
“Bagaimana?” tanya Xander.
Sean menggelengkan kepala menandakan tidak mendapatkan hasil. Setelah itu Xander memintanya untuk melihat data rekaman cctv yang sudah diretas oleh kawanan penculik Viana melalui laptop khusus yang biasa Sean gunakan.
“Kamu fokuslah pada pencarianmu, aku akan fokus mencari data pribadi tentang baby sitter itu.” Ucap Xander dan Sean menganggukkan kepala.
Sebelum bekerja, Sean terlebih dulu menhubungi beberapa anak buahnya agar mencari keberadaan Viana. Mungkin saja mereka belum jauh perginya.
Kini Sean sedang fokus di hadapan sebuah laptop miliknya. Tangannya bergerak cepat mencari jejak penculik Viana. Kemungkinan Sean bisa mendapatkan rekaman cctv itu, namun membutuhkan waktu yang lama.
Sean beristirahat sejenak sambil menunggu hasilnya. Dia melirik Xander yang juga tampak fokus dengan pencariannya mengenai Bu Dewi.
“Apakah baby sitter itu akhir-akhir ini keluar rumah?” tanya Xander dengan tatapan mata masih tertuju pada layar laptop.
Sean mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat Bu Dewi ijin meminta pulang dengan alasan anaknya sakit. Pria itu mengeram kesal saat menyadari ada yang mencurigakan dari sikap Bu Dewi.
“Shitt!!!!” umpatnya sambil menjambak rambutnya.
“Ada apa?” Xander pun sangat penasaran.
“Beberapa hari yang lalu wanita itu meminta ijin satu hari untuk pulang, karena anaknya sedang sakit. Bodohnya aku, saat Lidia mengijinkan dia agar tidak satu hari saja pulangnya, justru wanita itu tetap kekeh ijin satu hari. Harusnya aku sudah curiga, mana mungkin ada seorang ibu meninggalkan anaknya yang sedang sakit. Terlebih hanya satu hari saja menjenguknya.”
“Dan apa kamu tahu kalau kenyataannya wanita itu tidak mempunyai anak?” tanya Xander.
Sean dulu memang tahu kalau status Bu Dewi adalah seorang janda saat melihat CVnya. Tapi dia tidak peduli dengan riwayat hidupnya yang lain.
“Sepertinya wanita itu memang bekerjasama dengan orang yang menculik Viana. Atau wanita itu mendapat iming-iming yang menggiurkan hingga mau disuruh melarikan Viana.” Lanjut Xander.
__ADS_1
Kepala Sean semakin berdenyut mengetahui fakta itu. Ternyata musuh yang paling berbahaya adalah musuh dalam selimut. Setiap hari perlakuan Bu Dewi sangat baik terhadap anak-anaknya, namun siapa sangka ternyata wanita itu lebih dari seorang iblis.
Hingga dini hari pencarian Sean tentang penculikan Viana tak kunjung mendapatkan hasil. Xander yang melihat sahabatnya sangat terpuruk ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Sean.
“Lebih baik kamu istirahatlah! Ingat kesehatan kamu juga jauh lebih penting.” Ucap Xander.
Sean pun mengangguk. Tenaganya sudah sangat lelah.
“Kamu juga istirahatlah! Terima kasih sudah banyak membantuku selama ini.” jawabnya lalu bergegas keluar ruangan itu dan diikuti oleh Xander.
Sean masuk ke dalam kamarnya. Terlihat sang istri sedang tidur meringkuk dengan mata sembabnya yang masih terlihat. Sean jongkok di depan istrinya sambil merapikan rambut Lidia. Hatinya sakit melihat istrinya yang sangat rapuh.
Cup
Sean mengecup kening Lidia sebelum ikut menyusulnya tidur. Namun ternyata Lidia terbangun saat merasakan hangat bibir sang suami yang menempel sekilas di keningnya.
Sean menaiki ranjang lalu merengkuh tubuh Lidia. Pencariannya belum membuahkan hasil. Dia takut jika menjawab pertanyaan Lidia, akan membuat wanita itu semakin sakit.
“Sekarang lebih baik kita istirahat dulu. Kamu yang sabar ya?”
Dengan jawaban itu Lidia tahu kalau suaminya belum mendapatkan hasil. Namun dia juga tidak mau terlalu menuntut Sean. Kemudian Lidia membalas pelukan Sean dan ikut tidur.
Keesokan paginya, suasana rumah tampak berbeda. Tidak seperti sebelumnya. Lidia sendiri enggan keluar kamarnya. Semenjak bangun tidur, wanita itu kembali menangis saat teringat Viana. Anak keduanya yang sebentar lagi genap berusia dua tahun.
Sedangkan Sean sudah turun untuk mengajak Chandra sarapan bersama. Setelah sarapan, Sean membawakan makanan untuk istrinya. Chandra pun juga ikut.
Cklek
__ADS_1
Sean melihat istrinya sedang duduk di atas raanjang dengan tatapan kosong. Chandra segera berhambur ke pelukan mamanya.
“Mama jangan menangis! Chan juga kangen dengan adik, Ma.” Ucap Chandra.
Lidia menoleh ke arah Chandra. Kemudian dia memeluk anak sulungnya itu sambil menangis haru. Bahkan sejak semalam Lidia terus menangisi Viana dan melupakan keberadaan Chandra.
“Maafkan Mama, Sayang!” ucap Lidia sambil menciumi pucuk kepala Chandra.
“Kita doakan saja semoga adik baik-baik saja, Ma.” Ucapnya sambil menatap manik hitam sang Mama.
“Terima kasih, Sayang. Mama sayang sama Chan dan adik. Kita doakan adik semoga baik-baik saja, ya?” ucap Lidia menguatkan hatinya.
Sean hanya melihat interaksi anak dan istrinya dengan haru. Lalu pria itu mendekati Lidia dan memintanya agar makan makanan yang telah dibawanya. Namun Lidia menolak dengan alasan belum lapar.
“Sayang, aku mohon jangan siksa diri kamu seperti ini. kalau kamu sakit, siapa orang yang akan memberiku semangat untuk mencari keberadaan Viana?” Ucap Sean memohon.
“Chan suapin Mama, ya?”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1