Suami Kedua

Suami Kedua
Lapar


__ADS_3

Hari ini keadaan Lidia sudah benar-benar membaik. Sebentar lagi dokter akan memeriksanya sebelum ia diperbolehkan pulang.


Lidia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak-anaknya yang sudah lama ia tinggalkan. Khususnya Kavi. Sejak bayi itu lahir, Lidia sama sekali belum pernah menggendongnya.


Tak lama kemudian dokter datang. Dokter memastikan keadaan Lidia benar-benar sudah pulih apa belum. Dan ternyata perkembangannya semakin baik. Namun dokter menyarankan agar Lidia terus menjaga kesehatannya, dan istirahat yang cukup. Setelah itu perawat datang dengan membawa beberapa obat dan vitamin yang diresepkan untuk Lidia.


Kini Sean dan Lidia sudah ada di mobil. Jonathan yang menjemputnya. Sean sungguh bahagia bisa bertemu kembali dengan Jonathan. Pria yang ia kenal sejak kecil dulu selalu membantu orang tuanya saat menjadi pembantu di rumah orang tua Sean, yang kini ia tempati.


Jonathan juga senang akhirnya bisa melihat Sean kembali dalam keadaan selamat. Memang semenjak kedatangan Sean ke negara ini, mereka berdua belum sempat bertemu. Begitu juga dengan Bibi Anne.


Mobil yang Sean dan Lidia tumpangi kini perlahan melaju meninggalkan rumah sakit. Lidia sudah tidak sabar ingin melihat anak-anaknya. apakah mereka tumbuh dengan baik selama ini. karena waktu tiga bulan selama ia koma bukanlah waktu yang sebentar bagi Lidia.


“Sayang, kamu baik-bak saja?”


“Iya. Aku baik. Aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengan anak-anak.”


“Bersabarlah, sebentar lagi kita sampai.”


Sean meraih kepala Lidia agar bersandar pada da-danya. Pria itu mengusap lembut kepala istrinya dan sesekali mengecupnya. Sean sangat bersyukur atas anugrah yang ia terima saat ini. dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika bom dalam tubuhnya itu meledak. Bagaimana nasib istri dan anak-anaknya yang bahkan tidak bisa melihat jasad terakhirnya jika ia meninggal.


Lidia tiba-tiba saja bangun saat mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di depan halaman rumah. dan itu membuat Sean sadar dari lamunannya.


“Sayang, pelan-pelanlah! Kamu baru saja sembuh.”


“Iya, maaf.”


Lidia dan Sean sudah keluar dari mobil. Di depan pintu rumah sudah disambut oleh Chandra, Viana, Fredy, Bibi Anne, Xander, dan juga Silvia yang tengah menggendong Kavi. Sedangkan Leon dan Marsha sudah pulang ke tanah air tiga hari yang lalu.

__ADS_1


“Mama!!!!” teriak Chandra bersamaan dengan Viana.


Lidia menyambut kedua anaknya yang berlari ke arahnya. Lalu memeluknya dengan erat. Sean juga ikut bergabung memeluk kedua anaknya.


Tangis haru dirasakan oleh semua orang yang melihatnya. Khususnya Xander. Pria itu sangat bahagia melihat sahabatnya sudah kembali bersama dengan keluarga kecilnya. Hampir saja pria itu putus asa karena takut nyawa Sean tidak bisa diselamatkan. Ditambah lagi kondisi Lidia yang tengah koma. Namun kini rasa itu sudah berubah dengan rasa haru dan bahagia.


“Apa kalian tidak lelah duduk berjongkok disana sambil berpelukan?” tanya Xander.


Sean dan Lidia pun sadar. Lalu mereka segera berdiri dan mengajak kedua anaknya masuk rumah. mata Lidia dan Sean terpaku pada sosok bayi mungil yang sedang ada dalam gendongan Silvia.


“Kavi! anak Mama!" Lidia lalu menghampiri posisi Silvia berada.


Silvia memberikan bayi itu pada Lidia sambil menahan air matanya. saat Kavi sudah ada dalam gendongan Lidia, Sean ikut mendekatinya. Kebahagiaan Sean bertambah berkali-kali lipat saat melihat wajah rupawan anak laki-lakinya, darah dagingnya sendiri.


Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Sean menikmati kebersamaannya bersama istri dan ketiga anaknya. Namun Chandra dan Viana cenderung asyik bermain di tempat yang tak jauh dari orang tuanya.


“Bukan. Dia lebih mirip Xander. Karena selama hamil, dialah yang selalu ada untukku.” Godanya, dan membuat Sean mendengus kesal.


“Iya, iya mirip dengan ayahnya. Karena Kavi memang darah dagingmu.” Lanjutnya dan seketika Sean mengembangkan senyumnya.


Jika saat ini Sean dan Lidia sedang menikmati kebersamaannya bersama anak-anak mereka, Xander dan Silvia juga sedang menikmati waktu berduanya.


Setelah memberikan waktu untuk Sean, Xander mengajak Silvia jalan-jalan dengan menggunakan mobil milik Jonathan.


“Kita mau kemana sih?” tanya Silvia, pasalnya sejak tadi Xander hanya memutari jalan yang tak tentu arahnya kemana.


Tanpa menjawab, Xander menghentikan mobilnya saat sudah tiba di sebuah pusat perbelanjaan.

__ADS_1


“Aku lapar. Kita makan siang disini saja ya?”


Silvia hanya mendengus. Kalau hanya makan siang saja, kenapa sejak tadi tidak langsung kesini. Kenapa harus memutar-mutar dulu jalannya.


Dengan rasa sedikit jengkel, Silvia mengikuti Xander berjalan menuju sebuah restaurant yang ada dalam pusat perbelanjaan itu. Mereka berdua sudah memesan makanan, dan tinggal menunggu saja.


Suasana restaurant siang itu cukup ramai pengunjung. Silvia kurang nyaman, terlebih Xander memilih tempat yang berada paling tengah. Tak lama kemudian Xander berdiri lalu mengeluarkan sebuah kota bludru berwaran maroon, dimana disana tersemat sebuah cincin berlian yang sangat cantik.


Xander berjongkok di hadapan Silvia sambil mengulurkan kotak berisi cincin itu.


“Silvia, Will you marry me?”


Semua orang yang sedang ada dalam restaurant itu ikut menyaksikan langsung saat Xander melamar Silvia. Sedangkan Silvia menangis haru melihat kesungguhan Xander. Perempuan itu tak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.


Tepuk tangan meriah dari semua pengunjung restaurant mengiringi kebahagiaan Xander dan Silvia.


.


.


.


*TBC


Tuh kan romantisssssss bingitttzz😂😘😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


__ADS_2