Suami Kedua

Suami Kedua
Pernikahan Leon dan Marsha


__ADS_3

Akhirnya malam itu Sean dan Lidia melakukan ritual suami istri di dalam kamar mandi hotel. Meskipun mereka sama-sama lelah setelah melakukan perjalanan jauh, namun keduanya sangat puas setelah sama-sama berhasil mencapai puncak kenikmatan dalam bercinta. Dan itu akan membuat nyenyak tidur keduanya.


Cklek


Sean membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Pria itu tengah menggendong sang istri yang tampak kelelahan, lalu merebahkannya di atas ranjang. Beruntung sekali Kavi masih nyenyak dalam tiddurnya dan sama sekali tidak terusik. Jadi Sean ddan Lidia bisa segera beristirahat.


Masih dengan memakai bathrope, mata Lidia sudah tidak bisa lagi ditahan dari rasa kantuk. Sean yang melihatnya hanya tersenyum tipis, lalu mengecup keningnya sekilas sebelum menyelimuti tubuh Lidia.


Keesokan harinya, Sean dan Lidia sudah bersiap menuju ballroom hotel tempat dimana pesta pernikahan Leon dan Marsha diselenggarakan. Mereka berdua juga tampil memukau di acara tersebut. Terutama Lidia. Meskipun sudah memiliki tiga anak, nyatanya wanita itu masih menjaga penampilannya. Bahkan tubuhnya masih sangat langsing layaknya perempuan yang belum menikah. Bahkan terkadang Sean tidak rela jika kecantikan sang istri menjadi bahan tontonan para kaum adam.


“Kenapa diam? Ayo!” ajak Lidia.


“Sayang, kenapa kamu selalu tampil cantik begini? Aku nggak rela nanti jika banya pria yang melihat kecantikanmu.”


“Lalu, apakah aku harus berganti baju dengan memakai daster saja?” tanyanya dengan tersenyum.


“Ya sudahlah, ayo kita turun! Tapi nanti kamu jangan jauh-jauh dariku, ya?”


Lidia hanya mengangguk lalu menggandeng lengan sang suami, sementara Sean yang menggendong Kavi.


Kini Sean dan Lidia sudah memasuki ballroom. Suasana pesta pernikahan Leon dan Marsha sangat meriah. Karena Marsha merupakan putri tunggal pengusaha sukses. Begitu juga dnegan Leon. Meskipun selama ini ia bekerja menjadi asisten pribadi Papanya Marsha, sebenarnya orang tua Leon juga sama-sama seorang pengusaha.


Sean dan Lidia segera menaiki pelaminan untuk memberikan uacapn selamat pada mempelai pengantin. Sean memeluk Marsha dan leon secara bergantian. Dia sungguh bahagia akhirnya sahabatnya itu bahagia dengan pasangannya.


“Selamat menempuh hidup baru buat kalian berdua.” Ucap Lidia dengan tulus.

__ADS_1


Marsha memeluk Lidia dengan erat, lalu mencium Kavi yang menurutnya semakin menggemaskan. Setelah itu Lidia menyalami Leon dan memberikan ucapan selamat.


Setelah itu Sean dan Lidia menikmati hidangan pesta. Sejak tadi Sean mencari keberadaan salah satu sahabatnya yang sampai saat ini tak kunjung datang. Begitu juga dengan Lidia yang sudah menanti kedatangan Silvia.


Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu datang. Silvia menggandeng lengan Xander memasuki ballroom hotel. Mereka berdua menaiki pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada mempelai pengantin.


“Sepertinya ada yang aneh dengan Xander. Wajahnya tampak murung.” Ucap Lidia.


Sean pun juga merasakan hal yang sama. Namun berbeda dengan Silvia. Wajahnya tampak tersenyum bahagia saat menaiki pelaminan.


“Kurang jatah mungkin.” Jawab Sean asal.


Lidia justru tertawa sambil membayangkan bagaimana kesalnya Xander saat kurang mendapatkan asupan gizi dari sang istri. Wajah bawaannya sudah kaku, ditambah kurang dapat asupan gizi, mungkin seperti kanebo kering.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Sean heran.


Silvia begitu antusias saat melihat Kavi. Wanita yang sedang hamil muda itu tak segan-segan menciumi pipi gembul Kavi yang sudah lama ia rindukan. Bahkan saking asyiknya, Silvia tak lagi mempedulikan sang suami yang sejak tadi wajahnya masih ditekuk.


“Kamu kenapa? Kurang asupan gizi?” tanya Sean to do point.


Xander hanya mendengus kesal sambil menatap interaksi istrinya dengan Lidia yang sedang asyik dengan Kavi.


“Kamu nggak lihat bajuku dan baju Silvia?” tanyanya kesal dan enggan menatap pakaiannya sendiri.


Sean tampak bingung. Dia masih melihat istrinya dan Silvia berbincang-bincang. Setelah itu melihat pakaian yang dikenakan Silvia saat ini. yaitu dress panjang dengan warna pink dan berbalut brukat pada bagian bahunya. Lalu Sean melihat penampilan Xander yang berada di sampingnya.

__ADS_1


Sontak saja Sean menutup meulutnya menahan tawa. Karena Xander juga sedang mengenakan pakaian berwarna senada dengan istrinya. Yaitu kemeja warna pink. Sumpah demi apapun, sejak dulu Sean sangat hafal dengan karakter sahabatnya yang selalu simple. Bahkan pakaian yang dikenakan pun warnanya lebih suka dengan warna gelap.


“Puas kamu menertawaiku?” tanyanya kesal. Walau Sean menahan tawanya, namun Xander tahu kalau sahabatnya itu sedang menertawakannya.


“Sudah jauh-jauh hari Silvia memesan baju ini di butik Jenny. Aku sudah menolaknya. Karena aku sangat tidak suka dengan warna terang. Apalagi warnanya cewek banget seperti ini.” curhatnya.


“Lalu?” Sean semakin penasaran.


“Saat aku menolaknya, saat itu juga aku tidak mendapatkan jatah. Hingga akhirnya aku sendiri yang bilang kalau aku setuju dengan baju yang akan dia pesan.”


Dan akhirnya tawa Sean tidak bisa ditahan lagi. untung saja suasana ballroom sangat ramai, hingga tamu-tamu yang lain tak begitu mempedulikan tawa Sean.


Tak lama kemudian Lidia dan Silvia menghampiri suami mereka masing-masing.


“Xander, malam ini kamu terlihat sangat berbeda. Kamu so sweet banget mau memakai baju couple dengan Silvia.” Ucap Lidia yang entah itu jujur atau hanya sebuah ledekan.


Xander hanya mencebikkan bibirnya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2