Suami Kedua

Suami Kedua
Amarah Xander


__ADS_3

Tadi pagi, setelah keberangkatan Xander ke kota J, Silvia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia harus benar-benar fokus bekerja dan tidak selalu memikirkan Xander yang entah berapa lama akan berada di kantor pusat.


Hari ini pekerjaan Silvia tidak begitu padat. Selama Xander berada di kantor pusat, dia tidak perlu susah-susah mengatur agenda meeting untuk bossnya. Jadi dia hanya fokus dengan beberapa dokumen yang perlu ia teliti ulang.


Lama berkutat dengan pekerjaan, Silvia sampai tidak menyadari ada seseorang masuk ke dalam ruangannya. Perempuan itu tersentak kaget saat ada seorang OB datang dengan membawa nampan berisi segelas the hangat.


“Maaf, saya tidak memesan minuman.” Tolaknya dengan halus.


Namun OB itu tidak mempedulikan ucapan Silvia. Pria itu justru meletakkan the yang dibawa di atas meja. Lalu membalik nampan kosongnya dan membuat Silvia terkejut dan sontak berdiri dari duduknya, karena pria itu membawa pisau tajam.


“Siapa kamu?” pekik Silvia ketakutan.


Tidak ada seorang pun yang mendengar teriakan Silvia, karena ruangannya kedap suara dan di depan ruangannya sama sekali tidak terlihat orang lewat. Lalu pria itu mendekati Silvia sambil memainkan pisau yang dibawanya.


“Jangan takut Nona cantik! Aku tidak akan macam-macam jika kamu mau bekerjasama dengan baik.” Ucapnya.


Badan Silvia sudah gemetaran. Mau minta tolong Xander pun percuma. Karena ponselnya saat ini berada di atas meja dan sulit dijangkau.


“Apa kamu tidak ingat sama sekali denganku Nona?” tanya pria itu dan Silvia menggelengkan kepala.


“Bukankah kamu dulu yang mendengar pembicaraanku dengan temanku di café?”


Deg


Silvia semakin ketakutan setelah teringat kejadian itu. Kemudian pria itu mendekati Silvia lalu membisikkan sesuatu sambil pisau mengarah ke perutnya. Akhirnya Silvia mengangguk patuh dengan apa yang diperintahkan pria itu.


Silvia duduk kembali. Jemarinya menari di atas keyboard sedang melakukan apa yang diperintahkan pria itu. Keringat dingin pun membasahi seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian apa yang dilakukan Silvia selesai. pria itu menyeringai puas.


“Sekarang ikut aku keluar. Kamu berjalanlah menuju basement. Jika kamu berani menunjukkan kecurigaan terhadap orang-orang, pisau ini akan dengan cepat meluncur ke jantungmu.” Ancamnya lagi.


Silvia mengangguk patuh lalu berjalan keluar dari ruangannya sesuai instruksi pria itu. Silvia pasrah jika setelah ini akan dipecat oleh peerusahaan karena lebih memilih nyawanya. Karena Silvia sadar akan perbuatannya baru saja sudah membuat perusahaan Sean berganti tangan ke tangan pria yang mengancamnya itu.


***

__ADS_1


Perasaan Xander semakin tidak tenang. Andai saja perjalanannya menuju kota B bisa ditempuh dengan mobil pasti sudah sejak tadi ia menyelamatkan Silvia. Tidak harus menunggu selama ini.


Tak lama kemudian pesawat yang ditumpangi Xander take off. Xander masih berusaha tenang. Namun meskipun demikian, saat ini otaknya sedang membayangkan bagaimana jika Bryan benar-benar melakukan sesuatu pada Silvia, atau justru melukai perempuan itu.


Xander mengepalkan kuat tangannya. dia berjanji tidak akan membiarkan Bryan hidup jika terjadi sesuatu dengan Silvia. Lama berkutat dengan pikiran buruknya, Xander tidak menyadari bahwa pesawat yang ia tumpangi sudah landing. Dengan cepat dia menuju pasrkiran mengambil mobilnya dan segera pergi ke kantor.


Saat ini tujuan utamanya adalah kantor. dia akan mencari barang bukti mengenai keberadaan Silvia saat ini. sesampainya di kantor, beberapa karyawannya juga tengah bersiap-siap pulang. mereka tidak tahu menahu tentang kekacauan yang sedang terjadi di tempatnya kerja. Karena hanya dirinya dan Silvia saja yang tahu. Sementara karyawan lainnya masih bisa bekerja seperti biasa meski perusahaan sudah berpindah tangan dalam waktu sekejap.


