Suami Kedua

Suami Kedua
Bab. 56. Pria yang Luar Biasa.


__ADS_3

Adam menemui Laura di luar dan meninggalkan Angelina yang telah ikut tertidur pada saat menyusui bayi mereka. Saat ini, Adam benar-benar tak dapat melupakan rasa penasarannya begitu saja.


Aziel pun berdiri tegak ketika Adan keluar Fatin dalam. Pria itu, memposisikan dirinya sebagaimana mestinya.


"Az, duduklah. Kau juga pasti lelah terus berada di samping keluargaku," ucap Adam memerintahkan agar asisten sang Daddy kembali duduk.


"Terimakasih, Tuan. Ini adalah tugas dan tanggungjawab yang telah tuan besar limpahkan kepada saya," jawab Aziel tegas namun sopan.


"Baiklah, jangan terlalu keras pada dirimu," ucap Adam lagi. Memang keluarga Jackson terkenal keras dan tegas. Akan tetapi, mereka juga menghargai dan memperhatikan para pekerjanya. Karena itulah, yang bekerja pada keluarga maupun perusahan milik keluarga Jackson akan betah.


"Apa anda memerlukan sesuatu, Tuan?" tanya Aziel.


"Tidak, kau tetaplah disini. Aku ingin bicara dengan Laura," jawab Adam jelas.


"Ada apa, Ad. Apa ada masalah lagi? Angelina baik-baik saja kan?" cecarnya khawatir. Wanita itu bahkan langsung memasukkan ponselnya kedalam tas. Lalu, ia merubah posisi duduknya agar menghadap ke arah Adam. Pria yang masih ia sukai.


"Kau lihat kan bagaimana kedekatan putraku terhadap pria itu?"


"Leon pria yang tadi datang dan langsung menggendong Argon." Adam langsung menjelaskan ketika ia melihat kerutan di kening Laura.


"Oh dia, kenapa? Hal apa yang lantas membuatmu khawatir seperti itu?" tanya Laura menelisik. Karena ia belum paham apa yang di maksudkan oleh Adam. Dengan berhadapan seperti ini, wanita itu bisa berlama-lama dan menikmati wajah tampan dihadapannya ini dengan leluasa.


"Pria itu, adalah yang orang yang kamu temui ketika liburan. Sejak di sana setiap kali Argon melihatnya, entah kenapa putraku itu langsung menyukainya dan mereka pun semakin dekat akhir-akhir ini. Kau tau, bahkan putraku sekarang lebih menuruti kata-katanya ketimbang ucapanku," terang Adam menjelaskan semua tanpa ada yang di tutupi.


"Menurutku itu adalah hal yang wajar. Balita itu tau, mana orang yang memiliki perasaan dan niat tulus kepadanya. Sebenarnya perasaan mereka lebih halus dan sensitif ketimbang kita para orang dewasa. Kau tenang saja, peranmu tidak akan semudah itu tergantikan dengan orang asing. Kau tetap orang tua terhebat bagi Argon. Bahkan di mata kami semua, kau adalah pria yang luar biasa," ucap Laura memuji dengan tulus bahkan dengan kedua mata yang berbinar.


"Apa itu benar? Soal sikap putraku?" cecar Adam lagi.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Putramu baik-baik saja. Kau ambillah sisi positif dari itu semua. Kalian jadi lebih akrab dengan dokter yang menangani Daddy Damian. Juga tambah teman itu asik bukan?"


Ucapan dari Laura setidaknya membuka pikiran positif Adam. Pria itu sudah lebih tenang sekarang.


"Thanks Laura. Aku akan kembali kedalam. Kau tau kan, aku tak bisa berjauhan dengan anak dan istriku," ucap Adam penuh penekanan pada kalimat yang terakhir ia ucapkan. Karena, pria itu dapat melihat sinar mata dari Laura yang masih menyisakan rasa untuknya.


Laura hanya bisa tertawa getir ketika punggung tegap itu kembali masuk ke dalam. Sudah seharusnya ia sadar diri untuk tidak lagi mengharap apapun dan hentikan semua perasaannya itu.


Laura nampak berdiri dan handal melangkah, hingga panggilan Aziel menghentikan ayunan kakinya.


