Suami Kedua

Suami Kedua
Ganti Baju


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan Xander pada adik-adik Silvia, lebih tepatnya calon adik iparnya, hari ini Xander datang ke rumah Silvia untuk mengajak mereka jalan-jalan. Kebetulan hari ini weekend. Jadi Deva dan Angel libur.


Pagi-pagi sekali Xander sudah datang ke rumah Silvia. Pria itu bangun sangat pagi dan bergegas mandi, lalu berangkat ke rumah Silvia.


Sejak semalam Xander sulit tidur walau badannya merasa lelah setelah perjalanan jauh. Entahlah. Mungkin karena dia sudah terbiasa tinggal satu rumah dengan Silvia saat di luar negeri, jadi seperti ini lah efeknya. Beberapa jam tidak melihat wajah sanga kekasih sudah membuat Xander galau akut. Rasanya ingin secepatnya Xander menikahi Silvia. Agar setiap hari bisa memandang wajah cantik Silvia dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.


Sedangkan Silvia sendiri yang sejak pagi sudah bangun tampak terkejut saat mendengar ketukan pintu dari luar rumahnya. Dengan masih mengenakan pakaian khas rumahannya, Silvia membukakan pintu.


Cklek


“Xander?”


“Selamat pagi!!” balasnya sambil tersenyum tipis.


Namun beberapa saat kemudian senyum itu pudar lantaran melihat penampilan Silvia yang memakai daster pendek di atas lutut. Hingga menampakkan tubuh seksinya.


“Ada apa?” tanya Silvia bingung.


Tanpa menjawab, Xander segera mendorong Silvia masuk dan menutup kembali pintu rumahnya. Silvia lebih terkejut lagi saat Xander mendorongnya masuk ke dalam kamar. wajah Silvia memerah takut jika Xander berbuat sesuatu padanya.


Bruk


Xander mendorong tubuh Silvia hingga terjatuh ke atas ranjang. Namun tatapan matanya sangat dalam pada Silvia yang sedang kebingungan sekaligus ketakutan.


“Mau ganti baju atau aku akan melakukannya sekarang?” tanyanya sambil melirik pa-ha mulus perempuan itu.


Silvia terkejut. Akhirnya dia mengerti.

__ADS_1


“Maaf! Baik. Aku akan ganti baju sekarang. kamu bisa keluar dulu kan?”


“Kenapa aku harus keluar? Kamu bisa ganti di kamar mandi bukan?”


“Tapi. Nanti ada yang lihat-“


“Atau aku akan melakukannya sekarang juga?”


Lagi-lagi ancaman Xander membuat Silvia kelabakan. Perempuan itu segera mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. sedangkan Xander masih setia menunggu sambil duduk di bibir ranjang.


Beberapa saat kemudian Silvia sudah berganti baju yang lebih sopan dari sebelumnya.


“Aku sudah selesai. lebih baik kita segera keluar. Nanti Deva dan Angel lihat kita. Aku nggak enak sama mereka.” Ucapnya halus.


Bukannya beranjak dari duduknya, Xander justru menarik tubuh Silvia hingga terduduk di atas pangkuan Xander. Pria itu memeluk erat tubuh Silvua sambil mengendus aroma tubuhnya yang sangat menenangkan.


“Sayang, aku ingin segera memilikimu.” Ucapnya dengan suara parau.


“Kita bicara di dapur saja sekalian temani aku masak.” Ucapnya sambil menarik tangan Xander.


Waktu masih terlalu pagi. kedua adik perempuan Silvia masih tidur. Sedangkan Vano sudah berangkat pagi-pagi sekali karena sudah mendapat orderan. Lalu pembantu yang selama ini memenuhi kebutuhan adik-adik Silvia sengaja diliburkan.


“Jadi kapan kamu siap menikah?”


“Jangan terburu-buru. Kita pikirkan dulu sampai benar-benar matang. Bukankah kamu juga masih ada tanggung jawab untuk mengurus perusahaan Tuan Sean yang ada di kota J?” jawab Silvia sambil membuatkan kopi untuk Xander.


Xander menghela nafasnya panjang. Memang benar jika ia masih mempunyai tanggung jawab yang diberikan oleh Sean. Namun dirinya juga ingin segera meresmikan hubungannya.

__ADS_1


“Minumlah dulu!” Silvia memberikan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap dengan aroma yang begitu sedap.


Silvia ikut duduk berhadapan dengan Xander. Pria itu menikmati kopi buatan calon istrinya sekaligus disuguhi wajah manis nan cantik dari si pembuat kopinya. Seketika rasa galau Xander memudar.


“Terima kasih.” Jawabnya.


“Baiklah. Aku akan secepatnya menyelesaikan urusanku di kantor pusat dan cabang. Setelah itu akau akan mengatakan pada Sean untuk memberikanku cuti dan kita bisa mempersiapkan pernikahan kita.”


“Aku ingin pernikahan kita nanti dilaksanakan secara sederhana saja, Xander. Aku tidak mau mengadakan pesta mewah.”


Mungkin dulu pesta pernikahan mewah sempat menjadi impan Silvia. Terlebih dia selalu memimpikan mendapatkan calon suami yang kaya raya. Namun entahlah, sekarang dia sama sekali tidak menginginkan itu semua. Bagi Silvia yang terpenting pernikahannya sah.


“Kenapa? Aku bisa memberikan pesta mewah seperti kebanyakan orang-orang lakukan. Apa kamu meragukan finansialku?”


“Maaf. Bukan seperti itu maksudku, Xander. Buat apa menghambur-hamburkan uang sebanyak itu dalam waktu sekejap? Yang terpenting kita sah menjadi pasangan suami istri. Uangnya bisa kita gunakan untuk kepentingan lainnya.”


Xander pun tidak bisa lagi menyangga ucapan Silvia. Lebih baik menurut saja.


“Baiklah. Terserah kamu saja. Ya sudah, kamu buruan memasak. Nanti aku akan mengajak kamu dan adik-adik kamu jalan-jalan.” Ucapnya kemudian.


Silvia mengangguk tersenyum lalu mulai mengolah beberapa bahan makanan yang akan ia masaka untuk menu sarapan bersama dengan Xander dan kedua adiknya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading


__ADS_2