Suami Kedua

Suami Kedua
Bab. 60. Aku Milikmu. ( Ending )


__ADS_3

Part Unboxing Leon dan Karen.


Skip kalo masih puasa.


Leon akhirnya bisa membuka resleting itu dengan lancar. Meskipun, tadi jemarinya sempat gemetar karena telah menyentuh punggung mulus Karen. Hal yang sama juga di rasakan oleh Karen. Seketika wanita itu merasa tubuhnya seperti tersengat arus listrik.


Karen menanggalkan gaunnya begitu saja. Kemudian ia berbalik menghadap Leon.


Kagetnya pria di hadapannya itu karena, kini Karen tidak mengenakan apapun pada bagian atasnya lagi. Hingga, pemandangan indah dari bukit teletubbiesnya terpampang nyata.


"Kau ... ti– tidak malu, menampakan itu semua padaku?" tanya Leon terbata. Napasnya tercekat melihat tubuh indah istrinya.


"Aku akan istrimu. Aku ini milikmu. Kenapa harus malu? Hanya kepadamu aku menunjukkan ini semua," ucap Karen.


Karen benar juga. Mereka adalah suami istri sekarang. Lalu apa yang membuat Leon merasa tak enak dan takut?


Leon menghampiri Karen dan mengecup bibirnya. Meskipun hanya kecupan, nyatanya hal itu mampu membuat darah Karen berdesir.


Wanita itu tersenyum. Leon kembali mencium, dan ia semakin berani, dengan melumatt bibir Karen dan memasukkan lidahnya. Ia seperti pernah melakukan ini sebelumnya.


Apa yang pria ini lakukan membuat Karen mengalungkan lengannya ke leher kekar suaminya. Leon pun merengkuh pinggang Karen dan menciuminya dengan lahap.


Karen telah membuka akses lebar pada mulutnya. Ia memberi lampu hijau pada Leon di saat pria itu menciuminya buas.

__ADS_1


Karen ingin suaminya itu menikmatinya dengan bebas dan tanpa rasa tanggung lagi.


Pertautan hangat bibir keduanya kini telah berubah suhu tubuh keduanya. Suasana semakin memanas. Leon juga semakin berani menggerakkan jemarinya di bahu polos istrinya itu.


Leon semakin menurunkan tangannya hingga, membuat gaun pengantin itu turun dan memberi akses lebih besar padanya.


Ciuman itu semakin turun ke leher Karen yang putih dan jenjang. Sehingga sebuah alunan suara merdu, yang keluar dari bibir Karen semakin menaikkan adrenalin dari Leon. Bagian pusat tubuhnya semakin menegang.


"Leon ...," satu ucapan mengandung desah lolos dari bibir Karen. Ketika, suaminya itu berhasil mengecup dalam dan lama tulang selangka hingga bagian atas dadanya. Sebuah tanda kepemilikan berhasil ia sematkan di sana. Mencipta senyum lebar dari pemilik wajah ketimuran itu.


"Kau sangat menggairahkan sayang. Tubuhmu sangat indah. Kehadiranmu selama ini untukku nyatanya membuat hari-hari ku termakan mimpi yang manis. Aku tidak menyangka, jika keindahan ini tersimpan hanya untukku. Aku, tidak akan membiarkan ini semua di lihat oleh orang lain." Leon kembali menangkup wajah Karen setelah memandanginya lama.


Kemudian melabuhkan ciuman bertubi-tubi hingga tidak ia lewatkan satu inchi pun bagian dari wajah itu. Lidahnya kembali bermain di dalam mulut Karen yang terbuka. Hingga lenguhan itu kembali mengalun kencang.


Leon mengangkat tubuh Karen yang dan wanita itu melingkarkan kakinya di pinggang Leon. Mereka berjalan ke arah tempat tidur dengan tetap berciuman.


Leon meletakkan Karen perlahan. Kemudian ia menanggalkan pakaiannya sendiri. Leon naik dan mulai menciumi sekujur raga terbuka istrinya itu. Bermain-main di atas perut hingga Karen berteriak geli. Bukannya berhenti justru Leon mengusap kain segitiga berenda itu. Makin mengejanglah tubuh Karen.


Leon membuka sisa penutup Karen karena ia ingin mereka berdua segera menyatu. Sebelumnya ia menciumi bagian yang indah dan wangi itu hingga sang pemilik mengejang karena pelepasannya.


Karen tersenyum kemudian di balas hal yang sama oleh Leon.


"Aku mulai ya?" Pertanyaan Leon pun hanya diangguki oleh Karen.

__ADS_1


"Ugh ..!"


"Apakah itu sakit? Maafkan aku ...," ucap Leon yang kaget dan merasa bersalah ketika mendengar lenguhan Karen di tengah perjuangannya.


"Sedikit, tidak apa. K–kau teruskan saja," jawab Karen yang menahan rasa ngilu dan perih pada bagian intinya. Walau pun ini hal baru pertama kali untuknya, tetapi Karen berusaha memberikan yang terbaik pada Leon.


Ia sungguh mencintai pria ini. Terlepas dari wajah yang memang sengaja ia buat mirip dengan tunangannya yang telah tiada itu.


Akan tetapi, Karen memang telah terlanjur jatuh cinta kepada Leon dan tidak akan bisa hidup tanpa kehadiran pria itu di sisinya.


"Maafkan aku, ini sangat susah dan sempit." Leon berkata dengan napas yang menderu. Suaranya parau dengan tatapan mata yang sayu karena tertutup oleh gairah.


Ia memeluk dan menciumi wajah Karen demi mengurangi rasa sakit pada wanitanya. Padahal, ia telah memberi stimulasi dan rangsangan yang cukup. Bahkan, menurutnya ia tidaklah terburu-buru. Bahkan ia telah membuat, jalur itu basah siap untuk di sergap.


"Kau tidak salah, suamiku. Lakukanlah. Akh ...," erang Karen disela-sela ucapannya yang mendayu. Hentakan Leon yang begitu kuat dan terarah. Membuatnya melayang dan tak lagi berpihak pada bumi.


"Katakan lagi, panggil aku dengan sebutan seperti tadi. Ah, aku sangat menyukainya. Aku sangat beruntung," lenguh Leon sambil berbisik dengan suara serak di telinga Karen. Ia menyukai panggilan itu tersemat padanya.


"Suamiku, aku mencintaimu."


"Karen. Aku juga mencintaimu ...!" Leon, memekik dan ia pun meledakkan sesuatu yang sejak tadi mendidih dalam tubuhnya.


Keduanya saling berpelukan erat, seakan tak ada satupun kekuatan apapun yang dapat memisahkan keduanya.

__ADS_1


...SELESAI ...


__ADS_2