
Feby melongo tak percaya dengan perlakuan Chandra baru saha. Selain itu, bisa-bisanya dia baper diperlakukan Chandra seperti itu. Laki-laki yang harusnya pantas menjadi adiknya.
“Duh… mikir apaan sih.” Gerutunya sendiri lalu masuk ke mobilnya dan memasukkannya ke dalam garasi.
Feby masuk ke rumah sambil menenteng paper bag yang berisi ponsel pemberian Chandra. Bahkan tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri mengingat kebersamaannya dengan Chandra tadi.
“Dari mana sih, Kak? Kok senyum-senyum sendiri nggak jelas gitu.” Ucap Fico yang kebetulan sedang duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
“Kepo banget jadi orang. Udah malam. tidur sana bocil!” jawab Feby.
“Eh seenaknya saja ngatain aku bocil. Awas kualat. Aku sumpahin punya pacar bocil biar tahu rasa.” Ucap Fico merasa tak terima dikatain bocil sama kakaknya.
Feby hanya mencebikkan bibirnya lalu melenggang masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Sedangkan Chandra yang baru saja sampai rumah, dia segera masuk ke dalam kamarnya. Chandra juga senyum senyum sendiri setelah bertemu dengan Feby barusan.
“Lucu juga Feby. Meskipun sudah lulus kuliah tapi sifat dan sikapnya juga masih seperti anak kecil. Seperti dulu.” Gumam Chandra.
Sebelum tidur, Chandra berganti baju dulu lalu mencuci mukanya agar lebih segar. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil melihat foto Feby yang ia simpan dalam ponselnya. Bahkan dia memakai salah satu foto Feby sebagai wallpaper ponselnya. Setelah itu dia terlelap ke alam mimpi.
***
Seperti yang sudah Sean janjikan dengan Kenzo, pagi ini Sean mengajak Chandra ke perusahaan Kenzo untuk melakukan tugas baru Chandra.
Kenzo sudah banyak cerita dengan Sean tentang masalah yang akhir-akhir ini menimpa perusahaannya. Dan Sean sangat yakin kalau Chandra mampu membantunya. Walau dirinya sendiri mungkin bisa, hanya saja pekerjaan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Otomatis akan membuat pekerjaan Sean terbengkalai jika ia yang menangani masalah di perusahaan Kenzo. jadi ia serahkan pada Chandra. Anggap saja sebagai langkah awal Chnadra meniti karirnya.
Sean dan Chandra sudah sampai kantor Kenzo. anak dan ayah itu segera menuju ruangan Kenzo setelah dipersilakan masuk oleh sekretarisnya. Sean hanya menemani Chandra sebentar setelah itu ia akan kembali lagi ke kantor.
__ADS_1
“Selamat datang, Chan. Wah! Om sampai pangling dengan kamu. Ternyata banyak yang berubah dengan wajah kamu.” Ucap Kenzo menyambut kedatangan Chandra dan Sean.
“Iya. Dia semakin tampan bukan?” tanya Sean dengan bangga.
“Ya ya Chandra memang lebih tampan dari kamu.” Jawab Kenzo dengan malas.
Setelah itu Kenzo mengajak Sean dan Chandra duduk. Kenzo menceritakan semua masalah perusahaan dengan detail pada Chandra. Sebelumnya Kenzo juga sudah meminta bantuan pada tenaga ahli yang khusus menangani masalah seperti ini, namun tidak ada hasilnya. Akhirnya setelah mendapat saran dari Sean kalau Chandra kemungkinan bisa membantunya, Kenzo pun setuju.
“Maaf. Aku memotong pembicaraan kalian. kalau kalian masih lama, lanjutkan saja. Aku akan kembali ke kantor dulu.” Ucap Sean.
“Baiklah. Maaf sudah mengganggu waktu kamu, Sean. Aku pinjam dulu anak kamu.” Jawab Kenzo.
Setelah Sean berpamitan, Kenzo dan Chandra kembali melanjutkan obrolannya. Chandra mendengar semua penjelasan Kenzo dengan seksama. Memang masalah di perusahaan Kenzo terlihat sangat rumit namun sangat sulit diatasi. Tapi Chandra sepertinya bisa menangani itu. Walau belum yakin seratus persen.
“Nah, itu yang bisa Om jelaskan padamu, Chan. Lalu apa yang harus Om lakukan sekarang. dan apa rencana kamu? Katakan saja, biar Om siapkan semua kebutuhan yang kamu perlukan.” Ucap Kenzo.
Kenzo melihat jam tangannya. sepuluh menit lagi dia akan meeting dengan salah satu kliennya. Tidak mungkin juga dia menemani Chandra masuki ke control room.
“Begini, Chan. Sebentar lagi Om ada meeting. Om tidak bisa menemani kamu ke control room itu. Jadi kamu ditemani Feby saja apa tidak masalah?”
“Terserah Om saja. Chan tahu kalau ruangan itu sangat privasi dan tidak sembarangan orang yang Om ijinkan masuk kesana.”
Setelah itu Kenzo menghubungi Feby agar masuk ke ruangannya. Dan tak lama kemudian Feny masuk ke ruangan Papanya.
Feby terkejut saat melihat Chandra sudah berada dalam ruangan Papanya sepagi ini. namun dia berusaha terlihat tenang dan santai saat mendapat sambutan senyum manis dari Chandra.
“Feby. Papa rasa tidak perlu mengenalkan kalian berdua. Kalian sudah saling kenal bukan? Karena kalian sangat akrab sejak kecil dulu.” Ucap Kenzo.
__ADS_1
“Iya, Om. Semalam kita juga habis makan malam.” ucap Chandra dan membuat Kenzo terkejut.
“Benarkah? Kok Papa nggak tahu sama sekali. Kenapa kamu nggak bilang sama Papa Feb?”
“Oh, itu Pa. semalam kebetulan saja kita bertemu. Jadi-“
Belum sempat melanjutkan ucapannya, ponsel Kenzo berdering. Lalu pria itu segera keluar ruangan dengan ponsel masih menempel di telinganya.
“Ayo antar aku ke control room sekarang!” ajak Chandra.
Mereka berdua segera keluar dari ruangan Kenzo. tanpa mereka sadari, ternyata mereka berjalan beriringan, hingga mereka sampai pintu bersamaan.
Aww
Feby meringis saat terhimpit tubuh Chandra. Dan Chandra segera mundur lalu memegang kedua bahu Feby dan menatap matanya.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1