
Setelah menidurkan balita itu. Leon langsung mohon pamit. Pria itu menolak sekalipun Katie menawarkan makan siang padanya dan juga Karen.
Entah kenapa, Leon merasa sesak ketika berada di dekat Angelina. Melihat bagaimana perlakuan mesra dan lembut pria yang menjadi suami pria itu. Meskipun, Leon merasa nyaman dengan segala perhatian yang di berikan oleh Katie padanya. Sekali lagi, Leon hanya ingin menjaga perasaan Karen.
Beberapa bulan kemudian, tubuh baby Ar demam. Semua panik dan segera membawa bayi itu kerumah sakit. Dokter memutuskan bahwa, balita tersebut harus menjalani perawatan intensif.
Tak lama keluar hasil pemeriksaan laboratorium baby Argon.
"Putra kecil kalian menderita kelainan darah." Diagnosis tersebut bagaikan sebuah petir yang menghantam kepala Angelina dan juga Adam.
"Salah satu jalan pengobatannya adalah operasi cangkok tukang sumsum belakang." Penjelasan dokter, membuat mereka semua yang berada dalam satu ruangan itu hampir pingsan.
Terkecuali Angelina. Wanita itu memasang senyumnya, karena setidaknya putra kecilnya itu memiliki kesempatan. Tatapannya langsung mengarah pada Adam, suaminya. Akan tetapi, pria itu nampak pucat pasi bagaikan mayat.
"Kau harus menyelamatkan anak kita, Ad. Kau pasti bisa mendonorkan sedikit tulang sum-sum milikmu, karena kau adalah ayahnya. Kalian satu genetik bukan?" ucap Angelina dengan mata penuh linangan air mata.
Wanita ini, bahkan tak mampu memejamkan matanya selama dua hari ini.
"Kemungkinan besar genetik milikku akan sana dengan baby Ar. Karena aku adalah pamannya. Kakak dari ayahnya. Ya, aku harus optimis." Adam membesarkan hatinya. Meyakini bahwa, tulang sum-sum miliknya akan cocok.
Karena jika tidak, entah apa yang akan ia jelaskan pada Angelina.
Hasil pemeriksaan dokter pun telah turun. Hal itu menjelaskan bahwa, kecocokan dari tulang sum-sum milik Adam memiliki kecocokan sekitar 89%.
Akan tetapi, Damian mengatakan pada Angelina bahwa kecocokan antara Adam dan Argon hampir seratus persen.
Damian memerintahkan agar tim medis segera melakukan operasi. Kebetulan, yang menangani operasi tersebut adalah kawan dari Karen.
Leon yang setiap hari menjemput Karen, mau tak mau sering bertemu dengan anggota keluarga Jackson.
Lelaki berwajah ketimuran ini pun turut prihatin atas apa yang di alami oleh balita tampan itu. Ia berharap operasinya berjalan lancar. Tanpa sadar, air mata pun menetes di kedua pipinya.
Perasaannya ternyata cukup mendalam terhadap baby Argon.
Adam tak bisa menjauh sedikitpun dari Angelina. Karena, mental wanita itu pada saat ini tengah di uji kembali.
__ADS_1
Adam terus menerus menenangkan agar Angelina tidak berpikiran buruk. "Putra kita adalah anak yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja. Besok, adalah masa operasinya. Kau harus bisa tetap semangat," bisik Adam seraya berkali-kali melabuhkan ciumannya di pucuk kepala dan juga bibir Angelina.
"Aku takut Ad. Belum lama kita hampir kehilangan Daddy. Sekarang, bayi kita," ucap Angelina parau.
Adam membawa istrinya itu kedalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menangis sampai puas. Adam yakin, operasi itu pasti berjalan lancar.
Leon datang bersama Karen. Adam menyambut maksud baik dari lelaki itu. Kini, dirinya tak lagi cemburu karena Leon telah mengatakan bahwa dirinya akan menikahi Karen dalam waktu dekat.
Pada saat itulah, Adam tersadar bahwa dirinya terlalu berlebihan.
"Putra kalian pasti baik-baik saja," ucap Leon dengan suara serak. Angelina tau, pria di hadapannya ini tengah berusaha payah menahan tangisnya. Selama beberapa bulan ini, kedekatan Leon dengan Argon memang terbilang sangat menyentuh.
"Terimakasih, sudah menyayangi putraku dengan begitu besar," ucap Angelina seraya menundukkan kepalanya. Leon pun membalas sikap Angelina padanya.
