Suami Kedua

Suami Kedua
Membawaku


__ADS_3

Kila duduk menatap kosong ke depan, saat suara doa yang dilantunkan pria paruh baya di depannya, mengalir ke dalam telinga. Dia masih tak percaya dengan apa yang terjadi … Semuanya terjadi begitu cepat, dan sekarang dia harus menjadi istri siri dari kakak iparnya sendiri. Kila melirik ke arah Rama, yang tengah berbincang setelah doa berakhir … Dia menyalami pria paruh baya tersebut, sebelum memerintahkan Kila untuk berjalan mengikutinya.


Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang mereka keluarkan, “aku sudah melakukan apa yang engkau perintahkan. Bisakah, aku dilepaskan sekarang?” tanya Kila dengan tetap menatap lurus ke depan.


“Lepas? Kau ingin pergi ke mana? Aku, tidak ingin menanggung hidup seseorang secara percuma,” ucap Rama, sambil melirik ke arah Kila sebelum membuang kembali pandangan ke depan.


“Aku, tidak memintamu untuk menanggung hidupku. Kau, yang memaksaku untuk menikah … Bahkan aku, sama sekali tidak berganti pakaian yang layak untuk melakukan akad tadi. Kita telah menikah secara agama, itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi wasiat Gilang,” jawab Kila, yang enggan untuk mengangkat pandangan.


Kila melirik ke arah Rama, saat mobil yang mereka kendarai berhenti, “kau, harus bertanggung jawab dengan kematian adikku,” sahut Rama singkat, sembari kembali menjalankan mobil tersebut.


Mobil itu lagi-lagi berhenti di sebuah rumah mewah dengan pagar besi yang tinggi. Rama keluar dari mobil, disusul Kila yang turut melakukan hal yang sama. “Bawa barangmu!” perintah Rama singkat, sebelum dia berjalan masuk membuka pintu rumah mewah di depannya.


Tanpa banyak bertanya, Kila melakukan apa yang Rama pinta lalu berjalan menyusulnya. Dia semakin menggenggam erat bawaannya, saat Rama sendiri pun mengajaknya kian jauh masuk ke dalam rumah, “di mana Citra?” tanya Rama, kepada salah satu pembantu di rumahnya.


“Nyonya, dia terbang ke Singapura untuk arisan … Nyonya berkata, akan pulang dalam beberapa hari,” jawab Mainun, perempuan paruh baya yang menjadi kepala pembantu di rumah.


“Siapkan kamar untuknya! Mulai sekarang, dia akan ikut membantumu mengurus rumah ini,” ucap Rama, dengan kembali melirik ke arah Kila yang berdiri di belakangnya.


‘Aku mengerti. Jadi dia sengaja melakukan hal ini, untuk menjadikanku pembantu di rumah ini … Apa dia pikir, aku akan menjadi seperti karakter istri yang dilukai layaknya di TV?’ batin Kila sambil membalas tatapan Rama kepadanya.


“Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi apa kau yakin … Ingin menjadikanku seperti pembantu di rumah ini? Apa kau tidak bermasalah, jika nantinya aku melakukan kesalahan-kesalahan pekerjaan yang di mana akan menghancurkan rumah ini?”


“Kau harus ingat ini, Tuan Rama Rahardian! Walau kita sudah menikah secara agama, aku bisa dengan bebas pergi meninggalkanmu, karena tidak ada hukum yang mengikat pernikahan kita-”

__ADS_1


“Menikah?” celetuk Mainun, dia langsung menutup rapat bibirnya saat tak tersadar mengucapkannya.


“Benar, kami menikah hari ini. Dengan kata lain, aku Istri sekaligus Nyonya di rumah ini … Aku sudah menjelaskan semuanya dengan sangat benar, kan, Suamiku?” sahut Kila dengan kembali mengarahkan pandangannya ke Rama.


“Bawa dia ke kamar mana saja yang dia inginkan!” tukas Rama, sebelum dia berbalik lalu melangkahkan kakinya menjauh.


“Nyo-Nyonya, mohon ikuti saya!” pinta Mainun sambil mengangkat ibu jarinya ke arah kanan.


