Suami Kedua

Suami Kedua
Frustasi


__ADS_3

Xander memacu mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa mengejar mobil Bryan. Keadaan jalanan sepi namun cukup berkelok-kelok. Pria itu tetap saja mengejar mobil Bryan agar lebih cepat pria itu menemui ajalnya.


Sementara Bryan masih melajukan mobilnya dengan kencang. Dia melirik ke belakang dan mengetahui bahwa Xander tengah mengejarnya. Pria terus memacu mobilnya. Bahkan dia juga membelok-belokkan mobilnya untuk mengecoh Xander.


Tepat di jalan tanjakan dengan tikungan tajam, Xander dapat melihat sorot lampu kendaraan yang begitu terang sedang melaju dengan arah berlawanan. Senyuman tipis terbit dari bibirnya.


“Tidak perlu susah payah aku mengantarmu ke neraka, karena kamu akan berangkat sendiri.” Gumamnya sambil terus memacu mobilnya dengan kencang. Dan sesekali menekan klakson mobilnya agar Bryan semakin panik.


Sorot lampu kendaraan itu terlihat semakin dekat. Bryan masih belum menyadari keadaan jalanan di depannya. Karena pria itu masih terus melihat ke belakang dimana Xander berada. Dan dalam jarak kurang dari dua ratus meter, sorot lampu truk tanki di depan mobil Bryan begitu silau hingga membuat Bryan terkejut dan kualahan mengendalikan laju mobilnya.


Ckiittttttttt


Dengan cepat Xander menepikan mobilnya meski sempat mendapat amukan dari beberapa kendaraan yang melaju di belakangnya. Dia masih memantau Bryan yang dengan susah payah menghindar truk tanki yang semakin dekat dengan mobilnya. Saat dia menginjak rem, betapa terkejutnya saat rem mobilnya tidak berfungsi.


Ckittttttt


Terdengar suara rem truk yang begitu nyaring dan sopirnya membanting setir ke kanan.


Brakk


Brakk


Kecelakaan beruntun pun tak bisa dihindarkan lagi. mobil Bryan yang berada paling depan tampak terpelanting setelah badan mobil menabrak truk tanki di depannya. Tidak hanya itu, di belakang truk tanki juga ada truk besar lagi yang melaju dan tidak dapat menjangkau kendaraan yang ada di depannya.


Brakk


Mobil Bryan pun sudah hancur saat terakhir menabrak truk besar di belakang truk tanki tadi. seketika jalanan menjadi macet. Dengan cepat Xander berlari mendekati mobil Bryan yang sudah tak berbentuk itu. Begitu juga beberapa orang yang hendak menolong korban lainnya.


Xander mencium bau bensin yang tercecer dari mobil Bryan. Beberapa tim penyelamat yang sudah tiba di tempat lokasi berusaha mengeluarkan Bryan dari mobil yang sudah ringsek itu. Dan tiba-tiba saja,


Booommmmm


Mobil itu meledak, hingga tim penyelamat yang membantu Bryan terlihat ada yang terpental jauh. Sedangkan Bryan sendiri? Xander tidak tahu pasti. Entah sudah mati atau masih sekarat, karena sudah berhasil diselamatkan. Setidaknya dia cukup puas dengan menyaksikan penderitaan Bryan.


Xander berjalan menuju mobilnya yang terparkir jauh dari TKP. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Sean untuk menyampaikan keadaan Bryan terkini.


“Halo?” sapa Sean dari balik sambungan teleponnya.


Xander menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum menyampaikan kabar terbaru tentang Bryan. Dia juga merasa bersalah karena tidak berhasil menyelamatkan perusahaan.


“Maafkan kesalahan Silvia. Karena dia, kamu kehilangan perusahaan itu. Dan aku gagal.” Ucap Xander dengan nada frustasi sambil menelungkupkan badannya di atas kemudi.

__ADS_1


Sean disana masih diam. Bukan dia kecewa karena ucapan Xander baru saja. Hanya saja dia merasa telah gagal menjaga amanat Billal, hingga perusahaan itu bisa jatuh dengan mudah ke tangan musuh. Namun dia mencoba memahami semua masalah ini. setidaknya hanya perusahaan saja yang hilang. Keadaan anak istrinya selamat, dan juga Silvia.


“Apakah Silvia baik-baik saja?” tanya Sean mengalihkan topik pembicaraan.


“Dia selamat.” Jawabnya singkat.


“Dan baj****n itu aku pastikan tidak bisa lagi berulah….


