
“Kamu!”
Ternyata benar dugaan Chandra. Perempuan yang bernama Mia Allura itu adalah Feby. Kali ini Feby tidak memakai kacamata, namun rambutnya memang diubah menjadi sedikit ikal. Chandra masih menatap lekat netra Feby yang tampak terkejut sekaligus gugup.
“Siapa kamu? Cepat keluar dari sini!” usir Mia berusaha tenang dan seolah tidak mengenal sosok laki-laki di hadapannya.
Chandra masih tetap dalam posisinya.
“Hei siapa kamu berani-beraninya memasuki apartemen orang. Aku laporkan kamu ke satpam.” Ancam Mia lalu melangkah mundur untuk mencari ponselnya.
Namun langkahnya terhenti saat dengan cepat Chandra menarik tangannya hingga tubuh Mia menempel pada tubuh Chandra.
“Apa benar kamu tidak mengenalku?” tanya Chandra.
“Lepaskan!! Aku sama sekali tidak mengenalmu. Cepat pergi dari sini sebelum suamiku datang.” Sekali lagi Mia mengancamnya.
Ada rasa sesak dalam hati Chandra saat Mia mengucapkan kata suami.
“Tadi kamu bilang akan melapor pada satpam. Sekarang suami. aku sama sekali tidak takut. Aku akan menunggu suamimu datang.” Chandra mengancam balik.
Mia masih berusaha melepaskan diri dari Chandra. Namun sepertinya sangat susah. Dia tidak habis pikir bagaimana caranya Chandra bisa masuk ke unit apartemennya. Bukankah penjagaan di luar sangat ketat. Dan informasi tentang dirinya juga tidak mudah diakses oleh sembarang orang.
“Lepas!! Apa maksud kamu datang kesini?” tanyanya lagi sambil meronta.
“Aku hanya ingin mengembalikan kartu tanda pengenal atas nama Mia Allura.” Jawab Chandra.
Mia terkejut. Ternyata laki-laki yang menghubungi kemarin adalah laki-laki yang sama dengan dugaannya. Bagaimana ini bisa terjadi.
“Apa benar anda tidak mengenal saya sama sekali Nona MIA?” tanya Chandra dengan menekan kata Mia di akhir kalimatnya.
“Cepat berikan kartu itu, karena aku sama sekali tidak mengenalmu.” Mia berusaha menahan kegugupannya saat Chandra semakin mendekatkan wajahnya.
“Sekali lagi saya tanya, Nona MIA. Apa benar anda tidak mengenal saya?”
“Tid- hmmpppp”
__ADS_1
Seketika itu Chnadra membungkam bibir perempuan itu. Bibir yang rasanya sama seperti dulu. Ya, Chandra semakin yakin kalau Mia adalah Feby. Mau berkelit seperti apapun, dengan ciuman ini bisa membuktikan bahwa perempuan itu Feby.
Cukup lama Chandra melu-mat bibir manis yang telah lama ia rindukan itu. Bahkan Mia juga sampai terhanyut dengan ciuman yang Chandra beerikan. Namun beberapa saat kemudian kesadaran Mia kembali. Dia menggigit bibir Chandra hingga mengaduh kesakitan dan otomatis pelukannya terlepas.
Plakk
Mia menampar Chandra cukup keras.
“Berengsek kamu!! Cepat keluar dari sini!” usirnya dengan penuh amarah.
“Aku nggak akan keluar dari sini sebelum kamu bilang kalau kamu adalah Feby. Bukan Mia.”
“Iya. Aku Feby. Puas kamu, Chan? Sekarang cepat keluar dari sini!” Feby berkata dengan bahu bergetar dan posisinya membelakangi Chandra.
Chandra sangat iba mendengar isak tangis perempuan yang sudah lama tidak pernah ia tahu kabarnya. Bahkan bertemu saja dia tidak pernah.
Kemudian Chandra menarik tubuh Feby ke dalam pelukannya. Tangis Feby semakin pecah. Entahlah apa yang membuat Feby menangis seperti itu. Chandra hanya mampu mengeratkan pelukannya dan berusaha menenangkan.
