
Silvia pagi ini terbangun dengan tubuh yang lumayan lebih baik setelah semalam merasakan kelelahan di sekujur tubuhnya. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. dan mungkin kedua adiknya sudah berangkat ke sekolah.
Setelah mencuci mukanya, Silvia meraih ponselnya dan menghubungi nomor Xander. Entah kenapa melihat keadaan Xander semalam yang tidak baik-baik saja membuatnya sangat khawatir.
“Halo?” sapa Xander.
“Tuan, apakah keadaan anda baik-baik saja?” tanya Silvia dengan perasaan cemas.
Perasaan Silvia semakin cemas kala tak lagi mendengar suara Xander. Dia takut jika pria itu benar-benar sakit mengingat semalam wajahnya yang tampak lebam habis berkelahi dengan Bryan. Silvia tidak tahu kalau sebenarnya pria yang sedang ia khawatirkan saat ini sedang mengatur ritme detak jantungnya yang semakin menggila setelah mendengar suaranya.
“Halo, Tuan Xander? Apakah anda sakit?” Silvia bertanya lagi dan Xander masih belum menjawabnya.
“Baiklah kalau anda masih butuh istirahat, saya tidak akan mengganggu-“
“Aku baik-baik saja, Silvia.” Sahutnya cepat kala Silvia hendak memutuskan sambungan teleponnya.
Silvia sangat bersyukur dan bisa bernafas lega. Kemudia mereka berbincang-bincang ringan. Silvia kembali meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan kemarin. Namun Xander juga berulang kali meminta agar tidak membahas masalah itu. Baginya yang terpenting Silvia selamat.
“Maaf Silvia, kamu harus kehilangan pekerjaan kamu. Karena tidak mungkin pemegang perusahaan yang baru itu masih memperkerjakan aku dan kamu yang notabene memahami seluk beluk perusahaan.” Ucap Xander.
“Tidak masalah, Tuan. Nanti saya akan mencari pekerjaan baru lagi.” jawab Silvia.
“Baiklah. Aku akan membantumu mencari pekerjaan jika urusanku sudah selesai. sekarang lebih baik kamu istirahat saja di rumah.”
Setelah itu Xander dan Silvia mengakhiri pembicaraannya.
Setelah mendengar suara Silvia yang menentramkan hati, Xander melanjutkan meminum kopi yang sudah ia buat tadi. setelah ini dia akan pergi ke rumah sakit.
Tepat pukul sepuluh pagi Xander keluar dari unit apartemennya dan hendak pergi ke rumah sakit. Namun saat di mobil, dia tidak langsung mennghidupkan mesin mobilnya lantaran mendapat telepon dari seseorang yang selama ini menjadi rekan bisnisnya.
“Ya, selamat pagi Tuan Kenzo!”
“Selamat pagi, Tuan Xander. Maaf menggangu waktu anda, saya hanya ingin meminta klarifikasi pada anda, kenapa anda membatalkan kontrak kerjasama ini secara sepihak?”
Sebelum menjawab pertanyaan dari Tuan Kenzo, Xander menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata orang baru pemegang perusahaan yang kini sudah sah menjadi milik David itu selain memecat dirinya dan Silvia, dia juga memutuskan kontrak kerjasamanya dengan perusahaan Tuan Kenzo. Itu tandanya David sangat tahu dengan orang-orang yang dekat dengannya dan Sean. Jadi dia memutuskan kerjasamanya.
__ADS_1
“Maaf, Tuan Kenzo. Ceritanya sangat panjang. Saya hanya memberitahu anda bahwa mulai hari ini perusahaan milik Tuan Sean itu bukan lagi miliknya dan sudah berpindah tangan. Untuk penjelasannya, lebih baik kita bicarakan dengan tatap muka saja.” Jawab Xander.
“Baiklah Tuan. Tapi saya sudah tidak lagi tinggal di kota B. mungkin lebih baik saya bertemu langsung dengan Tuan Sean saja. Kebatulan kita tinggal di kota yang sama.”
“Baiklah, Tuan Kenzo. sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.”
Setelah itu Xander baru melajukan mobilnya sesuai dengan tujuannya tadi, yaitu rumah sakit. Xander langsung menuju rumah sakit terdekat dengan lokasi dimana kecelakaan tadi malam terjadi. Dan ternyata benar, Bryan dirawat disana.
