
Weekend tiba. Sesuai ajakan Feby kemarin, hari ini Chandra akan pergi nongkrong di sebuah café yang berada di pusat kota. Chandra sengaja datang bersama Viana, karena hanya adiknya itu lah yang masih bisa diajak pergi. Kalau Kavi dan Mirza tidak mungkin diajak ke tempat seperti itu. Yang ada malah merepotkan saja.
“Mau kemana kalian berdua sudah rapi saja?” tanya Lidia yang sedang duduk santai di ruang tengah.
“Kak Chan ngajak Vian jalan, Ma. Katanya mau nongkrong sama Kak Feby. Benar kan, Kak?” jawab Viana sambil melirik kakaknya.
Chandra mengangguk mengiyakan. Lalu ia melihat tatapan mata mamanya tampak berbeda saat mendengar Viana menyebut nama Feby. Entahlah Chandra merasa kalau mamanya kurang setuju dia dekat dengan Feby.
“Ya sudah, pulangnya jangan malam-malam!” ucap Lidia dengan datar tanpa menoleh Chandra.
Bukan Lidia kurang setuju dengan kedekatan Chandra dan Feby, hanya saja wanita itu tidak ingin Chandra mengenal yang namanya cinta terlebih dulu di saat usianya masih belia. Terlebih yang disukai Chandra adalah perempuan yang usianya jauh di atasnya. Sedangkan perjalanan Chandra masih jauh. Sebentar lagi juga akan kuliah. Lidia tidak ingin kelak anaknya merasakan sakit hati karena perempuan. Dia juga berpikir kalau belum tentu kedua orang tua Feby setuju dengan kedekatan anaknya, meskipun mereka bersahabat.
“Ada apa, hem?” tanya Sean yang baru saja bergabung bersama istrinya.
“Ah, nggak apa-apa kok.” Jawab Lidia.
“Kamu tahu kalau kita sudah lama hidup bersama? Aku sangat hafal dengan ekspresi wajah kamu yang selalu bilang tidak ada apa-apa tapi sebenarnya ada apa-apa.” Ucap Sean dengan nada tegas.
“Maaf. Maafkan aku, bukan aku bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu, Sean…
Akhirnya Lidia menceritakan tentang kegundahan hatinya. Dia menceritakan kalau saat ini Chandra sedang nongkrong bersama Feby. Memang Sean tidak mempermasalahkan kalau anak-anaknya dan anak-anak Kenzo saling rukun, tapi ada satu hal yang mengganjal hati Lidia terlebih setelah mendengar kalimat pujian Chandra yang ditujukan untuk Feby.
“Apakah kamu melarang Chandra jatuh cinta?” tanya Sean.
__ADS_1
“Bukan seperti itu, Sean. Kamu tahu kalau usia Chandra dan Feby terpaut jauh. Chandra juga sebentar lagi kuliah-“
“Tapi, Sayang. Itu bukan alasan yang logis. Karena cinta itu datanganya tidak ada yang tahu dan tanpa ada alasannnya. Kalau benar ada sesuatu dari mereka, ya biarkan saja. Biarlah itu proses awal mereka mengenal cinta. Mau lanjut ke jenjang yang lebih serius pun tidak masalah. Kalau kamu mempermasalahkan usia, itu juga bukan alasan yang tepat. Karena perbedaan usia bukanlah menjadi patokan ataupun yang menghalangi seseorang meraih kebahagiaan. Usia muda belum tentu orang itu belum dewasa. Bahkan yang usianya tua juga banyak yang kelakuannya belum dewasa, masih seperti anak kecil” Sean menjelaskan dengan bijak.
Lidia terdiam setelah mendengar nasehat suaminya. memang yang dikatakan oleh Sean benar. Harusnya dia tidak bersikap seperti tadi pada Chandra.
“Maafkan aku!” ucapnya kemudian.
Sean tersenyum tipis lalu membawa istrinya ke dalam pelukan.
***
Sementara itu Chandra dan Viana baru saja sampai café tempat mereka janjian dengan Feby dan juga Fico. Setelah mencari keberadaan Feby, akhirnya Chandra menemukannya. Di sebelah Feby duduk tampak Fico yang sedang sibuk dengan gadgetnya. Bahkan laki-laki itu tidak menyadari kedatangan Chandra.
“Game teruuusss!!” ucap Chandra menyindir Fico yang memang benar sedang main game online.
“Ada apa sih, Fic?” bisik Feby sambil menyenggol pelan lengan adiknya.
“Siapa tuh, Chan? Cewek kamu?” tanya Fico spontan dengan mata terus menatap Viana.
“Hemmm… memangnya aku pantas ya punya cewek seperti dia?” Chandra balik bertanya sambil melirik Viana dengan malas.
Sementara Viana tampak semakin cemberut melihat sikap kakaknya seperti itu.
__ADS_1
“Kenalin, Viana! Adikku yang paling cantik dunia akhirat. Vi, itu namanya Fico, adiknya Feby.” Akhirnya Chandra mengenalkan Viana pada Fico.
Mereka berempat segera memesan makanan dan minuman. Setelah itu ngobrol santai sambil menikmati alunan musik hiburan di café itu.
Feby sejak tadi sesekali mencuri pandang pada Chandra. Begitu juga dengan Chandra. Entahlah, tidak bertemu sehari dengan Chandra, membuat Feby merasa ada sesuatu yang hilang. Kemarin saja dia sampai mengesampingkan gengsinya saat akan mengirim pesan pada Chandra untuk diajak nongkrong bareng. Untung saja Chandra mau.
“Bagaimana Chan rencana kuliah kita nanti?” tanya Fico mengawali pembicaraan.
“Sepertinya bukan ide buruk.” Jawab Chandra.
“Ok lah, nanti kita bisa cari cewek cantik di sana. Ya nggak?” ucap Fico sambil mengerlingkan matanya.
“Kuliah ya kuliah aja, jangan niat cari cewek.” Gerutu Feby tak terima dengan ucapan adiknya.
“Ah biarin aja. Kakak nggak usah ikut-ikutan urusan anak muda. Lebih baik pikirin sana pernikahan Kak Feby.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️