Xander melihat ponsel Silvia tergeletak di atas meja. Dia mengambilnya, setelah itu melihat rekaman cctv di ruang kerja Silvia saat bersama Bryan beberapa jam yang lalu.


“Kurang ajar!! Aku nggak akan membiarkan kamu hidup, baj***n!” umpatnya saat melihat Silvia ketakutan dengan todongan pisau mengarah ke perutnya.


Setelah mengotak-atik ponsel pintarnya, beberapa saat kemudian Xander mengetahui titik lokasi keberadaan Bryan saat ini. Xander akan bertindak sendiri. Tidak peduli jika Bryan membawa banyak anak buahnya. Namun dia akan menghubungi Vano untuk menjemput Silvia jika keadaan sudah aman. Karena Xander telah merencanakan sesuatu untuk Bryan.


Waktu sudah menjelang petang saat Xander tiba di tempat lokasi dimana saat ini Silvia sedang disekap. Di luar rumah itu tampak dua orang penjaga yang tempo hari pernah berkelahi saat bersama Sean.


Tanpa memberi aba-aba, Xander segera menerjang dua pria berbadan kekar itu. Perkelahian pun tak bisa dihindarkan lagi. satu lawan dua. Tenaga Xander benar-benar kuat hingga bisa melumpuhkan dua pria itu. Kemudian dia melirik keberadaan mobil Bryan yang terparkir tak jauh darinya. Dia segera berlarin cepat menuju mobil Bryan dan melakukan sesuatu yang sudah ia rencanakan. Beruntungnya Bryan tidak mengetahui.


Pyar


Xander menendang jendela kaca rumah itu, karena pintunya sangat sulit dibuka meski sudah mendobraknya. Setelah berhasil masuk, dia melihat Silvia duduk terikat dengan seorang pria yang sedang mengungkungnya. Ternyata perkelahian di luar tadi tak membuat Bryan terkejut sama sekali. Justru pria itu tampak santai.


“Datang juga kamu ternyata?” ucap Bryan dan berdiri dari sofa dimana dia mengungkung tubuh Silvia.


Mata Xander memanas saat melihat mulut Silvia tertutup lakban. Dan jangan lupakan dengan leher putihnya yang tampak noda merah bekas perbuatan Bryan.


“Andai saja kamu datang telat, pasti aku akan melakukan yang lebih dari ini. mungkin setelah ini saja aku lanjutkan.” Ucap Bryan lagi dan membuat Xander semakin marah.


Bugh


Tendangan Xander meleset. Ternyata Bryan cukup gesit menghindarinya.


“Apa maumu, baj***n?” tanya Xander sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


“Mauku cuma satu, jangan lagi ikut campur urusan Sean kalau kamu tidak ingin wanitamu semakin menderita.” Jawabnya menyeringai.


“Sayangnya aku nggak akan menuruti kemauanmu itu.” Sahut Xander.


Bryan semakin marah. Dia melayangkan pukulannya tepat mengenai pelipis Xander. Namun Xander juga tidak diam. Dia segera membalas pukulan Bryan dengan membabi buta. Keduanya terlibat perkelahian yang cukup ngeri. Bahkan Silvia yang ada di dekatnya tidak mampu berteriak agar Xander menghentikan aksinya.


Bugh


Bugh


Xander berhasil menindih tubuh Bryan yang sudah babak belur. Matanya masih menunjukkan sorot kebencian terlebih perbuatannya pada Silvia.


“Aku nggak masalah dengan perusahaan Sean yang kini sudah berpindah ke tangan David. Namun, aku tidak akan membiarkan kamu hidup bebas karena telah berani menyentuh wanitaku.” Ucap Xander sambil menekan kuat kepala Bryan ke lantai.


Bruk


Bryan berhasil menendang Xander hingga terjengkang ke belakang. Kemudian dengan cepat Bryan melarikan diri. Xander melirik keadaan Silvia yang tampak berantakan. Dengan cepat dia melepas lakban dan tali yang mengikat tubuhnya.


“Maafkan aku, Silvia. Aku nggak akan mengampuni pria itu. Aku akan mengejarnya. Setelah ini ada Vano yang menjemputmu.” Ucap Xander sambil mengecup bibir Silvia sekilas.


Brum brum


Terdengar suara mobil Bryan yang baru saja meninggalkan lokasi. Xander dengan cepat mengejarnya, meski dia sudah melakukan sesuatu pada mobilnya. Setidaknya dia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang keadaan terakhir Bryan yang terakhir.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2