Xander tidak langsung melihat keadaan Bryan. Dia bertanya lebih dulu pada perawat yang bertugas di ruang rawat Bryan. Perawat itu mengatakan kalau sejak semalam Bryan belum sadarkan diri di dalam ruangan ICU. Seluruh badannya melepuh akibat luka bakar. Ditambah salah satu kakinya yang harus diamputasi akibat terjepit badan mobil.
Perawat itu juga mengatakan kalau sampai saat ini belum ada sanak saudara yang datang mengunjunginya. Hanya satu orang saja yang diyakini Xander itu adalah anak buah Bryan. Kemudian Xander meminta ijin pada perawat untuk melihat keadaan Bryan dengan alasan sebagai teman baiknya.
Terlihat dari balik pintu berkaca, saat ini keadaan Bryan sangat memprihatinkan. Namun Xander sama sekali tidak merasa iba. Baginya Bryan pantas mendapatkan imbalan itu semua karena memilih lawan yang salah.
“Selamat menikmati penderitaan panjangmu!” gumamnya lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Cuaca di luar masih mendung hingga menurunkan rerintik hujan yang tidak begitu deras. Xander memutuskan pergi ke rumah Silvia untuk melihat langsung kabar perempuan itu. Lebih tepatnya untuk melepas rindu.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mobil Xander sudah tiba di depan rumah Silvia yang tampak sepi. Mobil Vano juga tidak ada, mungkin adiknya Silvia itu sedang narik.
Tok tok tok
“Tuan Xander?” Silvia terkejut melihat si pengetuk pintu.
“Apakah aku boleh masuk?” tanyanya saat Silvia masih diam entah apa yang dipikirkannya.
“Oh maaf, silakan masuk Tuan.”
Xander masuk lalu duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Silvia menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.
“Silakan diminum, Tuan!” Silvia meletakkan teh itu di atas meja.
“Hmm..” gumamnya namun matanya tak lepas dari Silvia.
Silvia menjadi salah tingkah mendapat tatapan seperti itu dari Xander. Bahkan dia juga bingung mau bicara apa, seakan bibirnya kelu dengan detak jantung yang berdegup kencang.
__ADS_1
“Kemana adik-adik kamu?” tanya Xander memecah keheningan. Walau sebenarnya pertanyaan itu tidak penting karena sudah tahu jawabannya.
“Vano sudah berangkat narik dari tadi pagi. Deva dan Angel sedang sekolah, Tuan.” Jawabnya.
“Ehm, bisakah kamu tidak lagi memanggilku Tuan? Aku bukan lagi bosmu, Silvia.”
“Lalu saya harus memanggil anda apa?” tanyanya bingung.
“Panggil nama saja biar terdengar lebih santai. Dan jangan formal lagi. cukup aku kamu saja.”
“Baiklah. Akan sa- eh, aku biasakan.”
Setelah itu mereka berdua terdiam lagi. hening. Tidak ada pembicaraan lagi. hingga akhirnya suara petir yang menggelegar membuat Silvia tersentak kaget.
Duaarrrrr
Reflek Silvia menutup telinganya dengan kedua tangan dan tubuhnya meringkuk di atas sofa. Xander pun juga reflek memeluk tubuh Silvia yang menurutnya sedang ketakutan mendengar suara petir. Padahal Silvia hanya kaget.😂
Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Petir pun masih menyambar meski dengan volume yang rendah. Silvia tersadar saat ini sedang berada dalam pelukan Xander. Perempuan itu berusaha melepas diri namun Xander semakin mempererat pelukannya.
“Xander?” panggilnya sambil mendongak menatap mata pria itu.
Bukannya menjawab, Xander justru terpesona dengan bibir merah muda milik Silvia. Dan tidak menunggu lama, Xander mendaratkan ciumannya pada bibir Silvia. Memagutnya lembut penuh damba. Dengan mata saling terpejam, mereka begitu menikmati ciuman itu di tengah hujan deras yang sedang turun membasahi bumi.
“Ngel, kamu jangan beregerak terus dan jangan mencoba membuka mata kamu. Aku juga masih merem nih.”
.
.
.
*TBC
😂😂😂 sementara terXander-Xander dulu yee🤗😂
__ADS_1
Happy Reading‼️