Suami Kedua

Suami Kedua
Tidak Asing


__ADS_3

Chandra juga dibuat terkejut lagi saat kelulusannya disambut oleh keluarga Iqbal. ternyata mereka di restaurant itu sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan. Dan itu semua juga sudah direncanakan oleh Jenny dan Iqbal.


Tampak Daniel, sepupu Chandra lebih dulu menghampirinya lalu memeluknya dan memberikan ucapan selamat. Daniel yang sama-sama menempuh pendidikannya di universitas yang sama dengan Chandra tahun ini juga lulus. Hanya saja jadwa sidang skripsinya masih minggu depan.


Semua orang sudah berkumpul di private room. Hanya Gita saja yang tidak hadir dalam acara itu karena memang tidak bisa pulang lantaran sedang hamil muda anak keduanya.


Keluarga Sean dan Iqbal sangat bahagia menikmati momen kebersmaan ini. mereka berharap anak-anaknya tetap rukun sampai nanti.


Sambil menikmati hidangan, mereka juga terlibat pembicaraan ringan. Namun kali ini membahas masalah Viana yang sebentar lagi akan lulus dari bangku sekolah menengah atas. Ada raut wajah tidak suka dari Lidia saat membahas keinginan Viana setelah lulus nanti. Pasalnya Viana sebelumnya sudah mengatakan pada Mama dan Ayahnya kalau setelah lulus nanti akan sekolah modeling di kota ini. seperti biasa, Lidia adalah orang pertama yang menolak keinginan anaknya.


“Nggak apa-apa lah, Ma. Lagi pula Chan kan akan tinggal di sini.” ucap Chandra membela adiknya.


“Mama nggak masalah jika tinggalnya di sini Bersama kamu. Yang membuat Mama nggak setuju itu kenapa harus modelling yang Viana pilih? Mama nggak suka anak perempuan Mama satu-satunya berlenggak-lenggok di atas panggung dengan memamerkan lekukan tubuhnya.” Lidia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


Viana yang menjadi topik bahasan hanya diam saja tidak berani berkomentar. Memang susah menjelaskan semua ini pada Mamanya. Dia tahu maksud Mamanya melarang menjadi model, pasti karena pergaulannya.


“Vian janji, Ma kalau Vian tidak akan mengecewakan Mama dan Ayah. Ini cita-cita Vian dari dulu.” Viana bersuara sambil menundukkan kepala. Suaranya yang lirih membuat semua orang tahu kalau gadis itu sedang menahan kesedihannya.


Sementara keluarga Iqbal hanya bisa diam saja. Mereka juga tidak keberatan jika Viana nanti harus tinggal di rumahnya seperti Chandra. Namun untuk keputusannya sekolah modelling, baik Iqbal maupun Jenny tidak berani ikut campur.

__ADS_1


“Baiklah. Ayah mengijinkan kamu sekolah modelling.” Ucap Sean tiba-tiba.


Lidia menatap horror suaminya. biasanya Sean akan mengikuti keputusannya. Tapi kenapa sekarang tidak. Lidia semakin kesal melihat suaminya.


“Tapi ada syaratnya.” Lanjut Sean.


“Apa Yah syaratnya? Vian janji akan mengikuti syarat dari Ayah.” Jawabnya dengan nada suara yang berbeda.


“Kamu harus tinggal Bersama Om Xander da Tante Silvia. Dan semua kegiatan kamu akan diawasi oleh Om Xander.” Jawab Sean.


Viana menelan ludahnya kasar. Dia sangat tahu bagaimana karakter Omnya itu. Tapi demi cita-citanya, akhirnya Viana mau dan menyetujui syarat yang diajukan oleh Ayahnya. Lidia juga tampak merasa lega setelah mendengar syarat dari suaminya. setidaknya dengan diawasi oleh Xander, anak perempuannya itu tidak akan salah pergaulan.


Setelah perdebatan kecil itu, suasana tampak kembali mencair. Mereka melanjutkan makan.


Chandra keluar dari private room itu lalu berjalan menuju toilet. Toilet itu terbagi menjadi dua yaitu toilet khusus pria dan wanita. Bahkan letaknya bersebalahan. Saat Chandra akan memasuki toilet pria, tanpa sengaja netranya melihat seorang perempuan yang baru saja keluar dari toilet wanita.


Deg


Meskipun hanya sekilas dan posisi wanita itu sedang menunduk karena seperti sedang mencari sesuatu dalam tasnya, namun Chandra merasa tidak asing dengan perempuan itu.

__ADS_1


Chandra berbalik badan dan mengikuti perempuan itu. Suasana restaurant juga tampak ramai. Chandra berjalan dengan terburu-buru. Begitu juga dengan perempuan itu yang sudah keluar restaurant lalu memasuki sebuah mobil.


“Feby? Apa benar dia Feby?” gumamnya lirih.


Postur tubuh perempuan itu memang sangat mirip dengan Feby. Ya, meskipun sudah lama Chandra tidak bertemu dengan Feby, namun masih ingat jelas dengan postur tubuh perempuan itu. Tapi setelah itu Chandar menyangkal kalau dia bukan Feby. Karena yang ia tahu Feby tinggal di luar negeri bersama suaminya. jadi tidak mungkin dian tinggal di kota ini.


Semenjak kuliah di kota ini, Chandra sama sekali tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Entah karena ingin fokus dengan pendidikannya atau memang hatinya belum bisa berpaling dari perempuan yang sudah menjadi istri orang. Meskipun tidak pernah mengetahui kabar tentang Feby, namun Chandra sering mendengar dari Fico kalau kakaknya selama tinggal di luar negeri tidak pernah pulang sama sekali.


“Ah… nggak mungkin. Dia bukan Feby.” Sekali lagi Chandra menepis pikiran buruknya. Dia berharap Feby hidup bahagia dengan suaminya. walau hatinya masih sulit melupakan sosoknya sampai saat ini.


Setelah itu Chandra pergi ke toilet sesuai dengan niat awalnya tadi. tak jauh dari toilet wanita, netra Chandra menatap sebuah kartu tanda pengenal yang tampak terjatuh di lantai. Semoga feelingnya tidak meleset kalau kartu itu pasti milik perempuan tadi.


Chandra mengambilnya lalu menyimpannya ke dalam saku.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2