Cukup lama Feby terisak dalam pelukan Chandra. Dan dia juga tidak mengatakan apa-apa. Chandra juga memilih diam membiarkan Feby sendiri yang bercerita. Walau mungkin sangat sulit. Yang terpenting Chandra lega akhirnya rasa penasarannya terobati. Dan perempuan yang ada dalam pelukannya itu adalah perempuan yang sejak dulu ia cintai.
Kruk kruk….
Feby segera mengambil paper bag berisi makanan yang tadi terjatuh. Untung saja makanannya tidak tumpah. Lalu ia membawanya masuk ke ruang makan. Dan Chandra mengikutinya.
“Makanlah!” ucap Feby sambil menyodorkan box nasi pada Chandra.
“Tidak. Aku mau makan sama kamu, lebih baik nasi ini kita bagi dua.” Jawab Chandra lalu mengambil piring dan membaginya.
Feby hanya diam melihat sikap Chandra yang cekatan membagi nasi itu menjadi dua bagian. Tidak masalah jika hasilnya sedikit. Setidaknya masih bisa mengganjal perut mereka berdua yang sedang kepalaran.
Chandra dan Febu pun segera menikmati makanan itu. Keduanya sama-sama terdiam dan menundukkan kepalanya.
Selesai makan, Feby mengajak Chandra duduk di ruang tengah. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Feby.
“Sekarang, lebih baik kamu pulang Chan! Dan aku minta tolong jangan pernah bilang pada siapapun kalau aku ini adalah Feby.”
__ADS_1
“Kenapa? Ada apa sebenarnya, Feb? dan sejak kapan kamu tinggal di sini?” tanya Chandra bertubi-tubi.
“Maaf, Chan! Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. hari ini cukup kamu tahu kalau aku adalah Feby, bukan Mia.”
“Baiklah. Aku sangat senang bisa bertemu kamu lagi. besok aku kan datang lagi.” pamit Chandra kemudian. Karena dia juga sangat menghargai privasi Feby. Perempuan itu juga perlu istirahat setelah seharian bekerja.
“Tidak perlu kesini lagi, Chan. Apa kamu lupa kalau aku sudah menikah? Nanti suamiku akan mengetahui-"
“Aku tidak lupa kalau kamu sudah menikah. Tapi aku tidak yakin kalau kamu masih berstatus istri orang.” Sanggah Chandra dengan cepat lalu beranjak dari duduknya.
Bibir Feby terasa kelu. Dari mana Chandra bisa mengatakan hal itu. Namun ia juga belum ingin menjelaskan semuanya.
Chandra membuka pintu unit apartemen Feby, lalu ia berbalik badan terlebih dulu sebelum benar-benar pulang.
“Istirahatlah! Terima kasih atas hari ini.” ucap Chandra sambil mengusap pucuk kepala Feby lalu melenggang pergi.
Sedangkan Feby hanya tercengang saat mendapat perlakuan Chandra baru saja. Perlakuan yang dulu pernah ia dapatkan sebelumnya. Tak lama kemudian Feby menutup pintu dan menguncinya.
*
Dalam perjalanan pulang, rasa lelah yang bisa mendera karena seharian bekerja kali ini tidak Chandra rasakan. Apalagi penyebabnya kalau bukan pertemuannya dengan Feby. Chandra sempat berpikir, kemana saja ia selama ini. lama tinggal di kota ini tapi baru hari ini dia bertemu dengan Feby. Apakah memang ini sudah takdirnya dipertemukan dengan Feby di saat seperti ini.
Lalu Chandra teringat dengan ucapan Feby yang melarangnya untuk mengatakan tentang identitas aslinya. Chandra semakin yakin kalau keberadaan Feby sekarang tidak aman.
“Tenanglah, Feb. aku berjanji akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu.” Gumam Chandra sebelum akhirnya dia berhenti di basement apartemen.
Chandra memasuki unit apartemennya dengan hati berbunga. Senyum merekah sejak tadi menghiasi bibirnya. lalu dia memegang bibirnya, lebih tepatnya bekas ciumannya dengan Feby tadi. cahkan rasa itu masih tertinggal.
“Kenapa rasanya masih sama seperti dulu. Apakah itu tandanya kamu juga sangat merindukanku, Feb?” tanyanya dalam hati. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️