Suami Kedua

Suami Kedua
Dia Cantik


__ADS_3

Kenzo yang sejak tadi diam memikirkan syarat yang diajukan oleh Chandra kini baru tersadar kalau Chandra sudah keluar dari ruangannya. Bahkan dia tadi sampai mengabaikan Chandra begitu saja. Kenzo sangat menyesalinya.


Kenzo meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi Chandra. Ternyata ponselnya tidak aktif. Lalu beralih menghubungi Sean dan ternyata tidak mendapat jawaban.


“Lebih baik nanti aku datang ke rumahnya saja, sekaligus minta maaf pada Chandra. Pasti dia kecewa karena aku abaikan.” Gumam Kenzo lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Chandra, setelah dari kantor Kenzo, dia segera pulang ke rumah dengan naik taksi. Chandra sempat berpikir tentang perusahaan Kenzo. dia berharap pria yang berstatus sebagai sahabat ayahnya itu bisa mempercayainya. Karena Chandra khawatir kalau semakin menunda waktu, maka bisa dipastikan perusahaan itu perlahan tumbang.


Ini adalah masalah berat yang baru saja Chandra tangani. Memang selama ini dia tidak terlalu ikut campur terlalu dalam mengenai perusahaan ayahnya. Dulu saat tinggal di luar negeri, tugasnya hanya membantu Fredy mengatasi kekacauan perusahaan. Dan kasusnya tidak seberat ini.


Dan hari ini, melihat kondisi perusahaan Kenzo, Chandra sedikit ikut prihatin. Meskipun dari luar keadaannya terlihat baik-baik saja, namun tak banyak orang yang tahu kalau di dalamnya ada masalah besar. Ya, walaupun itu bukan perusahaan milik ayahnya, jika saja perusahaan Kenzo tumbang pun sama sekali tidak merugikan Chandra ataupun ayahnya. Namun Chandra benar-benar tulus ingin membantu atas dasar kemanusiaan dan juga hubungan baik antar keluarganya.


Beberapa saat kemudian taksi yang ditumpangi Chandra sudah berhenti tepat di depan rumah. setelah memberikan ongkos taksinya, Chandra segera masuk ke dalam rumah. menegnai perusahaan Kenzo, biarlah nanti ia bicarakan dengan ayahnya. Kalau sudah di rumah seperti ini, bagi Chandra lebih baik menikmati momen kebersamaannya dengan keluarga.


Di rumah tampak sepi saat siang seperti ini. hal itu karena semua adik-adiknya sedang berada di sekolahannya masing-masing. Karena semua adik-adik Chandra menimba ilmu di sekolah dengan system fullday. Jadi yang ada hanya mamanya.


Chandra mencari keberadaan mamanya namun yang dicari tidak ada di kamarnya. Lalu dia kembali menuruni tangga dan pergi menuju dapur. Benar saja, wanita itu tampak sibuk membuat sesuatu. Kebetulan Lidia juga sedang sendiri, tidak ada pembantu yang menemaninya memasak.


Grep


Chandra tiba-tiba saja memeluk mamanya dari belakang. Wanita itu sedikit tersentak namun tidak sampai berteriak setelah mencium aroma parfum milik anak sulungnya.


Wanita paaruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu masih melanjutkan kegiatannya meski Chandra masih belum melepas pelukannya. Bahkan Chandra justru menyandarkan dagunya pada bahu sang Mama.


“Serius banget sih, Ma!” ucap Chandra.

__ADS_1


“Ya ini kuenya hampir selesai, kamu juga ngapain juga seperti ini? tumben banget manja.” Sahut Lidia dengan tangan yang sibuk memarut keju.


“Ya mumpung biang keroknya nggak ada di rumah. kapan lagi bisa manja sama mama seperti ini.” jawabnya sambil tersenyum jail.


Tuk


Lidia melepas pelukan Chandra lalu memukul pelan kening anak sulungnya. Hingga membuat Chandra meringis.


“Sakit tau, Ma!”


“Sama adik sendiri kamu bilang biang kerok.” Sahut Lidia tidak terima.


“Ya, memang benar kan, Ma? Mirza selalu bikin onar. Manjanya nggak ketulungan. Dah gitu semua perhatian tertuju padanya. Hingga semua anak mama yang lainnya kehausan kasih sayang.” Ucapnya mendrama.


“Ya kalau kamu mau seperti Mirza, sana balik lagi jadi kecil!” jawab Lidia asal.


Awwww


Chandra meringis kesakitan. Dan kali ini benar-benar sakit saat telinganya dijewer mamanya sampai memerah. Bahkan Lidia tak kunjung melepas tangannya yang masih bertengger di telinga Chandra.


“Coba bilang lagi, mau kamu apakan Mirza?” tanya Lidia tak terima.


“Ampun, Ma!! Chan hanya bercanda. Benaran Ma, Chan tidak serius.” Keluhnya sambil menahan kesakitannya.


“Bialng yang benar!”

__ADS_1


“Iya, maaf. Chan bercanda, Ma! Chan sangat menyayangi semua adik-adik Chan. Terutama Mirza.” Jawab Chandra lalu Lidia segera menurunkan tangannya.


Chandra masih mengusap-usap telinganya yang terasa panas. Namun dia juga masih mengekor Mamanya yang sedang memasukkan kuenya ke dalam microwafe.


“Sudah sana! Mama sudah selesai. tinggal menunggu beberapa menit saja sampai kuenya matang.” Ucap Lidia.


Chandra hanya diam lalu mengikuti Lidia yang kini berjalan menu ruang tengah. Lagi-lagi Chandra bersikap manja pada mamanya. Dia sekarang tidur berbantal pa-ha mamanya seperti yang biasa dilakukan oleh Sean.


Lidia pun perlahan mengusap rambut anak sulungnya itu. Dia cukup peka dengan sikap manja Chandra yang dulu hampir tak pernah dia dapatkan sewaktu masih kecil.


“Ma!” panggilnya pelan.


“Hemmm”


“Mama kenal akrab dengan Feby, anak Om Kenzo?”


“Kenapa memangnya?”


“Dia cantik ya, Ma?”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2