
Silvia dengan cepat menahan tubuh Lidia yang sudah lemas tak sadarkan diri. Beberapa orang yang melihatnya juga ikut terkejut. Xander yang dari jauh mendengar keributan pun segera mendekat. Betapa terkejutnya saat dia melihat istri sahabatnya pingsan dalam pelukan Silvia.
“Ada apa? Apa yang terjadi dengan Lidia?” tanya Xander dengan panik.
“Aku nggak tahu. Tadi ada yang menelepon Nyonya Lidia, dan tiba-tiba saja pingsan.” Jawab Silvia.
Xander dengan cepat menggendong Lidia untuk mencari tempat yang nyaman. Sedangkan Silvia membawa ponsel dan pouch milik Lidia yang terjatuh. Dia juga mencari keberadaan Sean dan memberitahunya.
Wajah Sean terlihat panik saat melihat sang istri tergeletak pingsan. Tuan Kenzo dan istrinya juga sudah berada di sana untuk melihat keadaan Lidia.
Sean menanyakan kronologi kejadiannya pada Silvia. Dia segera menghubungi orang rumah setelah Silvia menjelaskan penyebab Lidia pingsan.
Amarah Sean berkobar setelah mendapat kabar bahwa Viana telah diculik. Pria itu segera membawa istrinya pulang lalu mencari Viana.
“Ada apa?” tanya Xander saat melihat Sean menggendong tubuh Lidia menuju mobil.
“Kamu dan Silvia ikutlah pulang ke rumahku. Viana diculik.” Jawabnya dengan raut wajah merah padam.
Silvia diminta Sean ikut bersama mobilnya agar bisa mendampingi istrinya yang masih belum sadarkan diri. Sedangkan Xander mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di rumah, Sean segera membawa istrinya masuk ke dalam rumah. dia memandangi satu per satu anak buahnya dengan tatapan membunuh. Begitu juga dengan Bi Rani dan Pak Doni.
Saat ini Sean berusaha membuat istrinya sadar terlebih dulu sebelum mencari keberadaan Viana yang entah dimana penculik itu membawanya kabur.
“Sayang, bangunlah!” ucap Sean sambil mengolesi minyak angin di hidung Lidia.
__ADS_1
Tidak berselang lama, mata Lidia mulai mengerjap. Rasa pusing masih menderanya. Kemudian dia melihat wajah cemas Sean yang sedang duduk di sampingnya.
“Viana, anakku. Viana diculik, Sean!” ucap Lidia sambil menangis.
“Dimana sekarang Viana, Sean? Kenapa mereka menculik Viana?” lirihnya pilu.
“Sayang, tenanglah. Aku berjanji akan mencari anak kita sampai ketemu.” Sean memeluk Lidia dengan erat untuk menenangkan hati Lidia yang sedang kalut.
“Aku takut terjadi hal buruk dengan Viana. Tolong, Sean cari Viana sampai ketemu.” Pintanya dengan tangis sesenggukan.
Sean berusaha keras menenangkan istrinya dan meyakinkan kalau Viana pasti akan baik-baik saja. Dia juga berjanji akan mencari anak perempuannya sampai dapat. Dan tak lama kemudian Silvia mengetuk pintu dengan membawakan makan dan minum.
“Tolong temani istriku dulu, dan bujuk dia agar mau makan.” Perintah Sean.
“Baik, Tuan!”
Tatapan Sean sangat tajam pada keempat orang yang sedang berdiri di hadapannya. Bahkan Bi Rani tubuhnya sudah bergetar hebat saat baru pertama kalinya melihat kemarahan majikannya.
“Aku sangat yakin diantara kalian pasti ada seorang penghianat. Cepat katakan dengan jujur sebelum aku melihat buktinya sendiri!” ucap Sean dengan suara keras.
Pandangan Sean terasa janggal saat tak mendapati Bu Dewi, baby sitter Viana tidak ada di hadapannya. Apakah wanita itu ikut jadi korban penculikan Viana. Atau jangan-jangan…
“Cepat katakan!!” bentak Sean, karena tak satu pun dari mereka berempat yang membuka mulut.
“Maaf, Tuan. Saya berdua tadi berjaga di luar…
__ADS_1
Salah satu anak buah Sean mengatakan kalau sejak tadi berjaga di luar bersama satu temannya. Tak lama kemudian Bu Dewi mendatangi mereka berdua dengan nafas ngos-ngosan. Bu Dewi meminta tolong pada dua anak buah Sean agar membawa Pak Doni ke rumah sakit. Bu Dewi mengatakn kalau saat itu Pak Doni sedang pingsan di kamarnya. Tanpa menaruh curiga, kedua anak bodyguard itu berlari masuk ke dalam rumah. ternyata di dalam tidak ada apa-apa, Bi Rani juga sedang di dapur membuatkan susu untuk Chandra. Sedangkan Pak Doni istirahat di dalam kamarnya.
Merasa telah dibohongi, kedua bodyguard itu berlari keluar dan tidak menemukan keberadaan Bu Dewi dan Viana. Tadi saat kedua bodyguard berlari masuk ke rumah, dia melihat sekilas kalau Viana sedang berada di stoller yang diletakkan di luar rumah.
“Bodohhhh!!!!” teriak Sean menggema seisi ruangan.
Niat hati ingin memberi pelajaran pada kedua anak buahnya, tapi ia urungkan saat melihat wajah pucat Bi Rani. Lalu Sean segera naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya. Xander yang sejak tadi berdiri di belakang Sean pun mengikutinya naik ke lantai dua.
“Berengsekkk!! Bagaimana bisa aku lalai seperti ini. ternyata wanita itu tak sebaik yang aku kira. Dan aku tak pernah melihat gerak-geriknya yang mencurigakan.” ucap Sean frustasi.
“Tenanglah! Sekarang coba kamu cari melalui rekaman cctv yang ada di sepanjang jalan kompleks perumahan ini. kemana penculik itu membawa putri kamu beserta wanita sialan itu.” Xander menyarankan.
Dengan pikiran kalutnya, Sean mulai mengecek rekaman cctv tiap sudut rumahnya dan sepanjang jalan kompleks perumahan. Wajah Sean terlihat makin pias saat sama sekali tidak menemukan bukti.
“Viana, Ayah harap kamu baik-baik saja, Nak.” gumamnya lirih.
.
.
.
*TBC
Jaga hati dan emosi guys!!😂😂🤗
__ADS_1
Happy Reading‼️