Suami Kedua

Suami Kedua
Tumbang


__ADS_3

“Gawat, Sean! Kantor cabang sedang bermasalah.” Ucap Xander tiba-tiba.


“Ada seseorang yang membuka akses data penting di perusahaan.” Lanjutnya.


Sean sungguh tidak menyangka dengan kejadian hari ini. tanpa berbicara, pria itu tetap melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya. Xander pun mengikutinya. Sementara Leon dan Marsha tetap di bawah. Marsha meminta bantuan Fredy untuk melanjutkan pekerjaannya tadi. sedangkan Lidia masih bersama Bi Rani.


Di dalam ruang kerja Sean, Xander tampak mondar-mandir sambil berusaha menghubungi Silvia yang sejak tadi tidak menerima panggilannya. Sedangkan Sean sudah mendapatkan pelaku siapa yang berhasil masuk ke rumahnya. Dan ternyata pria itu adalah Jeff. Kali ini Sean tidak bisa membiarkan pria itu berkeliaran lagi di kota ini. dia harus segera dimusnahkan.


Sementara Xander, Pikiran buruk memenuhi otaknya saat ini. bahkan dia sempat menuduh Silvia juga ikut dalam masalah ini. namun perasaan itu segera ia tepis.


“Bagaimana perkembangannya?” tanya Sean.


“Sampai saat ini Silvia masih belum bisa dihubungi. Dan sepertinya ada orang dalam yang sengaja membocorkan data penting perusahaan pada baj****n itu.” Jawab Xander dengan raut wajah cemasnya.


“Aku curiga, jangan-jangan Sil-“


“Bodoh!! Kamu bisa-bisanya menuduh Silvia yang melakukan itu semua?”


“Selama ini hanya kita dan sekretaris itu yang mengetahui kode akses data perusahaan. Apa aku salah jika Silvia telah-“


“Ternyata rasa cintamu pada Silvia masih diragukan.” Lagi-lagi Sean memotong ucapan Xander. Xander pun terkejut, bagaimana bisa Sean mengetahui hubungannya dengan Silvia.


“Kalaupun memang Silvia yang membocorkan rahasia itu. Aku yakin dia berada di bawah tekanan seseorang. Cepat cari tahu sekarang juga! aku akan melihat keadaan istriku.”


Sean segera keluar dari ruangannya. Xander pun akhirnya memakai laptop Sean untuk mencari tahu sumber masalah yang telah terjadi di kantor cabang.


Tak lama kemudian ponsel Xander berdering. Ada panggilan dari nomor asing. Dia segera menerimanya.


“Halo?”


“Halo kawan! Pasti saat ini kamu sedang mencari sekretaris kesayangan kamu bukan?” ucap seseorang dari balik sambungan telepon itu.


Amarah Xander seketika meluap setelah mendengar suara Bryan.


“Kamu jangan coba main-main denganku, baj***n!!”


“Hahaha itu salah dia sendiri yang telah berani menguping pembicaraanku. Dan juga kamu yang berani ikut campur urusanku dengan Sean.”

__ADS_1


“Berani kamu menyentuh dia, aku nggak segan-segan membunuhmu!”


“Silakan saja Tuan Xander yang terhormat. Aku tunggu kedatanganmu. Baiklah, aku akan bersenang-senang sebentar dengan wanita seksii ini.”


Xander benar-benar emosi mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleg Bryan. Dia tidak boleh diam saja. Sekarang juga harus menyelamatkan Silvia.


Sementara itu saat ini Sean membawa istrinya masuk ke dalam kamarnya. Tubuh Lidia masih tampak lemas setelah sadar dari pingsannya. Sean juga sudah menghubungi dokter Lily agar memeriksa keadaan istrinya.


“Sayang, minum dulu!” ucap Sean sambil membantu istrinya duduk.


“Aku takut, Sean. Jeff tadi datang.” Ucap Lidia sambil mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


“Tenanglah. Aku akan segera mengatasinya. Wajah kamu masih pucat. Sebentar lagi Dokter Lily datang untuk memeriksa keadaan kamu.” Jawab Sean.


