
Sean terus menagisi keadaan sang istri yang sedang terbaring lemah. Bahkan suara tangisnya itu tak mampu membuat Lidia terusik. Hingga pria itu menoleh pada Xander untuk meminta penjelasan.
“Sudah tiga bulan lebih istrimu koma.” Ucap Xander.
“Apa? Koma? Tiga bulan lebih? Apa yang terjadi dengan istriku, Xander? Bukankah aku sudah berpesan padamu untuk menjaganya?”
“Istri kamu koma pasca melahirkan anak kamu, Sean. Dokter sudah mengupayakan pengobatan yang terbaik, namun sampai saat ini Lidia masih enggan bangun.”
Deg
“Melahirkan? Jadi benar firasatku selama ini kalau Lidia tengah mengandung. Namun, kenapa keadaan Lidia harus seperti ini?” batin Sean menahan kesedihannya.
Perlahan Sean mendekati Lidia. Pria itu menatap sendu wajah cantik sang istri yang terlelap begitu damai. Sean mendekatkan wajahnya mengecup kening Lidia penuh sayang. Sedangkan Xander memilih keluar membiarkan Sean menemani Lidia.
“Sayang! Maafkan aku. maafkan aku telah membuatmu seperti ini.”
“Bangunlah, Sayang! Aku sudah kembali. Bukankah kamu dulu berjanji akan menungguku?” tak ada reaksi apapun yang ditunjukkan oleh Lidia. Namun Sean tetap sabar dan terus mengajaknya berkomunikasi.
Xander mengajak Sean pulang. namun Sean menolaknya. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya sedetikpun.
“Apa kamu tidak ingin melihat Kavi?” tanya Xander.
“Kavi? Siapa Kavi?” tanya Sean bingung.
“Anak kamu. Sesaat setelah Lidia melahirkan, dia memberikan nama Kavindra pada putra kamu, dan meminta Silvia merawatnya.”
__ADS_1
Antara senang dan sedih bercampur jadi satu. Senang anaknya lahir ke dunia, namun dia sedih karena belum bisa bertemu langsung dengan putranya itu. karena Sean bertekat untuk membuat istrinya sadar terlebih dulu.
“Maafkan aku. untuk sementara biarkan Kavi bersama Silvia. Aku akan terus disini sampai istriku sadar.”
Xander hanya mengangguk. Bagaimanapun juga memang seorang istri yang paling penting buat Sean. Karena wanita itulah yang akan terus menemaninya sampai tua nanti.
Akhirnya sejak hari itu Sean memutuskan untuk terus berada di rumah sakit menemani Lidia. Sean juga meminta perawat untuk menggantikan perban pada luka bekas operasinya.
Keseharian Lidia yang merasakan kesuraman, perlahan dia bisa merasakan kenyamanan. Meski dia masih terlelap, namun Lidia merasa ada seseorang yang selama ini ia tunggu kedatangannya. Bahkan orang itu selalu mengajaknya bicara. Suara penuh kasih sayangnya, sentuhan lembut pada kulit tubuhnya dapat Lidia rasakan. Lidia hanya ingin memastikan bahwa pria yang selalu ia dengar suaranya itu bukan hanya sekadar mimpi. Hingga sampai lima hari Sean menungguinya, Lidia benar-benar merasa kalau Sean benar-benar nyata datang untuk menjemputnya.
Tangan Lidia perlahan bergerak. Namun Sean tidak mengetahui, karena dia sedang tertidur di samping brankar Lidia dengan kepala menelungkup.
Mata Lidia masih terpejam. Tangannya terus bergerak, mencari sesuatu yang beberapa hari ini memberikan sentuhan lembut. Dan akhirnya tangan Lidia berhasil menyentuh kepala Sean.
Sedangkan Sean merasa mimpi ada sesorang yang membelainya dengan sayang. Belaian yang sudah lama ia rindukan. Walau Sean merasa itu semua mimpi, tapi dia sangat menikmatinya. Anggap saja mimpi itu sebagai obat rindunya selama ini.
“Sayang??”
Panggil Sean sambil mengucek matanya saat melihat tangan sang istri bertengger di atas kepalanya. Namun mata Lidia masih terpejam.
“Sayang? Benarkah kamu bangun?” tanya Sean dengan suara bergetar.
Mata Lidia masih terpejam. Namun mengeluarkan air mata. Sean sangat panik, lalu dengan cepat menekan tombil nurse call. Tak lama kemudian seorang perawat yang jaga malam itu datang.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
__ADS_1
“Sus, istri saya mengeluarkan air mata. Dan baru saja tangannya juga bergerak.”
“Biar saya periksa dulu, Tuan!”
Sean terus mengawasi perawat itu. dan tak lama kemudian perawat itu keluar untuk memnaggil dokter.
“Bagaimana, dok? Apakah ada perkembangan dengan keadaan istri saya?”
“Istri anda sudah mulai menunjukkan perkembangan, Tuan. Untuk saat ini kami hanya bisa menunggu sampai esok hari. Apakah istri anda benar-benar sudah sadar. Sementara ini tekanan darah dan detak jantungnya normal. Kita doakan saja semoga besok istri anda sudah bisa membuka matanya.
Sean sangat bahagia mendengar penjelasan dokter. setelah perawat dan dokter itu keluar, Sean memutuskan untuk terus terjaga dan mengajak sang istri berkomunikasi.
Hingga menjelang matahari terbit, Sean masih terus terjaga agar bisa memastikan sendiri bahwa keadaan istrinya semakin membaik. Meski sebenarnya rasa kantuk mulai menyerang. Namun Sean bersikukuh menemani istrinya.
“Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku senang akhirnya keadaan kamu mulai membaik. Bangunlah, Sayang! Anak kita sedang menunggu di rumah. menunggu kehadiranmu. Aku juga ingin segera bertemu dengan Kavi.”
Lama menanti reaksi dari tubuh Lidia, Sean tak kuat lagi menahan kantuknya. Hingga akhirnya pria itu menjatuhkan kepalanya di samping Lidia.
“Sean! Suamiku!”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️