Suami Kedua

Suami Kedua
Suamiku


__ADS_3

Kini Sean dan Lidia sudah berada di kamar mereka. Pria itu tidur sambil memeluk erat tubuh sang istri untuk mencari ketenangan hatinya yang bahkan sampai saat ini masih dihantui rasa bersalah. Lidia hanya diam dan Sean masih belum tidur meski matanya tertutup rapat.


Lama hanyut dalam rasa bersalahnya, akhirnya Sean pun tertidur dalam dekapan Lidia. Setelah itu Lidia perlahan bangun dan menuruni ranjang. Wanita itu berjalan mencari sesuatu dan berjalan menuju balkon.


Lidia memegang sebuah foto dengan ukuran kecil. Foto itu adalah foto mendiang suaminya yang selama ini terselip di dompetnya. Lidia terus memandangi wajah tampan mendiang suaminya dimana foto itu diambil saat awal pernikahan mereka.


“Mas, maafkan aku. mungkin terakhir aku mengunjungi makammu dulu aku sempat mengatakan kalau namamu masih tersimpan di tempat lain di hatiku.” Lirihnya sambil mengusap sudut matanya yang berair.


“Maafkan aku. Terpaksa aku akan menghapus namamu dalam hatiku. Kamu cukup menjadi kenangan terindah yang pernah aku miliki. Mulai sekarang aku akan terus mendampingi pria yang paling aku cintai tanpa ada bayang-bayang dirimu.”


Lidia perlahan menyobek foto Billal menjadi sobekan kecil tak berbentuk. Lalu membuangnya ke tempat sampah. Lidia melakukan semua itu karena sebuah alasan, yaitu Sean.


Melihat Sean yang sangat terpuruk akibat hancurnya perusahaan cabang yang dengan mudah berpindah tangan ke tangan orang lain, membuat Lidia juga merasakan kesedihan itu. Pria itu terus dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanat mendiang suaminya dengan baik. Dari situlah hati Lidia mencelos. Seakan suaminya hanya fokus dengan amanat Billal.


“Mulai sekarang, aku akan membuatmu fokus pada keluarga tanpa dibayang-bayangi rasa bersalah karena gagal menjaga amanat.” Lidia mengusap air matanya lalu beranjak menyusul suaminya yang sudah terlelap.


Keesokan paginya, Lidia terbangun lebih dulu. Sean terlihat masih sangat pulas tidurnya. Wanita itu bergegas mencuci muka ke kamar mandi kemudian melihat kamar kedua anaknya yang ternyata mereka masih tidur juga.


Lidia menuruni tangga menuju dapur. Disana ada Bi Rani yang sedang sibuk memasak. Lidia pun ikut membantu dan membuatkan kopi untuk suaminya.


“Nyonya, apakah keadaan anda sudah baik-baik saja?” tanya Bi Rani.


“Sudah, Bi.”


Beruntungnya obat yang diberikan dokter Lily kemarin cepat mengembalikan staminanya yang sedikit melemah akibat obat bius yang telah ia hirup. Bahkan tadi malam badannya sudah langsung membaik.


Selesai membantu di dapur, Lidia menaiki tangga lagi menuju kamarnya dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya.


Cklek


Terlihat Sean masih tidur dengan tengkurap sambil memeluk guling. Memang waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. biasanya pria itu sudah bangun. Mungkin karena efek kelelahan, jadi membuatnya sangat sulit membuka mata.


Lidia meletakkan kopi buatannya di atas nakas. Lalu tangannya membuka jendela kamar hingga cahayanya mampu menyorot wajah Sean yang masih terlelap.


Sean menggeliat sambil mengucek matanya. lalu hidungnya mencium aroma kopi yang begitu menenangkan.


“Sayang, kamu sudah bangun?” Tanya Sean dengan suara serak khas bangun tidur.

__ADS_1


Lidia mengangguk tersenyum lalu mengambil kopi dan diberikan pada suaminya. Sean memperbaiki posisi duduknya dan menerima kopi pemberian Lidia.


“Terima kasih, istriku.” Ucapnya setelah meneguk kopi yang rasanya sangat pas itu.


“Sama-sama, Suamiku.” Jawab Lidia dengan diiringi senyum termanis dari bibirnya.


Sean pun mengukir senyum saat mendengar kalimat istrinya baru saja. Rasanya sangat manis sekali saat Lidia memanggil dengan sebutan suamiku. Dan semalam juga Sean mengingat saat pertama kalinya Lidia memanggilnya Sayang.


