
"Mom!"
Panggilan sekaligus sentuhan lembut di bahu, Katie seakan mengembalikan kesadaran wanita paruh baya itu. Ia kembali menoleh ke arah yang di tatapnya tadi sebelum Angelina datang. Akan tetapi, bayangan putranya itu telah pergi.
"Apa yang terjadi? Wajah Mommy sangat pucat?" cecar Angelina nampak khawatir terhadap Mama mertuanya itu.
Akan tetapi, Katie tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Angelina. Ia tak mungkin menyambut nama mendiang putranya itu di depan menantunya. Dimana, nama Alan gak lagi ada di dalam ingatan Angelina.
Katie tak masalah, jika menantunya melupakan ayah biologis dari putranya yang baru saja selesai menjalani tahap operasi besar. Karena, Katie lebih mementingkan kedamaian serta kebahagiaan dalam rumah tangga putra pertamanya itu.
"Mommy tidak mungkin menceritakannya kepadamu, Angelina. Biarlah Alan bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Mommy yakin, Alan juga bahagia seperti mu dan Adam." Katie hanya bisa membatin tanpa mampu mengutarakan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Angelina hanya tau dan ingat, Adam adalah suaminya sejak awal. Sedangkan, Alan tak pernah ia temui sekalipun. Meski Angelina melihat foto pria itu, ia takkan mengenalinya. Hal itu menjadi sebuah keuntungan bagi Adam, karena pria itu telah terlanjur tak bisa terpisahkan dengan Angelina dan juga baby mereka, Argon Junior Jackson.
"Ah, mungkin Mommy hanya lelah, sayang. Sudahlah, tak perlu kau pikirkan. Kita semua tenang dan bisa bernapas lega sekatang. Setidaknya, operasi baby Ar berjalan dengan semestinya. Mommy, sudah tak sabar menggendongnya lagi," ucap Katie berusaha mengalihkan perhatian menantunya itu.
"Mommy, benar. Aku sangat lega saat ini. Putraku, akan kembali sehat dan ceria seperti sebelumnya. Aku merindukan tawanya ...," lirih Angelina. Melihat kesedihan di raut wajah menantunya, Katie memutuskan untuk memberinya pelukan erat.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya besar, Nyonya muda. Tuan muda Adam telah siuman," lapor Aziel. Pria itu di perintah oleh Damian untuk memberi kabar akan kesadaran putranya itu. Sementara, Damian masih berbicara dengan dokter yang menangani operasi cucunya itu.
"Dokter Robert. Anda yakin benar, jika keadaan cucu saya akan stabil setelah operasi ini?" tanya Damian. Entah kenapa hati pria ini belum merasa tenang juga. Meskipun tim dokter ahli, telah menjelaskan hasil operasinya sang cucu kesayangan.
"Kami masih melakukan tindakan pemantauan, alias observasi. Anda tenanglah, kecocokan dari pendonor sum-sum tulang belakang sudah lebih dari cukup. Anda tidak perlu khawatir. Sekalipun, ayah kandung belum tentu juga kecocokannya seratus persen." Dokter Robert, pria berusia lima puluh tahun itu menjelaskan dengan tenang.
"Lakukan yang terbaik. Dia ... cucuku. Penerus yang sangat ku harapkan. Dia ... adalah cahaya dalam keluarga kami," ucap Damian dengan suara lemah. Pria paruh kharisma ini, menunduk sambil memijat pangkal hidungnya.
Baginya, kelahiran baby Argon adalah cahaya di tengah kegelapan. Ketika dirinya kehilangan sang putra kedua. Dimana, dirinya dan Alan kala itu sering kali berdebat, bahkan mereka bisa dikatakan pasangan ayah dan anak yang jarang kompak.
Dokter Robert berdiri dan memberanikan dirinya untuk menepuk bahu Damian. "Sekuat apapun dirimu, kau tetaplah manusia yang memiliki hati. Salurkan perasaanmu, agar tidak menjadi sarang penyakit di kemudian hari. Anda tau, pria seusia kita harus lebih bisa memanage, kebahagiaan dan juga harus bisa meluaskan hati. Dalam, menerima apapun masalah dan persoalan yang datang menyapa hidup di masa senja ini. Semua itu, demi kebaikan kita sendiri," tutur sang dokter, bijak.
Wanita, satu-satunya yang ia percaya untuk mendengar setiap keluh kesahnya. Wanita, yang mampu menghiburnya, membuat senyum dan tawa itu mampir di hidupnya yang kaku dan flat.
Damian, selalu bersikap dingin dan tegas terhadap orang lain bahkan putranya sendiri. Akan tetapi tidak jika dirinya bersama dengan Katie. Damian, dapat menjadi dirinya sendiri tanpa memperdulikan image itu sendiri.
"Sayang, aku pulang!"
__ADS_1
Damian yang tau jika Katie susah berada di kamarnya, nampak mencari sosok wanita itu. Sementara, Angelina, Aziel dan Laura tetap berada di rumah sakit.
"Dami, kau sudah kembali," sambut Katie. Wanita itu pun menghampiri suaminya dan membantu Damian membuka jas serta sepatunya. Dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya, sekalipun keriput itu mulai mampir sedikit demi sedikit. Akan tetapi, tetap tidak akan mengurangi kecantikannya itu.
"Aku siapkan air panas untukmu," ucap Katie seraya hendak berlalu, namun Damian menarik tangannya hingga wanita itu berbalik dan jatuh ke dalam pelukannya.
"Tunggu dulu. Berikan aku pelukan sebentar saja," bisik Damian lirih.
"Haih, singaku yang gagah dan tampan sedang manja," goda Katie yang kemudian mendapat gigitan pada telinganya.
"Dami!"
"Bukankah singa memang menggigit?" Damian menatap penuh arti ke arah Katie seraya membuka kemejanya.
"Sebaiknya kau mandi dulu."
"Aku maunya sekarang!"
__ADS_1
"Akh, Dami!"
...Bersambung ...