
Ternyata Tuan Kenzo tidak bisa diajak bertemu untuk membahas masalah pekerjaannya saat makan siang nanti. Justru pria itu menginginkan makan malam di rumahnya langsung sekaligus mengajak anak istrinya. Sean justru sangat senang. Kemudian dia menghubungi Lidia agar mempersiapkan segalanya.
Sean kembali berkutat dengan beberapa proposal dan berkas-berkas lainnya yang membutuhkan tanda tangannya, sekaligus mengeceknya ulang. Beruntungnya hari ini tidak ada meeting penting. Karena siang ini dia akan pulang dan makan siang di rumah.
Sebelum jam makan siang tiba, Sean mengambil beberapa informasi penting tentang Jeff. Setelah itu dia menyuruh anak buahnya untuk mencari pria itu. Sedangkan pria yang bernama Ricky, Sean masih butuh waktu untuk menggali informasinya. Karena pria itu sangat misterius. Dan hanya satu yang Sean ketahui, pria itu tidak bekerja di rumah sakit dimana dulu Lidia pernah periksa disana.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sean keluar dari ruangannya. Dia berpapasan dengan Erick, sekretarisnya.
“Aku akan makan siang di rumah, Rick. Kalau ada hal penting hubungi aku saja.” Pamitnya.
“Baik, Tuan.”
Cuaca akhir-akhir ini memang sedikit kurang bersahabat. Saat mobil Sean baru saja keluar dari area perkantorannya, hujan sudah mulai turun mengguyur jalanan kota yang sedang padat-padatnya kendaraan yang melintas. Perjalanan Sean yang harusnya hanya lima belas menit sampai rumah, kini menjadi tiga puluh menit, lantaran kemacetan di jalan saat tengah hujan.
Sean memasuki rumahnya segera menuju ruang makan. Disana terlihat sang istri dan Chandra sedang makan siang berdua. Sedangkan Viana bersama baby sitternya di kamar lantai satu.
“Duh mesranya yang lagi makan siang berduaan!” ucap Sean lalu ikut duduk bergabung.
“Memangnya nggak boleh kalau Chan berduaan sama Mama? Chan hanya ingin melindungi Mama. Ya kan, Ma?”
Lidia tersenyum mengangguk. Sungguh dia terenyuh dengan ucapan Chandra yang menurutnya sangat dewasa di saat usianya masih terlalu kecil. Semua itu karena Chandra melihat sendiri kenyataan dan masalah yang akhir-akhir ini menimpa keluarganya.
__ADS_1
Sean mengacak gemas rambut Chandra. Sedangkan Chandra sendiri tampak biasa saja dan kembali melanjutkan makannya. Lidia berdiri mengambilkan makan untuk suaminya. Sean menerimanya dengan senang hati.
“Sayang, jangan lupa nanti persiapkan jamuan makan malam untuk Tuan Kenzo!”
“Jangan khawatir, aku tadi sudah bilang pada Bi Rani. Apakah Tuan Kenzo bersama istrinya saja?”
“Sepertinya sekalian mengajak anak-anaknya. beliau tahu kalau anak-anaknya dan anak kita sudah saling kenal. Mungkin karena itulah Tuan Kenzo juga mengajak anaknya.” jawab Kenzo.
Selesai makan siang, Lidia mengajak Chandra masuk dulu ke kamarnya. Karena Chandra juga butuh istirahat. Anak itu selalu menurut dan tidak pernah membangkang. Bahkan Fredy saja sangat senang saat mengajari Chandra, terlebih saat latihan ilmu bela diri. Chandra begitu semangat.
Sean masih duduk di ruang makan. Dia baru saja menyelesaikan makan siangnya. Karena tadi dia makan yang paling akhir. Tangannya meraih ponsel dari balik saku jasnya untuk melihat apakah ada pesan dari Erick. Ternyata tidak. Lalu dia memasukkan kembali ponselnya dan beranjak menuju kamarnya.
Sean memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. pekerjaan setelah jam makan siang bisa dia handle dari rumah saja. Namun saat memasuki kamarnya, pria itu kesusahan menelan salivanya saat melihat istrinya sedang menutup pintu balkon karena hujan semakin deras. Tidak hanya itu, baju santai yang dipakai Lidia untuk tidur siang benar-benar sangat menggoda.
Arghhh
Lidia memekik saat ada lengan kekar memeluknya dari belakang. Kemudian memutar tubuhnya dengan cepat hingga menjadi posisi berhadapan. Sean langsung mendaratkan ciuman panasnya ke bibir Lidia sambil kedua tangannya mere-mas kuat pantat Lidia.
Lidia tidak menyangka kalau suaminya akan menyerangnya. Biasanya pria itu akan kembali lagi ke kantor usai makan siang. Dan jarang sekali berpamitan kalau memang dirinya sedang berada di kamar Chandra maupun Viana.
“Sayang, kamu sengaja menggodaku siang ini?” tanya Sean setelah melepas pagutannya.
__ADS_1
“Nggak. Aku memang memakai baju seperti ini jika akan tidur siang.” Jawabnya dengan nafas terengah.
Sean kembali memagut bibir Lidia dengan posisi yang masih sama. Lalu perlahan berjalan mendekati ranjang tanpa melepas pagutan itu. Kini posisi mereka sudah berada di atas ranjang. Lidia berada dalam kungkungan Sean. Dengan cepat tangan Sean menelusup masuk ke dalam baju istrinya untuk mencari sesuatu yang begitu memabukkan. Setelah mendapatkannya, kedua tangan Sean mere-masnya lembut hingga membuat Lidia terbuai. Tak lama kemudian keduanya sudah sama-sama tak memakai sehelai benang dan bersiap melanutkan kegiatan panasnya.
“Sayang, pimpinlah permainan ini!” ucap Sean dengan suara seraknya.
Lidia yang sudah terbiasa dengan hal itu, dia sudah tidak malu-malu lagi untuk menuruti kemauan suaminya. perlahan dia mengubah posisinya. Sebelum menaiki tubuh sang suami, Lidia terlebih dulu memanjakan senjata kesayangan milik Sean. Setelah dirasa cukup, dia segera naik dan mencari posisi ternyaman.
“Kamu semakin pintar ternyata.” Pujinya pada wanita yang sedang duduk di atas tubuhnya dengan dua buah besar menggantung siap lahap.
“Kamu juga yang menjadikanku pintar.” Jawab Lidia sebelum bergerak erotiss memberi dan mencari kenikmatan.
.
.
.
*TBC
Happy anu😂✌️
__ADS_1
Happy Reading‼️