
Fredy dan Bibi Anne terkejut dengan ucapan dokter baru saja. Dan tak lama kemudian Lidia bangun dari pingsannya. Dokter pun segera pamit undur diri. Fredy juga ikut keluar mengantar dokter.
“Nyonya, lebih baik anda istirahat dulu. Jangan dibuat bangun kalau kepala anda masih pusing.” ucap Bibi Anne.
“Iya, Bi. Kepalaku masih pusing.”
“Sebentar lagi kalau Jonathan pulang, kita ke rumah sakit.”
Lidia bingung. Kenapa hanya pusing saja harus ke rumah sakit. Bukannya baru saja dokter memeriksanya.
“Nyonya, saat ini anda tengah mengandung. Jadi dokter menyarankan agar anda periksa ke dokter kandungan.” Bibi Anne menjelaskan.
Mulut Lidia menganga tak percaya. Benarkah dirinya saat ini tengah hamil. Benarkah dalam rahimnya kini ada calon janin buah dari cintanya bersama Sean. Lidia kembali mengingat saat terkahir kali bercinta dengan Sean sebelum pria itu pergi menyelamatkan Viana. Selama ini Sean selalu memakai pengaman jika sedang bercinta dengannya. Dan hari itu adalah pertama kalinya mereka bercinta tanpa memakai pengaman.
Lidia tersenyum dengan air mata yang terus mengalir sambil mengusap perutnya yang masih rata. Mulai hari ini dia tidak akan bersedih lagi. karena ada janin yang akan selalu menyemangati dan menguatkan dirinya. Lidia yakin dengan hadirnya calon buah hatinya ini, sama saja Sean berada di sampingnya.
“Permisi, Nyonya. Saya hanya ingin menyampaikan kalau Uncle Jo sudah pulang. lebih baik sekarang anda bersiap untuk ke rumah sakit.” Ucap Fredy.
Lidia bangun dari tidurnya dibantu dengan Bibi Anne. Kemudian mereka segera pergi ke rumah sakit dengan diantar oleh Jonathan, suami Bibi Anne.
Lidia dan Bibi Anne sedang menunggu di depan ruang pemeriksaan dokter kandungan. Sejak tadi Lidia menunjukkan wajah sumringahnya sambil terus mengusap perut. Bibi Anne yang berada di sampingnya juga ikut bahagia dengan kehamilan Lidia. Dan tak lama kemudian nama Lidia dipanggil untuk segera memeriksakan kandungannya.
Setelah melakukan pemeriksaan USG, dokter mengatakan kalau saat ini usia kandungan Lidia sudah berjalan enam minggu. Lidia juga menanyakan keadaan rahimnya, karena setelah keguguran dulu, dia belum boleh untuk hamil. Betapa leganya hati Lidia saat dokter bilang kalau rahimnya sudah kuat.
__ADS_1
Setelah selesai periksa, Lidia bersama Bibi Anne mengambil beberapa vitamin ke apotek. Setelah itu pulang.
Sesampainya di rumah, Xander dan Silvia sudah menunggu Lidia di teras rumah. sepasang kekasih itu tampak bahagia setelah mendengar kabar bahwa Lidia saat ini tengah mengandung. Dan jangan lupakan Chandra. Anak sulung Lidia yang berusia sekitar tujuh tahun itu juga tak kalah senangnya saat tahu Mamanya hamil.
Chandra berlari menghampiri Mamanya yang baru saja turun dari mobil. Lidia dengan sgap memeluk Chandra lalu menciuminya.
“Mama, Chan sangat senang sebentar lagi akan punya adik lagi.” ucapnya bahagia.
“Mama juga sangat senang, Sayang. Chan mau jika nanti harus menjaga dua adik?”
“Mau, Ma. Chan akan menjaga Mama dan juga dua adik Chan.” Jawabnya.
Lidia kemudian mengajak Chandra masuk. Disana ia sudah disambut oleh Xander dan Silvia yang sedang menggendong Viana.
“Iya. Usia kandunganku sudah enam minggu.”
“Selamat, Nyonya. Semoga selalu diberi kesehatan untuk anda dan janin anda.” Ucap Silvia tulus.
“Terima kasih, Silvia!”
***
Sementara itu Sean masih selalu berada di dekat David. Setiap malam di dalam kamarnya Sean selalu belajar bagaimana caranya menonaktifkan bom yang tertanam dalam tubuhnya ini. Sean belajar diam-diam tanpa sepengetahuan David. Dia pintar menyembunyikan laman pencarian pada laptop yang ia gunakan. Karena David bisa melacaknya.
__ADS_1
Sean banyak mempelajari hal mengenai penanaman bom dalam tubuh manusia. Kebanyakan bom itu biasa digunakan oleh ******* yang sering melakukan bom bunuh diri.
Sungguh sangat rumit proses perakitan bom itu. Sean saja hampir putus asa saat mempelajari beberapa partikel yang terkandung dalam bom itu. Namun tekatnya sudah bulat. Jika dia berhasil memepelajari kandungan logam dan senyawa yang ada dalam bom itu, dia akan lebih mudah mengetahui cara melemahkan bom itu.
Sebenarnya dia perlu menggunakan remot pengendali. Namun dia tidak tahu dimana David menyimpannya. Dan pasti akan sangat bahaya jika dia nekat masuk ke dalam ruang pribadi David.
Lama berkutat di depan layar laptop, Sean menghentikan kegiatannya sejenak. Sekarang dia mencari cara bagaimana cara menghubungi Marsha untuk menyampaikan hal ini. Karena Sean yakin kalau Marsha bisa membantunya. Dan sangat tidak mungkin jika ia mengirim email padanya, karena David pasti tahu.
Tak lama kemudian, ponsel Sean bergetar ada notif pesan dari David. Pria itu mengirim pesan padanya kalau bulan depan akan melakukan kunjungan perusahaan ke kantor milik Sean yang saat ini sudah menjadi milik David.
Awalnya Sean sangat kesal. Tapi setelah itu dia seperti mendapat ide cemerlang saat kepergiannya nanti.
“Bagaimanapun caranya aku harus bisa bertemu Marsha.” Gumam Sean.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1