
Hari pun berlalu. Keadaan Reza sudah pulih kembali. Dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang.
Saat ini Feby sedang berada di ruang rawat Reza dengan ditemani sang suami. Feby mengucapkan terima kasih karena telah ikut membantu Papanya dalam menghadapi Tuan Ibra.
“Apakah kamu akan tinggal menetap di negara ini, Za?” tanya Chandra.
“Aku belum tahu. Lagi pula aku bebas menentukan, mau tinggal dimana saja. dan aku juga tidak punya siapa-siapa lagi yang menjadi tujuanku untuk pulang.” jawab sendu namun mencoba tegar.
Feby mengerti apa yang sedang dirasakan mantan suaminya saat ini. tidak mudah memang berada di posisi Reza. Meskipun hidup bergelimang harta, jika tidak mempunyai siapa-siapa, tetap saja hidup rasanya sangat hampa.
“Za, aku dan suamiku bersedia menjadi bagian dari keluarga kamu. Lupakan masa lalu kamu dulu dan kesakitan kamu atas perbuatan papa tiri kamu. Bukan begitu, Sayang?” ucap Feby lalu meminta persetujuan dari suaminya.
Chandra mengangguk. “Benar yang dikatakan oleh istriku. Atau lebih baik kamu tinggal di negara ini saja. kami semua akan menganggap kamu saudara.
Reza tidak menyangka akan mendapat perlakuan hangat dari Feby dan Chandra seperti ini. Rasanya sekarang dia baru merasakan memiliki keluarga. Karena sejak dulu hidupnya diisi dengan kerja, kerja, dan kerja. Tidak hanya itu, bahkan dia sampai terjerumus pada perilaku menyimpang dengan menyukai sesama jenis. Dan beruntungnya dia sudah sembuh.
“Terima kasih. Aku sangat bahagia memiliki keluarga baru seperti kalian. baiklah, aku akan tinggal di negara ini saja.”
Beberapa saat kemudian ada dokter yang akan memeriksa keadaan Reza sebelum pulang. secara keseluruhan Reza sudah sembuh, dan diperbolehkan pulang.
Reza akan pulang ke apartemennya dengan menggunakan taksi. Chandra dan Feby sudah menawarkan bantuan, namun Reza menolak.
Setelah Reza pulang, Chandra dan Feby pun juga segera pulang.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Chandra ingin makan masakan khas Indonesia. Dia pun membelokkan mobilnya ke salah satu restaurant khas Indonesia. Feby pun mengerutkan kening heran. Padahal ia tidak ingin makan sesuatu. Dan juga perutnya masih kenyang.
“Kenapa kita kesini? Aku masih kenyang.” Ucap Feby setelah Chandra memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
“Tapi aku sangat lapar, Sayang. Dan aku ingin makan masakan khas Indonesia.” Jawab Chandra.
Feby hanya mengangguk samar lalu mengikuti suaminya masuk. Walau dalam hatinya masih dipenuhi banyak pertanyaan dengan sikap aneh suaminya yang akhir-akhir ini porsi makannya bertambah. Dirinya yang hamil, kenapa suaminya yang doyan makan. Begitulah yang dipikirkan Feby.
Setelah memilih tempat duduk yang nyaman, seorang pelayan restaurant datang dengan membawakan buku menu. Feby yang tidak berminat makan, dia sibuk dengan ponselnya dan membiarkan suaminya memesan makanan sesuai keinginannya.
Setelah beberapa saat menunggu, datanglah beberapa pelayan yang membawa manu makanan sesuai pesanan Chandra. Feby awalnya mengira kalau pelayan itu salah meletakkan pesanan makanan. Namun setelah mendengar suaminya mengucapkan terima kasih, mulutnya menganga saat melihat begitu banyak makanan yang sudah tersaji di hadapannya.
“Chan, aku sudah bilang bukan kalau aku masih kenyang dan tidak ingin makan.” Ucap Feby seolah menegaskan lagi.
“Ya, Sayang. Aku sudah tahu. Itu, aku hanya memesankanmu jus buah saja, daripada hanya diam saja menungguiku makan.” Jawab Chandra tanpa beban dan mulai menyantap makanannya.
Feby bahkan sampai menelan ludahnya kasar. Bukan karena ingin ikut menikmati makanan itu, tapi dia masih tidak percaya kalau suaminya memesan banyak makanan dan akan menghabiskannya sendiri.
Feby pun akhirnya meminum jus buah yang dipesankan suaminya. karena hanya melihat suaminya makan, membuatnya ikut kenyang dan akhirnya kehausan.
“Ya sudah, ayo kita pulang!” Ajak Chandra setelah menyelesaikan pembayarannya.
Kini mereka berdua sudah berada dalam mobil dan bergegas pulang. dalam perjalanan, Feby sekilas melihat suaminya yang tampak menguap.
“Tolong menepilah! Biar aku saja yang membawa mobil.” Ucap Feby.
“Kenapa? Nggak usah, Sayang. Aku nggak akan membiarkan kamu menyetir. Lagi pula sebentar lagi kita sampai rumah.” jawab Chandra dengan pandangan lurus ke depan.
“Tapi sejak tadi kamu menguap. Aku nggak mau kamu mengantuk dalam posisi seperti ini.” ucap Feby dengan nada sedikit kesal. Pasalnya baru saja suaminya menghabiskan begitu banyak makanan. Benar saja dia langsung menguap. Pastinya rasa kantuk juga menyerang.
“Maaf!” ucap Chandra singkat dan mencoba tetap fokus dengan jalanan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendari Chandra sudah sampai rumah. Feby turun terlebih dulu, karena dia melihat keadaan rumah tampak ramai. Padahal saat ini hanya ada Papa dan Ayah mertuanya saja.
Saat sampai di depan pintu, Feby mendengar suara wanita yang sudah lama ia rindukan. Siapa lagi kalau bukan Mamanya.
Feby ingin memastikan apakah benar itu Mamanya, atau hanya halusinasinya saja. ternyata benar. Di ruang tengah tampak dua pasang suami istri sedang bercengkrama. Pasangan Sean Lidia, dan Kenzo Pelangi.
“Mama!” Panggil Feby menghentikan obrolan keempat orang di ruang tengah itu.
“Sayang!” Sahut Pelangi dan segera menghampiri anaknya.
Begitu juga dengan Lidia yang ikut memeluk menantunya. Dia juga sangat merindukan Feby yang saat ini sedang mengandung calon cucunya.
Chandra yang baru saja memasuki rumah tampak biasa saja saat melihat Mama dan Mama mertuanya ada di sana. Bahkan Chandra hanya berjalan melewati mereka begitu saja.
“Chan! Ada Mama kamu di sini dan kamu mengabaikannya?” protes Lidia tak terima.
“Iya iya, Ma! Chan sudah tahu. Lagi pula yang Mama rindukan pasti hanya Feby. Nanti saja pelukannya sama Chan. Chan sangat ngantuk.” Jawabnya sambil menguap dan menaiki tangga.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1