chandra makan sambil sesekali melihat wajah cantik Feby.
Usai makan malam mereka berdua masih ngobrol ringan. Feby juga meminta maaf atas sikapnya yang saat itu tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju Chandra. Feby juga sudah sedia mengganti rugi atas kesalahannya itu.
“Iya. Sekali lagi aku minta maaf. Bukannya kamu dulu bilang kalau baju itu pemberian cewek kamu, sepertinya kamu juga sangat kecewa saat itu”
Chandra tergelak mendengar penuturan Feby. Rupanya perempuan itu percaya dengan ucapannya. Karena sebenarnya Chandra tidak mempunyai cewek.
“Aku hanya bercanda. Karena aku hanya ingin mengetes kamu saja, masih ingat nggak sama aku. itu baju dibelikan Mama kok, aku juga belum punya cewek.” Jawab Chandra.
“Oh belum punya cewek?” ucap Feby merasa sedikit lega.
“Memangnya kenapa kalau aku belum punya cewek? Apa kamu mau daftar?” goda Chandra.
“Eh.. mana ada seperti itu. Kamu masih seusia Fico. Lebih belajar dulu sana yang rajin. Jangan pacaran mulu yang dipikirin.” Ucapnya sok bijak seperti saat dia memberi nasehat pada adiknya.
Lagi-lagi Chandra hanya tersenyum menanggapi. Akhirnya perlahan komunikasi mereka kembali terjalin seperti dulu. Feby juga sudah tidak secanggung tadi.
Karena waktu sudah malam, terpaksa mereka segera mengakhiri makan malam itu. Dan segera pulang. Chandra melajukan mobil Feby menuju rumahnya. Dia tidak membiarkan Feby pulang sendirian saat malam seperti ini.
__ADS_1
“Lalu bagaimana kamu nanti pulangnya, Chan?”
“Apa aku boleh menginap?” godanya sambil mengerlingkan matanya.
“Sorry, aku hanya bercanda. Nanti aku bisa naik taksi.”
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah sampai depan rumah Feby. Chandra juga segera memesan taksi online.
“Ya sudah aku pulang dulu. Sampai jumpa lagi besok di kantor Om Kenzo. maaf aku nggak bisa mampir.” Pamit Chandra sebelum masuk taksi.
“Iya. Nggak apa-apa. Terima kasih ponselnya.” Ucap Feby.
Chandra mengusap kepala Feby sejenak sebelum masuk taksi.
.
.
.
*TBC
Ya ampyunnn Chan, kamu bikin salting bgt sih padahal masih sweet seventeen😂😍😍
Happy Reading‼️
__ADS_1