Suami Kedua

Suami Kedua
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Melihat wajah Marsha yang mengiba seperti itu membuat Fredy tak sanggup menolak permintaannya. Namun di sisi lain, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, apabila kejadian waktu itu terulang kembali. Itu sama halnya dia membunuh Sean secara terang-terangan.


Semua orang yang ada dalam ruangan itu tampak diam menunggu jawaban Fredy. Meski di hati Xander dan Leon masih ada sedikit keraguan. Namun mereka berdua juga berharap Sean segera selamat.


“Baiklah. Aku akan mencobanya. Asal ada syaratnya.” Jawab Fredy.


“Apa? Katakan saja!” tanya Marsha.


“Aku butuh ruangan pribadi untuk mengerjakan semuanya. Dan satu lagi, jangan pernah sesekali mengacaukan rencanaku atau bahkan mengancamku.” Jawabnya sambil melirik Xander dengan sinis. Pasalnya sejak tadi Xander lah yang terlihat emosi padanya. Sedangkan yang dilirik hanya mendengus kesal.


“Baiklah. Aku akan turuti semua keinginanmu. Besok aku akan menyiapkan semua peralatan yang kamu butuhkan. Dan Xander yang akan menyiapkan ruangan khusus itu.” Jawab Marsha. Dan lagi-lagi Xander hanya mendengus.


“Lalu berapa lama kamu menyelesaikan pekerjaan itu?” tanya Xander penasaran.


“Aku akan lihat dulu apakah kesalahan yang dilakukan oleh anak buah Marsha cukup rumit atau tidak. Aku tidak bisa memprediksinya sekarang.” jawab Fredy.


“Bisakah kamu memperce-“


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Leon segera membungkam mulut Xander dengan telapak tangannya. Marsha dan Leon benar-benar jengkel dengan sikap Xander yang sejak tadi selalu emosi. Lalu Fredy pun segera meninggalkan ruang tamu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Dan mulai sekarang, Marsha dan Leon memutuskan untuk semenatara waktu tinggal di rumah itu. Beruntungnya proyek yang dikerjakan oleh Marsha dan Leon sudah selesai. Marsha juga sudah mendapatkan ijin dari Papanya.


Keesokan harinya, Marsha sudah mendatangkan beberapa kebutuhan yang diperlukan oleh Fredy. Termasuk hasil rakitan yang sudah dibuat oleh anak buah Marsha juga sudah ada di tangan Fredy untuk segera ia teliti.


Untuk sementara waktu, kegiatan belajar Chandra tidak ada latihan fisik. Karena Fredy benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengerjakan semua itu. Namun, meskipun demikian, di ruangan yang akan digunakan Fredy, dia masih bisa membimbing Chandra belajar.


Selama Fredy mengerjakan tugasnya, Xander dan Leon juga mengerjakan tuganya masing-masing. Yaitu menyusun strategi bagaimana nanti cara menyelamatkan Sean. Mengingat David adalah pria yang sangat licik. Pastinya pria itu juga mempunyai persiapan matang jika suatu saat akan kedatangan orang-orang yang hendak menyelamatkan Sean. Mereka juga tidak melupakan keadaan Lidia. Hampir setiap hari Xander dan Leon bergantian menjenguk Lidia untuk memberikan semangat dan menjanjikan segera menyelamatkan Sean.


Dalam tidurnya, Lidia mendengar semua apa yang diucapkan oleh Xander dan Leon tentang kabar suaminya. baru kali ini Lidia tahu kalau suaminya sedang dalam bahaya. Bahkan nyawanya sebagai taruhannya. Lidia terisak dalam tidurnya. Rasanya tidak sanggup lagi mendengar semua kenyataan pahit itu.


Sedangkan Silvia, perempuan itu dibantu oleh Marsha mengurus Kavi dan juga Viana. Meski selama ini Marsha sama sekali tidak pernah tahu caraya merawat bayi ataupun anak kecil, perlahan dia ikut belajar dari Silvia yang terlihat begitu telaten.


Sean sangat yakin kalau sahabatnya saat ini sedang berusaha keras menyelamatkannya. Dia juga tahu bagaimana rumitnya membuat remote pengendali itu. Bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai keberhasilan itu.


Namun beberapa hari ini perasaan Sean diliputi kegundahan. Pasalnya keadaan Bryan semakin menunjukkan perkembangan. Dan dia mendengar sendiri dari David kalau kemungkinan pria itu akan membawa Bryan pulang dan merawatnya di rumah.


“Aku harus terus memantau pria baj***an itu agar tidak ikut campur dengan masalah ini.” gumamnya.


Waktu berlalu begitu cepat. Selama ini Sean masih terus menjadi pengabdi David. Sudah beberapa perusahaan besar ia tumbangkan dan beralih menjadi milik David. Dan selama itu pula keadaan kesehahatan Sean sudah pulih kembali. Tidak lagi mengalami morning sickness. Namun dia juga tidak tahu pasti. Apakah Lidia sudah melahirkan. Dan benarkah istrinya memang sedang mengandung anaknya. Sean hanya bisa berdoa yang terbaik.

__ADS_1


Dan selama itu pula Sean masih sering memeriksakan keadaannya ke rumah sakit. Mengingat dirinya telah membohongi David tentang penyakitnya.


Hari ini, Sean bersama David pergi ke rumah sakit untuk menjemput Bryan. David telah memutuskan membawa Bryan pulang, meski harus menyewa perawat khusus. Sean tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Setelah menyelesaikan beberapa administrasi dan menebus obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh Bryan, David menuju ruang rawat Bryan. Pria itu sudah dibantu perawat untuk duduk di kursi roda. Lalu mendorongnya keluar ruangan.


Sean dan Bryan saling tatap dengan sorot mata tajam. Sean masih bersyukur dengan keadaan Bryan yang cacat dengan hanya mempunyai satu kaki. Ditambah lagi, pria itu tidak bisa bicara. Dan wajahnya juga terdapat beberapa luka bakar yang sangat sulit disembuhkan meski sudah melakukan operasi plastik.


“Jangan pernah lagi macam-macam denganku!” batin Sean sambil menatap tajam mata Bryan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


__ADS_2