"Anda mau kemana?"


Laura sontak menoleh. "Aku mau ke toilet, sebentar," jawab Laura, kalem seperti biasa.


"Silakan!" Laura kembali meneruskan langkahnya, tapi seketika ayunan kakinya berhenti lagi. Wanita itu berbalik cepat dan menemukan sosok gagah itu tepat di belakangnya menatapnya dengan ekspresi datar.


"Kau mau apa mengikutiku?" tanya Laura dengan tatapan curiga.


Laura pun hanya menanggapinya dengan membulatkan mulutnya saja. Lalu wanita itu kembali melangkah dengan santai dan tenang. Aziel hanya menunggu di luar toilet.


Pria itu memperhatikan salah satu pegawai yang sedang membersihkan toilet tersebut. Wanita berseragam hijau itu nampak terburu-buru dan tidak disiplin. Aziel menengok sedikit ke arah dalam. Air berceceran dimana-mana.


Hal itu tentu akan membahayakan bagi para pengguna toilet ini. Apalagi kebanyakan para karyawan dan pengunjung rumah sakit menggunakan sepatu pantofel. Aziel harus menegur pekerja itu sepertinya. Akan tetapi, ia tidak bisa meninggalkan Laura di dalam sana.


Bener saja, tak berapa lama terdengar teriakan dari dalam toilet. Aziel pun langsung masuk, dengan mendorong pintu.


Didalam sana ia melihat Laura, Laura tengah terduduk sambil memegangi kakinya. Dugaannya jika wanita itu terpeleset genangan air yang ia lihat tadi.

__ADS_1


"Ijinkan saya membantu anda," ucap Aziel meminta ijin untuk menggendong Laura. Wanita itu hanya bisa mengangguk sambil meringis. Saat keluar, Aziel melihat beberapa pekerja datang karena mendengar suara teriakan dari Laura.


"Saya akan menemui supervisor kalian!" ancam Aziel dengan tatapan tajamnya dan raut wajah yang keras itu. Sehingga, para pekerja berseragam hijau langsung menelan ludahnya susah.


Laura hanya diam saja melihat kemarahan aura Aziel dari jarak dekat seperti ini. Walaupun begitu, Laura juga dapat dengan jelas menikmati ketampanan sang asisten yang serba bisa ini. Tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Ia merasa Aziel marah karena kelalaian dari para pekerja itu membuat dirinya jatuh.


Laura pun di bawa ke salah satu ruangan untuk di periksa. Untung saja wanita itu hanya mengalami memar sedikit lantaran terkilir. Dokter hanya memberinya salep dan memberi perban kecil pada bagian pergelangan kakinya.


Mau tak mau, Laura berjalan dengan berjinjit. Karena wanita itu tak mau menggunakan kursi roda. Aziel masih setia memapahnya.


"Maaf, merepotkan anda, tuan Aziel," ucap Laura, merasa tak enak hati.


"Anda sadar ternyata. Lain kali, berhati-hatilah. Tugas anda di sini untuk mengawasi istri tuan muda, bukan malah menjadi pasien." Aziel menjawab dengan dingin.


Baru saja hati Laura terkembang karena perhatian dan sikap penuh perhatian dari Aziel. Seketika, perasannya berubah kesal. Laura langsung menepis tangan Aziel yang memegang bahu untuk memapahnya berjalan.


"Sudah sana! Walau sakit begini pun aku masih berguna. Lagipula, siapa yang mau mendapat musibah seperti itu. Kau pikir enak!" ketus Laura. Ia pun berjinjit dengan cepat walaupun rasanya ngilu dan ia berkali-kali hampir terhuyung.


Aziel hanya membiarkan Laura berjalan sendiri susah payah. Dengan tetap berjalan di belakang wanita itu.


Laura masih menggerutu hingga ia tak memperhatikan langkah kakinya. Dan ...


"Ah ...!"


Laura kembali hampir terpeleset hingga sebuah tangan kekar meraih pinggang rampingnya. Tubuh itu pun melayang di udara, dengan posisi Aziel memeluknya.


Kedua manik mata mereka pun saling bertatapan.

__ADS_1


Jeng jeng jeng ...


...Bersambung ...


__ADS_2