“Kenapa senyum terus?” tanya Lidia.


“Nggak apa-apa. Hari ini aku sangat bahagia sekali.” Jawab Sean sambil terus mengulum senyum.


“Aneh. Sekarang bangunlah, sudah siang.” Ucap Lidia lalu beranjak meninggakan ranjang.


Shrek


Grep


Sean dengan cepat menarik tubuh istrinya hingga posisi Lidia duduk di pangkuan Sean. Lalu memeluknya dengan erat sambil mengendus aroma tubuh sang istri yang sangat menenangkan.


“Aku mencintaimu, Lidia.” Ucapnya sambil menatap dalam mata Lidia.


Perlahan Lidia mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Sean. Sean awalnya terkejut dengan sikap istrinya pagi ini, namun dia sangat senang. Akhirnya dia membalas ciuman hangat dari istrinya itu.


Lama memagut hingga membuat nafas keduanya terengah, kemudian mereka berdua mengakhiri ciuman itu.


“Terima kasih atas cintamu selama ini, istriku.” Ucap Sean sambil mengusap sudut bibir Lidia yang masih basah.


“Mulai sekarang, aku tidak ingin melihat wajah kesedihan kamu lagi. apapun masalah yang menimpa keluarga kita nanti, aku akan terus menguatkanmu. Dalam hati dan pikiran kamu hanya ada namaku dan kedua anak kita.” Ucap Lidia dengan suara tegas.


Sean terenyuh dengan ucapan istrinya. Dia berjanji akan menuruti semua ucapan Lidia baru saja dan terus bersemangat membuat keluarganya bahagia.


“Apa agenda kamu hari ini?” tanya Lidia sambil melipat selimut membenahi kamar yang acak-acakan.


“Aku di rumah saja. Bekerja di rumah. karena aku tidak ingin meninggalkan wanitaku.” Jawab Sean.


“Baiklah. Aku akan membantumu bekerja.”

__ADS_1


“Tidak perlu, Sayang. Aku masih sanggup bekerja sendiri. Kamu cukup menjadi penyemangatku saja.”


“Apa kamu meragukan kemampuanku? Meskipun begini, aku juga seorang sarjana loh, apa perlu aku ingatkan kalau aku dulu pernah menjadi asisten Jenny?” ucap Lidia dengan nada kesal yang dibuat-buat.


Sean merasa lucu dan terhibur dengan sikap istrinya pagi ini yang sangat menggemaskan. Lalu pria itu berdiri dan mengacak rambut istrinya.


“Pria sejati tidak akan membiarkan wanitanya hidup dalam kesusahan.” Ucap Sean lalu melenggang masuk ke kamar mandi.


Lidia hanya menggelengkan kepalanya sambil terus mengukir senyum bahagia.


***


Sementara itu pagi ini tidak ada kegiatan yang dilakukan oleh Xander. Setelah perusahaan milik Sean yang selama ini ia pegang sudah berpindah tangan, otomatis dia sudah ditendang oleh si pemilik perusahaan yang baru. Begitu juga dengan Silvia. Wanita itu juga dipecat dari perusahaan yang selama ini memberikan nafkah untuk dirinya dan adik-adiknya.


Xander menyingkap korden kamarnya. Melihat cuaca pagi ini yang mendung, membuatnya enggan melakukan apapun. Karena memang dirinya sudah tidak punya pekerjaan.


Badan Xander sebenarnya masih sangat lelah setelah seharian kemarin berjuang menghadapi kekacauan, walau akhirnya dia gagal memperjuangkan perusahaan.


Xander menghembuskan nafasnya pelan. Hari ini dia akan melihat perkembangan keadaan Bryan setelah kecelakaan yang dialaminya semalam. Dia harus memastikan pria itu tidak bisa berbuat macam-macam lagi terhadap Sean dan keluarganya.


Xander berjalan keluar dari kamar hendak membuat kopi. Rasanya memang sangat nikmat jika pagi ini menyeduh sambil menikmati udara mendung di pagi hari. Dan saat hendak menuju balkon dengan membawa seecangkir kopi panas, terdengar deringan ponsel yang cukup nyaring. Tanpa melihat id pemanggilnya, Xander menerima panggilan itu dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


“Halo?”


“Tuan, apakah keadaan anda baik-baik saja?”


Argghhhh


Entah kenapa suara lembut perempuan itu sangat menggetarkan hati Xander.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Ea..eea..ea... terXander-Xander😂😍


Happy Reading‼️


__ADS_2