Suami Kedua

Suami Kedua
Lukisan Abstrak


__ADS_3

Semenjak kepulangan Xander dan Silvia ke tanah air, Sean juga mulai tampak sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Namun dia melakukannya cukup dari rumah saja. Dan kemungkinan beberapa hari lagi dia akan terbang ke negara dimana perusahaan David berada.


Sean akan menyelesaikan semuanya. Termasuk mengalihkan beberapa nama perusahaan yang akan menjadi miliknya. Dan juga mengembalikan saham milik perusahaan asing yang sempat ia tipu lantaran akibat kelicikan David.


“Fred, siapkan dirimu. Lusa kita akan pergi seperti yang aku sampaikan kemarin.” Ucap Sean.


“Baik, Tuan!”


Setelah mengatakan itu, Sean pergi menyusul istrinya yang sejak tadi sudah pamit tidur terlebih dulu karena Kavi sudah waktunya tidur.


Sebelum Sean masuk ke kamarnya, pria itu masuk terlebih dulu ke kamar Chandra dan Viana bergantian. Kebiasaan Sean sebelum tidur, ia akan memberikan kecupan kasih sayang pada kedua anaknya. setelah itu barulah dia masuk ke kamarnya sendiri.


Cklek


Sean membuka pintu kamar dengan pelan, takut jika akan mengganggu tidur Kavi. Ttapan matanya tertuju pada box tidur Kavi. Bayi itu tampak tidur dengan pulas. Namun di sisi box itu tampak kosong, dimana tempat tidurnya bersama Lidia.


Ternyata Lidia sedang berdiri di depan jendela kamar sambil melihat pemandangan malam kota. Walau rumah yang dihuni Sean hanya satu lantai, tapi Lidia masih bisa menikmati keindahan kota cukup dari jendela kamarnya.


“Sayang, kenapa belum tidur?” tanya Sean sambil memeluk Lidia dari belakang.


“Belum ngantuk saja. Aku hanya ingin menikmati keindahan kota dari sini.” jawabnya sambil tersenyum namun pandangannya tetap lurus ke depan.

__ADS_1


“Apa kamu mau pergi jalan-jalan malam berdua denganku?” tanyanya lembut.


Ada sedikit rasa kasihan pada Lidia. Sean merasa belum sepenuhnya membuat istrinya bahagia. Selama ini memang keluarganya sedang tertimpa masalah bertubi-tubi. Ditambah lagi, Lidia harus merawat anak-anaknya yang masih kecil. Kini bahkan sudah bertambah lagi anaknya.


“Lalu, anak-anak kita ditelantarkan begitu saja?” tanyanya sambil mengulas senyum.


“Sayang, maafkan aku. aku merasa belum pernah membuatmu bahagia selama pernikahan kita. Tidak masalah jika kamu menginginkan jalan-jalan berdua saja. Lagipula Kavi bisa kita titipkan pada Bibi Anne. Chandra juga sudah bisa menjaga Viana. Bagaimanapun juga kamu butuh waktu.” Ucap Sean dengan tangan masih melingkar pada perut ramping Lidia.


“Tapi kebahagiaanku ada pada kamu dan anak-anak kita. Kamu sudah kembali dan anak-anak kita tumbuh sehat itu sudah lebih dari cukup membuatku bahagia. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti ini.” jawab Lidia lalu dia berbaik badan hingga berhadapan dengan Sean.


Sean tersenyum bahagia mendengar jawaban istrinya. Sungguh hidupnya begitu beruntung mempunyai istri seperti Lidia. Namun tetap saja, Sean masih merasa kurang bisa membahagiakan wanita itu. Dia berjanji akan selalu membuat Lidia bahagia selamanya. Dan tak akan lagi memberikan luka pada hatinya.


“Apakah kita bisa melakukannya?” tanyanya meminta ijin.


Semenjak Lidia keluar dari rumah sakit, Sean sama sekali belum berani menyentuh sang istri. Dia takut jika keadaan Lidia masih lemah dan justru semakin membuatnya sakit. Dan hari ini Sean meminta ijin untuk mengambil haknya yang selama ini tidak ia dapatkan.


Lidia hanya mengangguk sambil tersenyum manis sebagai jawaban dari pertanyaan sang suami. namun sebelumnya, Sean melirik box bayi Kavi.


“Kavi tidurnya pulas. Tadi sudah minum banyak. Cukuplah untuk beberapa ronde kita nanti sampai ia terbangun.” Ucap Lidia diiringi senyuman. Dia mengerti apa yang sedang dalam pikiran Sean.


Seperti mendapat angin segar, Sean segera meraup bibir manis Lidia. Menicumnya dengan lembut. Menikmati setiap inci bibir manis yang telah lama ia rindukan itu.

__ADS_1


Ciuman yang awanya lembut kini berubah semakin menuntut. Sean dengan cepat mengangkat tubuh Lidia dan merebahkannya di atas ranjang. Pria itu kembali menciumi bibir Lidia dan mulai menerobos masuk ke rongga mulutnya. Lidia pun bisa menyeimbangi pagutan yang diberikan Sean.


Setelah puas bermain-main di area bibir, Sean perlahan turun ke leher jenjang sang istri untuk menciptakan lukisan abstrak disana. Dengan penuh gai-rah, mereka berdua saling memberikan kenikmatan. Bahkan Lidia juga melakukan hal yang sama dilakukan oleh Sean. Yaitu membuat lukisan abstrak pada dada bidang Sean.


Hawa dingin dari ruangan itu berubah panas akibat pemanasan yang mereka berdua lakukan. Beberapa saat kemudian, baik Sean maupun Lidia sudah sama-sama tidak memakai baju. Mereka segera menunaikan hak dan kewajiban masing-masing yang selama ini tidak didapatkan.


Sean layaknya seekor singa yang telah lama berpuasa dan kini baru berbuka. Meskipun napsunya sudah membuncah, namun ia memperlakukan Lidia dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Erangan demi erangan terdengar memenuhi ruangan itu. Mereka berdua berpacu dalam kenikmatan. Mereka berdua sama-sama mengeluarkan desahann panjang di akhir pelepasannya.


“Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Sean sebelum mengecup kening Lidia.


“Aku juga mencintaimu.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2