Suami Kedua

Suami Kedua
Saling Tertarik


__ADS_3

Jantung mereka berdua saling berdegup dengan cepat. Kedua mata saling mengunci dalam dan seolah saling menghipnotis. Mereka berdua sama-sama saling tertarik namun sama tak saling mengungkapkan. Karena mereka juga belum tahu apa nama perasaan itu. Feby menolak jika hatinya tertarik pada sosok Chandra yang usianya empat tahun lebih muda darinya. Dia tidak mungkin jatuh cinta pada laki-laki yang pantas jadi adiknya itu.


Sedangkan Chandra, laki-laki itu tertarik dengan Feby namun dia juga menyangkalnya karena takut jika perasaannya itu hanya sementara. Mengingat selama ini dirinya tidak pernah dekat dengan perempuan lain. Jadi ia menyimpulkan bahwa itu hanya obesesi saja.


Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu. Kaki Feby yang sempat sakit kini sudah tidak terasa lagi. bahkan dengan tidak tahu malunya ia merasa sangat nyaman.


Hembusan nafas hangat saling menyapu wajah mereka. Chandra memberanikan diri lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Feby. Karena ada sedikit jiwa nakal Chandra yang ingin mengecup bibir merah muda milik Feby. Sedangkan Feby juga seperti sudah siap menerima itu semua.


Tok tok tok


Mereka berdua terkesiap mendengar ketukan pintu dari luar. Chandra segera menjauhkan wajahnya yang sudah memanas karena hampir saja mencium Feby. Dan Feby juga merasakan hal yang sama.


“Maaf. Apa kaki kamu masih sakit?” tanya Chandra.


“Nggak. Aku nggak apa-apa. Lebih baik kita lihat siapa yang mengetuk pintu.”


Cklek


Chandra membuka pintu dan muncul sosok Kenzo yang berdiri tepat di depan pintu.


“Om Kenzo!” ucap Chandra sedikit terkejut.


Tak lama kemudian Feby ikut muncul di belakang Chandra. “Papa?” ucapnya terkejut.


“Papa cari kalian ternyata masih ada di sini. dan kenapa pintunya pakai dikunci segala?” tanya Kenzo lalu melangkah masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


“Tadi Chan memang sengaja menguncinya Om agar tidak ada orang yang masuk begitu saja dan memecah konsentrasi Chan yang sedang fokus. Maaf jika membuat Om tidak nyaman.” Jawab Chandra.


“Oh begitu. Tidak apa-apa, Chan. Lalu bagaimana hasilnya?” lanjut Kenzo.


Kini Feby yang menjawab kalau sejak tadi Chandra tidak bisa menemukan hasil pencariannya. Lalu ia mengatakan sesuai dengan permintaan Chandra yaitu meminta data pribadi semua karyawan yang ada di kantor pusat dan kantor cabang. Sebenarnya Chandra hanya membutuhkan alamat email mereka, namun tidak mungkin jika memintanya secara langsung seperti itu.


“Chan tahu kalau itu sangat rahasia dan memang aturan perusahaan seperti itu Om. Tapi Chan ingin meretas masing-masing akun mereka. Karena itu jalan satu-satunya.” Terang Chandra untuk memperkuat argument Feby.


Kenzo masih tampak berpikir. Bukan dia tidak percaya dengan Chandra, hanya saja memang sedikit sulit jika meminta data karyawan secara mendadak seperti sekarang. karena karyawan bagian HRD memang benar-benar bersikap tegas, walau atasan mereka yang memintanya.


“Baiklah. Nanti usai makan siang, kamu datanglah ke ruangan Om. Sekarang Om akan meminta karyawan bagian HRD untuk memberikan data semua karyawan. Sekarang kalian berdua istirahatlah dulu.” Pungkas Kenzo.


“Tapi, Pa. pekerjaan Feby juga masih belum selesai tadi.” ucap Feby berusaha menghindar agar tidak berduaan lagi dengan Chandra yang akan membuat jantungnya tidak sehat.


“Nggak apa-apa. Kamu juga sejak tadi menemani Chandra di sini. sekarang kalian istirahatlah sekaligus makan siang. Maaf Chan, Om tidak bisa menemani.”


“Ayo!” ajak Chandra.


Tanpa menjawab, Feby berjalan mengekor di belakang Chandra. Perempuan itu masih berusaha menormalkan jantungnya setelah kejadian beeberapa saat tadi.


“Kita makan di kantin kantor atau di luar saja?” tanya Chandra saat mereka sudah berada dalam lift.


“Keluar saja. Lebih nyaman. Maksudku, aku belum terbiasa makan di kantin kantor.” jawab Feby.


“Baiklah. Terserah kamu saja nyamannya dimana.”

__ADS_1


Mereka berdua makan siang di sebuah restaurant yang tak jauh dari kantor. karena Chandra tadi berangkat bersama ayahnya, jadi dia menggunakan mobil Feby.


Sementara itu di ruangan Kenzo, tampak seorang karyawan HRD tengah duduk di hadapan atasannya. Kenzo sudah mengatakan maksudnya yaitu meminta data semua karyawan. Namun karyawan yang bernama Hengki itu masih diam belum mengiyakan permintaan atasannya.


Meskipun Hengky masih ada hubungan kekerabatan dengan Kenzo dan sudah lama bekerja di perusahaan itu, namun dia masih bersikap professional. Terlebih dengan urusan seperti sekarang ini.


Dulu memang Kenzo lah yang membuat peraturan bahwa semua data karyawannya bersifat pribadi dan tidak seorang pun bisa memintanya. Dan sekarang Kenzo sendiri yang melanggar aturan itu, jadi Hengky masih memikirkannya.


“Tapi, Tuan. Anda sangat tahu kalau tidak semudah itu saya memberikan data itu. Meskipun anda atasan saya.” ucap Hengky.


Kenzo menghela nafsanya pelan. Apakah lebih baik dia menceritakan semua masalah perusahaan pada pria yang usianya hampir sama dengannya itu. Walau sebenarnya itu bukan ranah Hengky, karena dia punya tugas sendiri.


“Bagini, Ky. Aku bicara sebagai saudara saja. Bukan layaknya atasan dan bawahan. Akhir-akhir ini perusahaan sedang mengalami masalah. Namun menemui jalan buntu dalam mengatasinya. Dan jalan satu-satunya, aku ingin meminta semua data karyawan.” Ucap Kenzo.


“Apakah itu berarti kamu mencurigai salah satu dari mereka?”


“Bisa dibilang seperti itu. Tapi aku mohon jangan sampai ada yang tahu tentang ini.”


“Baiklah. Aku akan memberikanya. Tapi tidak hari ini.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2