
Nantikan mereka launching tanggal 1 April ya ...
Aziel Darmawangsa dan Laura Kayle.
Si Kaku dan Si gengsi.
Kita gass ke extra part.
Dimana di bab ini hanya ada epilog kebahagiaan dari semuanya.
Happy reading.
Leon terbangun di pagi hari dengan senyum yang terus terkembang. Tangannya yang kekar masih melingkar di tubuh telanjang istrinya yang hanya berbalut selimut sebatas dada. Hingga, bahu mulus milik Karen nampak jelas dan dapat ia rasakan betapa halusnya.
Senyum Leon semakin lebar ketika beberapa stempel kepemilikan itu telah berubah warna menjadi agak kehitaman. Menunjukkan betapa bergairahnya dia semalam. Leon beralih menatap wajah polos tanpa riasan dengan kedua mata yang masih terpejam.
Tangannya yang berada di bahu beralih perlahan memindahkan Surai yang menutupi sebagian wajah Karen. Setelah itu, jemari Leon menyusuri hidung mancung dan bibir Karen yang merah alami.
Hatinya berdesir hangat, di dalam perutnya laksana terdapat ratusan kupu-kupu yang mengepakkan sayap kecilnya. Ia merasa bahagia. Seakan senyum itu tak mau entah dari muka bantalnya.
"Aku ... kini tak peduli lagi, akan masa lalu maupun kenangan yang hilang dari kepalaku. Fokusku, hanya merangkai kebahagian kita. Aku nyatanya sangat beruntung bisa bertemu dan bersama denganmu. Mungkin, aku bagaikan manusia yang terlahir kembali tanpa ingatan apapun. Perasaan ini benar-benar membuatku seperti terbang. Aku mencintaimu, Karen. Untuk hari ini ...esok dan selamanya." Batin Leon. Pria itu pun memajukan wajahnya untuk mengecup bibir sang putri tidur.
Merasa ada benda basah dan kenyal mendarat di bibirnya. Bahkan, terasa lidah Leon menyapu dengan lembut. Seketika kedua mata sipit Karen terbuka.
"Morning kiss!" ucap Leon dengan senyumnya dan tatapan matanya yang penuh binar.
"Kau mencuri ciuman ketika aku tidur. Kau pengecut sekali Leon!" Bangun tidur Karen malah meledek pria tampan dengan dada bidang polos yang ada di depannya ini.
"Hai! Kau pikir aku tidak berani melakukannya sekarang?"
"Hemm!" Karen hanya tersenyum, dan Leon menganggap itu sebagai tantangan untuknya.
Leon pun membuat tubuh Karen terlentang lalu kembali menindih dan menciuminya habis-habisan. Hingga Karen kewalahan dan kembali terbakar.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Leon. Kau adalah titik dari ujung kebahagiaan yang selama ini aku cari. Tetaplah bersamaku." Karen menatap mata Leon dengan napas yang memburu.
"Tidak ada alasan bagiku, untuk meninggalkan bidadari penyelamat yang cantik sepertimu. Kau telah membuat hati dan pikiranku hanya tertuju padamu. Kau jiwaku, Karen Liu."
Kita tinggalkan mereka yang telah menemukan kebahagiaannya setelah sekian lama. Dimana keihklasan menerima pada akhirnya mendatangkan cinta yang tulus.
Kita beralih pada keluarga Jackson.
Pagi ini semua orang tertawa renyah di taman
belakang. Dimana terdapat lapangan berumput dan juga beberapa kursi dan meja yang sengaja di buat dari ukiran kayu pohon alami.
Damian dan Katie terlihat berangkulan, sambil menatap ke arah cucunya yang berlari kecil mengejar Adam.
Mereka makan camilan sambil menghirup teh hangat sore itu.
Adam melempar bola balon pada istrinya, yang kemudian di tangkap oleh Angelina. Hal itu ternyata sangat menyenangkan bagi balita tampan dengan rambut pirangnya yang tertiup angin.
Sungguh sebuah definisi keluarga yang bahagia. Akur, harmonis dan kompak.
Argon yang jalannya sudah semakin lancar kini mencoba berlari menghampiri sang papa.
Senyum tak henti-hentinya mengulas di wajah Katie dan Damian.
"Dami, singa-ku yang berwibawa. Aku rasanya mau tertawa sambil menangis. Tak kusangka pemandangan ini dapat ku saksikan. Anak-anak dan cucu kita akhirnya bahagia tanpa kendala apapun lagi."
"Ya, Katie sayang. Dewi-ku yang cantik. Aku juga merasakannya. Hatiku merasa bahwa, Alan juga bahagia. Meskipun kita tak tau dia ada dimana." Kata-kata dari dalam hati Damian meluncur begitu saja. Hingga, membuat Katie mengerutkan keningnya.
"Dami, apa maksudmu?"
"Perasaanmu tidak salah sayang. Berharaplah, jika Alan bahagia dimanapun ia berada saat ini. Hidup maupun mati." Damian meraih tangan Katie dan meletakkannya di depan bibir. Pria paruh baya yang masih nampak gagah ini mengecupnya lama. Menyalurkan perasaanya yang semakin dalam terhadap istrinya.
"Kau benar, Dami." Katie pun melakukan hal yang sama, ia menarik tangan Damian dan menciumnya.
Keduanya kembali menoleh untuk melihat ke arah keluarga kecil dari putra pertama mereka.
__ADS_1
"An, sini!" Adam memanggil Angelina agar mendekat. Wanita itu pun berlari dan menubrukkan dirinya kedalam pelukan sang suami.
Argon nampak iri dan balita itu pun mendekat. Angelina dan Adam menciumi pipi balita tampan itu bersamaan. Hingga Argon terpingkal-pingkal.
Sementara itu, ternyata Laura dan Aziel ikut menyaksikan pemandangan yang manis di sore hari itu.
"Sepertinya, ini saat yang tidak tepat untuk sebuah laporan bisnis," gumam Aziel pelan. Tapi, gadis di sebelahnya masih bisa mendengar.
Laura tersenyum tipis. " Kurasa, mental dan kejiwaan Angelina sudah di batas normal. Sudah waktunya aku pergi." Laura turut merasakan kebahagiaan itu. Meskipun, ia tak bisa memiliki pria yang sudah sejak lama mengisi hatinya.
"Pergi saja."
"Kau--" Laura mendelik ke arah Aziel.
"Apa-apaan, kau mengusirku!"
"Apa perlu, ku katakan pada mereka tentang perasaanmu terhadap tuan muda." Aziel menantang Laura dengan ekspresi dingin.
"Kau!"
Laura menghentakkan kakinya, melewati Aziel untuk pergi dari mansion itu. Karena keluarga Jackson telah kembali ke kediaman utama mereka.
"Dasar perempuan." Aziel tetap dengan ekspresi semula.
Semua berbahagia dengan caranya.
Akan tetapi, tidak kedua manusia berbeda jenis ini.
Hei kalian!
Sensi aja deh berdua.
Author jodohin nih. 😁
Akankah Aziel dan Laura menemukan esensi kebahagiaan itu?
__ADS_1
Dimana hidup bukanlah tentang menyendiri.
Wait end see!