Suami Kedua

Suami Kedua
Kepanikan Sean


__ADS_3

“Sayang!!”


“Mama!!”


Teriak Sean dan ketiga anaknya saat melihat Lidia sudah jatuh pingsan dengan wajah yang memucat. Sean sangat panik. Lantas ia segera menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


Antara cemas dengan keadaan istrinya, dan sedih tidak bisa melanjutkan peseta ulang tahun anaknya, akhirnya Sean lebih memilih Lidia dan menitipkan anaknya pada penghuni rumah lainnya.


“Kavi, Sayang. Ayah bawa Mama ke rumah sakit dulu ya?” ucap Sean setelah membawa Lidia ke dalam mobil.


Untung saja bocah kecil itu mengerti. Kavi hanya mengangguk, namun raut wajahnya juga ikut mengkhawatirkan keadaan Mamanya.


Sean pun segera membawa Lidia ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Lidia masih menutup matanya. Sesekali Sean mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Entahlah, Sean sangat takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya.


Tak lama kemudian mata Lidia mulai terbuka. Meski ia masih merasakan pening di kepalanya, namun kesadarannya sudah kembali.


“Sayang, bertahanlah sebentar. Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Ucapnya lembut dengan salah satu tangannya masih memegang kemudi.


Lidia hanya mengangguk samar. Karena memang dia merasakan lemas di seluruh tubuhnya.


Beberapa saat kemudian Sean sudah tiba di rumah sakit. Lebih tepatnya rumah sakit milik dokter Smith yang sudah lama berteman baik dengan Sean.


Lidia segera mendapat pertolongan dari pihak rumah sakit untuk segera mendapatkan pemeriksaan.


Sean diminta menunggu di luar ruangan saat Lidia sedang diperiksa oleh dokter.

__ADS_1


Seorang perawat membuka pintu ruangan dimana Lidia diperiksa, dan tak lama kemudian seorang dokter ikut keluar dari ruangan itu.


“Bagaimana keadaan istri saya, dok?” tanya Sean.


“Tekanan darah istri anda sangat rendah dan tubuhnya lemah. Terpaksa saya memberikan cairan infus. Dan tunggu sesaat lagi, karena istri anda akan dibawa menuju poli obgyn.” Ucap dokter menjelaskan.


“Poli obgyn? Ada apa dengan istri saya, dok? Apakah ada masalah dengan Rahim istri saya?” tanya Sean sangat khawatir.


“Saya hanya ingin memastikan keadaan janin dalam kandungan istri anda.”


Deg


“Janin? Apa maksudnya, dok? Apakah istri saya sedang hamil?” tanya Sean dengan raut wajah bingung.


Dokter mengangguk samar sambil tersenyum tipis. “Iya. Istri anda saat ini tengah mengandung. Baiklah, anda boleh masuk untuk melihat keadaan istri anda. Nanti akan ada perawat yang akan menjemput istri anda dan membawanya ke ruangan dokter kandungan.”


Sementara di dalam ruangan itu tampak Lidia sedang tidur telentang dengan lengan tangan sebelah kiri sudah terpasang selang infus. Meski wajahnya pucat, namun Lidia bisa mengulas senyumnya saat melihat sang suami masuk.


“Sayang! Apakah ini benar? Kamu sedang hamil?” tanyanya seraya menciumi wajah Lidia berulang kali.


“Aku juga tidak menyangka kalau akan hamil lagi.” jawabnya setelah Sean duduk di samping brankar.


“Ini rezeki dari Tuhan, Sayang. Kita patut mensyukurinya.” Sahut Sean.


Lidia hanya mengangguk. Namun tak lama kemudian wanita itu seperti sedang dilanda kecemasan. Mengingat usianya sekarang sudah tiga puluh tujuh tahun. Lidia takut jika terjadi sesuatu dengan anaknya maupun kandungannya.

__ADS_1


“Kenapa, hem?” tanya Sean.


“Usiaku sudah tidak muda lagi, Sean. Kavi juga masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang dariku.”


“Hei, bukankah sudah aku katakan kalau ini rezeki dari Tuhan. Apa kamu lupa kalau mempunyai suami yang selalu siaga. Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku akan selalu menjaga anak-anak kita dan juga anak yang sedang dalam kandunganmu dengan baik.”


Akhirnya kegundahan dalam hati Lidia perlahan menguap setelah mendapatkan semangat dari Sean. Lidia hanya teringat kejadian dimana dulu ia diketahui hamil Kavi saat tengah merayakan pesta ulang tahun Viana. Dan saat itu tidak ada Sean di sampingnya.


Tak lama kemudian ada seorang perawat masuk dengan mendorong kursi roda untuk membawa Lidia menuju ruangan dokter kandungan. Sean pun ikut pergi kesana.


Kini Lidia sudah berada di atas brankar untuk dilakukan pemeriksaan USG. Dan ini adalah pengalam pertama Sean menemani sang istri memeriksakan kandungannya. Sean begitu antusias melihat layar monitor yang menampilkan hasil pemeriksaan kandungan sang istri.


Selesai melakukan pemeriksaan, Lidia diminta kembali duduk untuk mendapatkan penjelasan dari dokter. dan dokter mengatakan kalau saat ini usia kandungan Lidia sudah lima minggu. Meski keadaan janinnya kuat, namun kondisi Lidia yang sedang lemah dan tekanan darahnya rendah, dokter tetap meminta Lidia istirahat dengan cukup.


“Dok, apa tidak masalah jika saya mengandung di saat usia saya yang sudah tidak muda lagi seperti ini?” tanya Lidia.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Selama keadaan janin kuat dan kondisi ibu juga sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.” jawab dokter itu sambil tersenyum.


Lidia dan Sean pun ikut merasa lega setelah mendengar penjelasan dokter. setelah itu Lidia kembali ke ruang perawatannya. Dan wanita itu bisa pulang tanpa menjalani rawat inap setelah cukup mendapatkan cairan infus.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️💕


__ADS_2