Kila berjalan mengikutinya dari belakang, dia turut masuk ke sebuah kamar saat Mainun memintanya untuk ikut masuk ke dalam. “Bibi,” panggil Kila yang membuat Mainun sedikit terperanjat.


“Apa Bibi, mengenal Gilang?” sambung Kila bertanya sambil meletakan barang bawaannya ke atas ranjang.


“Maksudnya, Almarhum Tuan Muda Gilang?”


“Aku, hanya ingin mengatakan hal tersebut kepadamu. Dan sekarang, keluarlah! Aku lelah dan ingin beristirahat,” sambung Kila sembari membaringkan tubuhnya di ranjang.


‘Laki-laki kaya, memiliki martabat tersendiri. Aku akan lebih senang, jika perempuan tua itu menyebarkan kata-kata yang aku ucapkan. Jika Tuan Muda itu terganggu oleh kabar di antara para pembantu di rumahnya, dia akan mengusirku … Setidaknya, itu yang aku harapkan,” Kila kembali membatin dengan memejamkan pelan matanya.


‘Sebenarnya apa yang kau inginkan, Gilang? Kenapa, kau malah meminta kakakmu untuk menikahiku?’ sambung Kila bergumam di dalam hati, sebelum dia beranjak lalu melangkah keluar kamar.


Kila terus berjalan menyusuri rumah, “rumah ini besar sekali. Bahkan sekarang pun, aku tidak tahu di mana Tuan Muda itu sekarang berada,” gumam Kila sembari berjalan menyusuri tangga ke lantai atas.


Dia berjalan mendekati seorang perempuan, yang kali ini sedikit lebih muda dari Mainun, “mbak,” ucap Kila, hingga membuat tangan perempuan yang tengah membersihkan debu di sebuah vas keramik besar terhenti.

__ADS_1


“Di mana, kira-kira Tuan Rama sekarang berada?” tanyaku kepadanya.


Kening perempuan itu mengerut, membalas tatapan Kila, “Nona siapa?”


“Tidak penting siapa aku … Atau, kau bisa menanyakannya pada bibi-bibi tua di rumah ini nanti. Hanya beritahukan saja kepadaku, di mana Tuan Rama sekarang berada?” lanjut Kila bertanya kepadanya.


“Tuan Rama, mungkin sedang bersantai di balkon yang ada di lantai tiga-”


“Baiklah, terima kasih,” potong Kila sembari berjalan meninggalkannya.


Kila kembali berjalan, menaiki tangga yang lain … Kepalanya melirik ke sekitar, berusaha untuk mencari keberadaan Rama. Langkah kaki Kila melamban, saat tatapan matanya itu terjatuh ke seorang laki-laki yang duduk di sebuah kursi terbuat dari anyaman rotan. “Kak Rama,” panggil Kila, saat dia telah berdiri di dekat Rama yang masih bergeming dari buku yang ia baca.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” sambung Kila, saat Rama menutup buku lalu menoleh ke arahnya.


“Aku, hanya ingin memastikan … Apa aku boleh lanjut bekerja?”


“Apa kau pikir, kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan setelah menikah denganku?”


Decakan lidah yang Kila keluarkan, membuat mata Rama menyipit menatapinya, “karena itulah, aku sekarang bertanya. Aku bertanya, karena mencoba untuk menghormatimu … Apa di rumah ini, jika kita bertanya merupakan sebuah dosa besar,” gerutu Kila dengan membuang pandangannya ke samping.


“Baiklah, ini kali terakhir aku meminta izin darimu,” sambung Kila, dia berjalan mendekati tumpukan bantal lalu melemparkan salah satu bantal di kursi rotan ke arah Rama.


“Membaca boleh, tapi perhatikan juga lehermu. Gunakan bantal, agar buku tersebut tidak terlalu jauh hingga membuat kepalamu terlalu menunduk dan sandarkan lenganmu juga di sana, agar lenganmu baik-baik saja. Apa tidak ada yang memperingatkanmu sebelumnnya?!” Kila kembali menggerutu sambil berjalan meninggalkan Rama sendirian.

__ADS_1


__ADS_2