Memang tak dapat di pungkiri jika hatinya ikut sakit dan nyeri, di saat ia melihat bagaimana tubuh sekecil itu sudah di kelilingi oleh alat-alat rumah sakit.
Entah bagaimana perasaan Angelina yang notabene adalah ibunya. Pasti sangat hancur sekali.
Keesokan harinya, operasi pun dilaksanakan. Adam dan putranya telah berada di satu ruangan yang sama. Adam menoleh ke brangkar yang ada di sebelahnya. Dimana di atas sana tergeletak lemah putranya yang sangat aktif itu. Siapa sangka jika ternyata di dalam tubuh kecilnya bersarang suatu penyakit berbahaya.
Perlahan, titik kesadaran Adam mulai menurun di saat, petugas medis memasukkan obat bius melalui punggung tangannya. Dimana obat itu, akan mengalir melalui pembuluh darahnya.
Bahkan, untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Damian menyewa Laura untuk mengawasi keadaan menantunya.
Laura hanya bisa duduk tenang di sebelah Aziel. Tak ada satupun, dari orang ini yang membuka mulutnya selama berjam-jam.
Tiba-tiba.
"Um, Tuan. Bisakah anda menolong saya?" tanya Laura kepada pria kaku di sebelahnya ini. Aziel pun menoleh seketika.
"Apa yang anda butuhkan. Katakan saja," jawab Aziel datar.
"Pria ini, dia manusia apa robot sih? Wajahnya kok bisa tanpa ekspresi gitu ya," gumam Laura heran. Tetapi, wanita ini terkesiap dari lamunannya ketika Aziel menegurnya.
"Nona! Apa yang anda butuhkan!"
__ADS_1
"Ah, aku butuh minum dan roti. Aku belum sarapan sejak pagi," sahur Laura jujur.
Tanpa berkata apapun tau-tau Aziel bangun dan berlaku begitu saja.
"Hei, dia bahkan tidak bertanya minuman apa yang mau ku beli. Juga, roti rasa apa yang mau ku makan," sungut Laura.
Wanita itu pasrah saja. Setidaknya ia bisa mengisi perutnya.
Tak lama, Aziel kembali dengan beberapa botol air mineral dan juga beberapa potong roti. Bahkan, pria tinggi tegap itu memberikannya juga pada anggota keluarga Jackson.
"Nyonya, silakan," ucap Aziel seraya menyerahkan minuman serta beberapa roti pada Katie.
"Terimakasih, Az. Kebetulan, kami memang butuh minum," ucap Katie. Saking khawatir mereka semua sampai menahan rasa haus itu.
Setelah itu, Aziel kembali ke sebelah Laura. Melihat sekilas ketika wanita itu kesulitan membuka tutup botol mineral.
Tanpa bicara, Aziel langsung meraihnya dan memutar tutupnya cepat. Setelah terbuka, lelaki itu mengembalikannya pada Laura.
"Pria ini. Apakah dia manusia salju yang dingin? Setidaknya, dia ada perhatian juga. Menarik!" Gumam Laura dalam hatinya. Mencela sekaligus memuji, Aziel.
Pertama kalinya setelah perasaannya terhadap Adam kandas. Laura kembali mengagumi sosok laki-laki. Bahkan, wanita itu tanpa sadar terus tersenyum.
Tak berapa lama kemudian.
Lampu di depan ruang operasi telah berganti warna. Hal itu, menandakan bahwa kegiatan operasi telah selesai.
Benar saja, beberapa petugas medis terlihat mendorong brangkar dengan Adam di atasnya. Pria itu belum sadarkan diri dan akan dipindah ke ruang perawatan biasa. Sementara, balita mereka akan di bawa ke ruangan khusus.
Damian mengajak Katie dan Angelina untuk menemui dokter di ruangannya. Pada saat itulah, Angelina dan yang lainnya akhirnya dapat bernapas lega.
"Operasinya berhasil. Akan tetapi, pasien tetap harus menjalani proses observasi. Semoga, donor sum-sum tersebut benar-benar di terima dengan baik oleh tubuh cucu anda," jelas dokter wanita itu kepada Damian.
Angelina dan Katie langsung berpelukan.
"Jadi, operasinya berhasil? Syukurlah!" Leon pun ikut merasa lega. Karen memakluminya. Pria yang akan menikahinya ini ternyata memiliki sifat lembut terhadap anak kecil.
__ADS_1
"Aku jadi tidak sabar ingin memiliki anak denganmu, Leon," gumam Karen.
...Bersambung ...