
Seorang gadis cantik tampak terisak dalam pelukan kakaknya. Bahkan air matanya sudah membasahi baju yang dikenakan kakaknya itu.
Chandra sudah berulang kali menenangkan adik perempuannya. Namun tetap saja Viana masih terlihat begitu sedih setelah mendengar kabar bahwa besok pagi kakaknya akan berangkat ke kota B. bukan untuk berlibur atau cuma beberapa hari tinggal di sana yang Viana kira. Namun dalam waktu yang cukup lama. Karena kakaknya akan menimba ilmu di kota itu selama kurang lebih empat tahun.
Memang Chandra memberitahu kabar itu pada adiknya secara mendadak. Dan hal itu membuat Viana tidak terima.
“Sudah dong, Vi! Kakak kan perginya bukan berniat meninggalkan kamu. Kakak di sana mau kuliah bukan bersenang-senang.” Ucap Chandra sambil mengusap kepala Viana.
“Kalau Kak Chan pergi, lalu siapa yang manjain Vian lagi? Kak Chan baru saja tinggal di sini, sekarang sudah mau pergi lagi. apa Kakak tidak betah tinggal bersama adik-adik Kakak?”
“Hei, kamu ini bicara apa? Aku sangat betah tinggal di sini. bukannya kakak sudah bilang, Kakak akan kuliah di sana.”
Rasanya sangat sulit membujuk adik perempuan satu-satunya itu. Chandra sudah angkat tangan. Dia melirik ayahnya yang sejak tadi duduk tak jauh darinya. Chandra memberi kode pada Sean agar mau membujuk Viana.
“Viana, weekend nanti bagaimana kalau kita liburan ke puncak?” tanya Sean dan hal itu membuat Viana langsung mengurai pelukannya.
“Serius, Yah?” tanyanya sambil mengusap air mata dan ingusnya.
Chandra bergidik ngeri melihat kelakuan jorok adiknya. Lalu dengan cepat ia mengambil tisu dan memberikannya pada Viana.
“Iya. Ayah serius. Sudah lama kan kita nggak liburan?”
Akhirnya bujukan Sean berhasil. Chandra juga merasa lega. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan segala keperluannya untuk besok sebelum berangkat.
__ADS_1
Chandra berangkat ke kota B dua hari sebelum pernikahan Feby berlangsung. Walau sebenarnya bisa kapan saja ia pergi, namun Chandra ingin mencari universitas yang sesuai dengan kriterianya. Selian itu dia juga ingin refreshing sejenak dengan sepupunya di sana.
Keesokan harinya Chandra sudah siap ke bandara. Semua anggota keluarganya ikut pergi mengantar. Termasuk dua adik laki-laki Chandra yaitu Kavi dan Mirza.
Tidak ada lagi tangis haru yang mengiringi kepergian Chandra. Termasuk Lidia. Wanita yang pertama kali melarang sekaligus memberikan ijin kepergian anaknya untuk menimba ilmu itu tampak lega melihat tekat anak sulungnya yang bersemangat mencari ilmu.
“Ingat, jangan lupa untuk selalu bertkar kabar dengan Mama, Ayah, adik-adik kamu semua.” Ucap Lidia setelah memeluk Chandra.
“Siap, Ma! Mama jangan khawatir dengan hal itu.” Jawab Chandra.
Selesai berpamitan dan berpelukan, Chandra menarik kopernya dan bersiap untuk pergi. Ketiga adiknya melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
***
Dua hari setelah keberangkatan Chandra ke kota B, acara pernikahan Feby digelar. Sean dan Lidia sekarang sedang bersiap untuk pergi ke pesta tersebut.
“Kenapa kamu tampan sekali malam ini? apakah kamu berniat menggoda tamu Kenzo?” tanya Lidia nyeleneh.
Sean hanya memutar bola matanya dengan malas. Padahl baru saja ia juga akan melayangkan protes dengan penampilan istrinya yang sangat cantik. Namun justru Lidia yang terlebih dulu protes.
“Apa lebih baik kita batalkan saja untuk pergi ke pesta itu? Apa kamu nggak sadar kalau penampilan kamu malam ini juga bisa membuat jakun kaum adam naik turun?” tannyanya dengan nada pura-pura kesal.
Lidia hanya mengendikkan bahunya acuh. Kemudian meraih pouch-nya yang ada di atas meja rias dan keluar kamar lebih dulu. Sean hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
*
Suasana ballroom hotel berbintang yang cukup terkenal di kota saat ini tampak sangat ramai. Mereka semua datang atas undangan dua pengusaha besar dan sukses yaitu Tuan Kenzo dan Tuan Ibra.
Sean dan Lidia yang baru saja tiba juga sangat takjub dengan kemegahan pest aitu. Sean menggandeng lengan istrinya lalu berjalan dan menyapa beberapa tamu yang ia kenal sesame pengusaha.
Lidia menatap haru sepasang pengantin yang sedang duduk dan bersiap melakasankan prosesi pernikahan. Lidia membayangkan si mempelai pria yang bersanding di sebelah Feby adalah anaknya.
“Kenapa? Apa kamu ingin seperti mereka?” goda Sean untuk mencairkan suasana hati istrinya yang sedang kalut.
Lidia hanya melirik sebal pada suaminya. memang pernikahannya dulu tidak semegah ini. bahkan dengan suami pertama dan keduanya pun pernikahan Lidia sangat sederhana.
“Bukankah dulu pernikahan kita tidak semegah ini?” tanya Sean sekali lagi.
“Ah, nggak perlu pesta pernikahan megah. Yang terpenting niat dan hati kita. Nyatanya tidak sedikit yang menggelar pesta pernikahan yang sangat megah tapi usia pernikahannya hanya seumur jagung. Lebih baik yang sederhana tapi awet sampai maut memisahkan.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️