Xander menjelaskan semua tindakannya tadi mulai dari menghajar Bryan sampai membuat rem mobilnya blong hingga dirinya bisa memastikan sendiri kalau Bryan terlibat kecelakaan hebat.


“Terima kasih, Xander. Kamu sudah berjuang keras. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ada kamu. Dan satu lagi, Silvia bisa selamat pun aku ikut merasa lega.” Ucap Sean.


“Tapi, aku berjanji suatu saat akan mengembalikan perusahaan itu ke tangan kamu lagi.”


“Kamu jangan pikirkan itu dulu. Lebih baik fokuslah dengan Silvia.”


Ucapan Sean mengenai Silvia membuat Xander tersadar. Lalu dia segera memutus sambungan teleponnya dengan Sean dan pergi untuk menemui Silvia.


Xander mengemudikan mobilnya keluar dari kemacetan. Tak lama kemudian dia sudah sampai rumah Silvia. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. namun dia tetap ingin menemui perempuan itu.


Belum sempat Xander mengetuk pintu, terlihat Vano sudah membukakan pintu rumahnya.


“Kakak sedang istirahat di kamarnya, Tuan. Silakan masuk!”


Vano tidak keberatan mempersilakan Xander masuk, karena dia yakin kalau Xander adalah pria baik-baik. Meski dia tidak tahu pasti kejadian apa yang telah menimpa kakaknya.


Xander masuk ke dalam kamar Silvia. Perempuan itu tampak tidur dengan silimut yang menutupi tubuhnya sampai sebatas da-da. Terlihat wajah Silvia yang begitu sembab karena lama menangis. Hati Xander ikut sakit mengingat perbuatan Bryan pada Silvia tadi.


Pria itu mengusap lembut kepala Silvia. Tak lama kemudian mata Silvia terbuka karena merasa sedikit terusik.


“Tuan!” panggilnya.


Silvia bangun dari tidurnya. Dia melihat keadaan Xander juga masih berantakan.


“Kamu tidur saja. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja.” Ucap Xander.


“Maafkan saya, Tuan. Karena saya, Tuan Sean harus kehilangan perusahaannya. Andai saja saya tidak-“


Grep


Xander memeluk erat tubuh Silvia. Justru dia yang merasa ssangat bersalah pada Silvia karena tadi sempat menuduhnya ikut campur dalam masalah perusahaan. Ditambah lagi, Silvia sampai disekap oleh Bryan dan mendapatkan perlakuan tidak pantas.

__ADS_1


“Jangan bahas itu lagi. yang terpenting saat ini kamu sudah aman. Maafkan aku terlambat menyelamatkanmu.” Sahut Xander lalu mengurai pelukannya.


Xander melihat leher jenjang Silvia yang terdapat noda merah bekas perbuatan Bryan tadi. pria itu kembali marah. Lalu mendekatkan wajahnya ke leher Silvia. Xander mengecup bekas noda merah itu untuk menghilangkan jejak pria berengsek itu.


Silvia tersentak kaget dengan perbuatan yang dilakukan oleh Xander. Namun dia sadar dengan alasan Xander melakukan itu semua.


“Aku sudah menghapus jejak si berengsek itu. Dan aku pastikan setelah ini kamu akan aman.” Ucap Xander dan Silvia mengangguk.


***


Sementara itu Sean saat ini tengah duduk seorang diri di ruang kerjanya. Wajahnya tampak frustasi karena menyesali dirinya sendiri yang telah gagal menjaga perusahaan milik Billal. Dia tahu persis perjuangan Billal membangun perusahaannya itu. Dan kini dengan mudahnya, orang lain mengambil semuanya. Dan lebih parahnya dirinya gagal menyelamatkan perusahaan itu.


Cklek


Lidia masuk ke ruang kerja Sean. Wanita itu sudah tahu masalah yang sedang terjadi.


“Sayang!” lirih Lidia lalu memeluk suaminya yang sedang duduk bersandar di sofa.


Sean membalas pelukan hangat istrinya yang begitu menenangkan. Meski dia sudah kehilangan salah satu perusahaannya, namun Sean masih bersyukur karena anak istrinya selamat.


“Jangan terlalu larut dalam kesedihan, aku tahu yang kamu rasakan saat ini.” ucap Lidia.


“Aku sangat bersalah pada mendiang Tuan Billal karena gagal memimpin perusahaan.”


“Jangan bilang seperti itu. Keluarga kita masih utuh seperti saja aku sangat bersyukur.”


“Maaf. Terima kasih, Lidia. Kamu selalu ada di sampingku dalam keadaan hancur seperti ini.” ucap Sean lalu kembali memeluk istrinya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


 


 

__ADS_1


__ADS_2