
“Aku mencintaimu, Sean!” Jawab Lidia dengan bibir bergetar.
“Katakan! Sampai kapanpun kamu akan terus mencintaiku, Lidia!” kali ini ucapan Sean sedikit tegas.
“Aku menncintaimu, Sean. Sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu.” Jawab Lidia dengan suara yang sama tegasnya dengan suara Sean. Meski air matanya terus mengalir.
Sean memegang lembut kedua sisi wajah Lidia lalu mendaratkan ciuman penuh kasih sayang pada bibir manis itu. Mereka berdua terus memagut mencurahkan segala perasaan dan emosi masing-masing. Udara malam hari yang dingin pun tak membuat mereka kedinginan. Keduanya justru semakin panas terbakar gairahh.
Bibir mereka berdua masih bertaut. Sean mengangkat sedikit tubuh sang istri, lalu menggendongnya membawa masuk ke dalam kamar. Sean terus meminta istrinya mengucapkan kata cinta di sela-sela pagutann itu.
“Aku mencintaimu, Sean!”
“Ucapkan terus kalimat itu, Sayang!”
“Aku mencintaimu, Suamiku!”
“Berjanjilah untuk terus menungguku, Sayang. Aku akan menyelamatkan Viana, anak kita.” Ucap Sean.
“Aku berjanji. Tolong selamatkan Viana.”
Sean kembali memagut bibir Lidia dengan lembut. Tanpa mereka berdua sadari, saat ini sudah tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka berdua. Baik Sean dan Lidia sama-sama menikmati percintaan di tengah emosi yang menguasai hati masing-masing.
Sean terus mencumbui seluruh tubuh sang istri seolah dia tidak ingin meninggalkan wanitanya. Lidia juga menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Sean, seolah rasa lelah di hatinya selama ini sedikit memudar berganti rasa cinta yang begitu besar ia rasakan dari sang suami.
Akhirnya malam itu keduanya keduanya melakukan penyatuan dengan sensasi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Air mata kesedihan Lidia lantaran merindukan Viana bercampur jadi satu dengan air mata haru akan cintanya yang sama besar dengan Sean.
__ADS_1
“Tunggulah aku, aku akan menjemput Viana!” ucap Sean setelah pelepasannya yang terakhir.
Tubuh Lidia sudah tergolek lemah dalam pelukan Sean. Entah dia mendengar atau tidak. Namun senyuman manis yang terbit dari bibir Lidia dengan mata tertutup dapat meyakinkan Sean bahwa Lidia akan menunggunya.
Sean bangun dari tidurnya dan membiarkan sang istri tidur. Dia membersihkan tubuhnya sejenak lalu masuk ke ruang kerjanya. Sean menulis selembar surat yang akan diberikan pada Xander dan ia titipkan pada Silvia. Karena selama beberapa hari ini Xander sedang melakukan perjalanan bisnis.
Sean kembali masuk ke kamarnya. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mengecup kening sang istri yang sudah terlelap damai.
Cup
“Aku mencintaimu, Sayang!”
Perlahan Sean keluar dari kamar lalu pergi. Dia melirik pintu kamar tamu yang selama ini dipakai Silvia tampak tertutup rapat. Lalu Sean menyelipkan suratnya melalui celah pintu kamar. kemudian pergi.
Sean melajukan mobilnya menuju tempat sesuai yang diminta oleh si pengirim pesan tadi. Sean pergi tidak membawa apa-apa. Tidak ada ponsel, senjata, atau alat pelindung diri lainnya.
Sean berusaha meredam emosinya. Dia harus yakin agar bisa membawa pulang anaknya. meski Viana bukan darah dagingnya, namun kehilangan anak itu sama halnya dengan kehilangan separuh jiwanya. Sean mencengkeram kemudi dengan penuh amarah kala mengingat pesan yang dikirim seseorang tadi.
“Anak kamu baik-baik saja disini. Jika kamu merindukannya, jemput dia dengan cara baik-baik. Jangan ada senjata tajam dan jangan membawa ponsel. Datanglah sendiri tanpa ada bantuan dari seseorang, kalau kamu masih ingin anak ini baik-baik saja. Karena setiap gerak-gerikmu akan aku pantau dari sini.”
Tidak ada pilihan lain yang dilakukan Sean kecuali menuruti perintah si pengirim pesan itu. Namun Sean sangat yakin kalau orang itu adalah David.
Perjalanan yang ditempuh Sean sangatlah jauh. Dia berangkat saat langit belum memunculkan fajar, dan kini saat matahari sudah terbenam pun dia belum sampai. Sean mencoba fokus dengan keselamatan Viana. Dia tidak mau memikirkan bagaimana keadaan sang istri saat ini setelah tak melihat keberadaannya di rumah.
Mobil Sean sudah memasuki sebuah kota yang sangat terpencil saat jam menunjukkan pukul 9 malam. Beberapa saat kemudian dia sampai di depan gerbang rumah yang sangat besar, dengan beberapa penjaga yang sedang berdiri di luar.
__ADS_1
“Selamat datang, Tuan!” sapa salah satu bodyguard itu dengan sangat ramah.
Sean sedikit terkejut dengan sikap bodyguard itu. Sebelumnya dia berpikir akan melakukan baku hantam satu lawan banyak. Ternyata tidak.
“Mari saya antar. Tuan saya sudah menunggu kedatangan anda.” Ucapnya ramah dan Sean hanya mengangguk samar.
Sesampainya di ruangan yang sangat megah itu, Sean menelisik seisi ruangan untuk mencari keberadaan anaknya.
“Selamat datang calon asisten pribadiku!” sapa seorang pria paruh baya yang tak lain adalah David.
Sean masih berdiri di tempat. Dia malas sekali berbasa-basi dengan pria penuh obsesi itu.
“Dimana anakku?” tanya Sean dengan aura dingin.
“Tenang saja. Sekarang sudah malam. putri kamu sedang tidur bersama baby sitternya.” Jawabnya santai.
.
.
.
*TBC
Guys sorry ya jika merasa cerita ini terlalu banyak masalah atau berbelit-belit🙏 Novel ini othor ikutin lomba #pria urban. jadi sesuai sinopsis yg memang menunjukkan kegigihan tokoh protagonis pria yaitu Sean. Jd mohon bersabar ya sama konfliknya🤗🤗🙏😁
__ADS_1
Happy Reading‼️