Suami Kedua

Suami Kedua
Dejavu


__ADS_3

Xander akhirnya mengurungkan niatnya mengejar Silvia saat tahu Leon sedang menghubunginya. Karena saat ini Leon yang lebih penting.


Xander menerima panggilan Leon. Namun dia akan mulai bicara serius saat Xander memasuki kamarnya.


Terlihat wajah Xander memerah menahan amarah saat mendengarkan semua penjelasan Leon tentang Sean. Leon mengatakan kalau di dalam tubuh Sean saat ini sedang tertanam bom yang suatu saat bisa membunuhnya. Dan mengenai pesan yang Sean berikan untuk Marsha, pria itu meminta bantuan Marsha untuk membuat remote pengendali yang akan menonaktifkan bom tersebut.


Leon meminta maaf pada Xander karena selama ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Namun dia mengatakan kalau saat ini Marsha tengah melakukan tugas yang diperintah oleh Sean. Namun semua itu butuh waktu yang sangat lama.


“Berengsekkk!!” umpat Xander setelah mengakhiri panggilannya dengan Leon.


Pantas saja selama ini dia sangat kesulitan mencari keberadaan Sean maupun David. Karena selama ini David mempunyai orang yang sangat ahli untuk menutup semua akses tentang semua perusahaannya. Memang Xander tidak mengetahui dimana perusahaan David yang yang di luar negeri. setahu dia, pria itu mempunyai beberapa perusahaan cabang. Dan pusatnya ada di kota J.


Tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Xander saat ini selain menunggu kabar dari Marsha. Menurut penuturan Leon tadi bahwa untuk membuat remote pengendali itu membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan atau bahkan sampai satu tahun. Karena butuh konsentrasi penuh untuk mempelajari kandungan logam dan bahan peledak dalam bom itu. Kalau tidak, bisa berakibat fatal dan berujung dengan tubuh Sean yang meledak.


Lelah berpikir, membuat perut Xander terasa lapar. Dia baru ingat kalau belum makan malam. kemudian dia keluar kamar untuk makan malam.


“Apa yang lainnya sudah makan malam, Bi?” tanyanya pada Bibi Anne.


“Sudah, Tuan. Tadi Nyonya Lidia bersama Chandra, dan juga Fredy yang makan. Kalau Nona Silvia belum keluar kamar.” jawab Bibi Anne.

__ADS_1


Xander pun segera duduk di kursi dan mengambil makan. Dia menikmati makan malamnya seorang diri. Setelah ini akan mengambilkan makan untuk Silvia.


***


Setelah kunjungannya ke kantor pusat saat itu, Sean kembali disibukkan dengan beberapa pekerjaan dari David. Namun dia merasa lega karena apa yang ia tulis sudah diberikan pada Erick. Sean sangat yakin kalau saat ini Marsha pasti sudah melakukan tugasnya. Dia juga tahu kalau semua itu butuh waktu lama.


David yang mengetahui Sean memiliki gejala penyakit serius. Mulai saat itu dia selalu memeriksakan kesehatan Sean ke rumah sakit. Untung saja David hanya menunggunya di luar selagi Sean melakukan serangkaian pemeriksaan. Sean yang sudah bekerjasama dengan dokter Smith, dia hanya meminta beberapa vitamin ada obat penghilang mual saja.


Semenjak saat itu Sean terus mengalami mual dan muntah. Terkadang dibarengi dengan rasa pusing yang begitu mendera. Namun perlahan rasa itu menghilang.


Hampir setiap hari disibukkan dengan beberapa pekerjaan dan tidak ada waktu untuk istirahat kalau bukan waktu malam, hingga membuat Sean mengesampingkan rasa rindu terhadap anak istrinya.


Dan saat ini dia sedang berada di balkon kamar. pekerjaan hari ini tidak begitu menyita waktu dan tenaga. Pria itu menatap langit malam di tengah musim gugur di negera itu. Hatinya tiba-tiba mellow kala mengingat wajah sang istri.


“Lidia, Sayang. Bersabarlah! Tunggu semua ini selesai, nanti aku pasti menjemput kamu dan anak-anak.” Lirihnya sambil menahan genangan air bening di pelupuk matanya.


Entah kenapa tiba-tiba Sean kembali merasa mual. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Badannya kemabli lemas. Lalu dia berjalan tertatih menuju bed.


Pikiran Sean berkelana jauh. Dia merasa pernah mengalami kejadian seperti ini. Sean Dejavu. Dimana dulu dia pernah hampir tiap hari mual dan muntah. Namun diberi obat apapun tetap tidak bisa sembuh. justru akan sembuh sendiri. Lalu dia mengingat-ingat, apa penyebab dari gejala seperti yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


Deg


Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu kencang saat mengingat ucapan salah satu kaarywannya dulu dan memang benar. Apakah benar ini gejala yang sama.


“Lidia! Benarkah kamu saat ini tengah mengandung?” tanyanya bimbang.


Sean juga mengingat akan percintaannya yang terakhir dengan Lidia saat itu sebelum meninggalkannya untuk menyelamatkan Viana.


“Semoga benar kamu sedang hamil Lidia. Aku tidak masalah jika harus menanggung rasa mual seperti ini, asal kamu disana baik-baik saja. Dan maafkan aku yang lagi-lagi tidak menemani masa-masa kehamilan kamu.” Gumamnya dengan rasa sedih yang begitu mendalam.


Setelah itu Sean memutuskan untuk beristirahat. Namun sebelumnya dia akan keluar kamar sebentar mengambil minum. Dan tanpa sengaja dia mendengar percakapan David dengan seseorang melalui sambungan telepon.


“Syukurlah kalau sudah ada perkembangan. Meskipun sedikit. Besok aku akan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bryan.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2