Lidia kembali merbahkan tubuhnya setelah minum. Sean pun ikut merebahkan tubuhnya sambil memeluk istrinya. Perasaan Sean saat ini benar-benar tidak bisa lagi digambarkan. Semenjak memegang amanat yang diberikan oleh Billal, rasanya masalah tidak pernah surut. Bahaya selalu mengintainya. Bukan dirinya putus asa menghadapi masalah yang tak kunjung berakhir ini. hanya saja Sean kasihan melihat ketakutan di wajah istrinya.


Tak lama kemudian pintu kamar diketuk. Ternyata dokter Lily datang dan hendak memeriksa keadaan Lidia. Sean masih setia menungguinya, karena dia juga ingin mengetahui keadaan istrinya saat ini.


“Bagaimana dok?” tanya Sean.


Sean mengangguk patuh. Setelah itu dokter Lily pamit undur diri.


“Sekarang kamu istirahat, sebentar lagi aku akan meminta Bi Rani membawakan makan kesini.” Ucap Sean.


“Kamu mau kemana? Tolong, jangan pergi kemanapun Sean! Aku masih takut.” Lidia menahan langkah Sean.


“Iya. Aku akan tetap di rumah. aku mau turun sebentar, masih ada Leon dan Marsha disana.” Ucap Sean.


Sean keluar dari kamarnya dan bertepatan dengan Xander yang baru saja keluar dari ruang kerja Sean. Wajah Xander terlihat tidak tenang. Dia harus secepatnya menyelamatkan Silvia.


“Ada apa?” tanya Sean.


“Aku harus pulang sekarang juga. Silvia disekap oleh Bryan.”


Mereka berdua pun segera turun menghampiri Leon, Marsha, dan juga Fredy yang sedang sibuk mencari informasi mengenai Bryan. Namun Xander tidak ingin ikut bergabung. Pikirannya tidak tenang selama Silvia masih dalam bahaya.


“Selamatkan Silvia sekarang juga. biar aku dan yang lain mengurus semuanya.” Ucap Sean dan membiarkan Xander kembali ke kota B.

__ADS_1


“Sebelum aku pulang, bolehkah nanti aku membalas perbuatan Bryan dengan caraku sendiri?” tanya Xander.


“Lakukan apapun sesukamu!”


Setelah Xander pergi, Sean masuk ke dalam salah satu ruangan dimana Leon, Marsha dan juga Fred yada disana. Tak lupa Chandra juga ikut berdiri di samping Fredy. Meski bocah enam tahun itu masih belum mengerti apa-apa, namun Chnadra cukup paham tentang kejadian yang tengah menimpa keluarganya.


“Chan, lebih baik Chan sekarang istirahat ya?” ucap Sean.


“Nggak mau. Chan ingin lihat Kak Fred disini. Chan janji tidak akan mengganggu, Yah.” Jawab Chan.


Sean menghela nafasnya pelan. Setelah itu membiarkan Chandra berada dalam ruangan itu. Sean pun segera membuka laptopnya untuk mengatasi kekacauan yang baru saja dilakukan oleh Bryan. Sedangkan ketiga orang lainnya juga sibuk dengan tugas masing-masing.


“Berengsekkk!!” umpat Sean seketika membuat ketiga orang yang juga tengah sibuk itu menoleh padanya.


“Ada apa?” tanya Leon.


Sean mengacak rambutnya dengan kasar. Rasanya dia telah gagal menjalankan amanat dari Billal setelah melihat kenyataan bahwa perusahaan cabang sudah benar-benar tumbang. Dan dengan cepat berpindah tangan ke perusahaan yang dipegang Bryan.


“Cepat ubah kata sandi untuk kode akses di kantor pusat!” ucap Leon.


Jemari Sean pun bergerak dengan cepat mengganti kode akses sesuai yang diperintah oleh Leon. Karena saat ini kantor pusat masih aman. Mungkin perlahan Sean akan merelakan jika kantor cabang benar-benar akan berada pada kekuasaan Bryan. Tapi dia berjanji suatu saat nanti akan mengambilnya lagi.


“Tuan, sepertinya pengusaha yang bernama David saat ini tidak bekerja sendirian. Ada campur tangan dari salah satu mafia yang keahliannya tidak diragukan lagi. dan hal itu yang membuat saya dan Marsha kesulitan membobol system pertahanan di perusahaan Tuan David” ucap Fredy.


“Cari tahu semua informasi penting lainnya. Aku juga akan menunggu kabar dari Xander.” Perintah Sean.


.


.


.


*TBC


Ada yang tahu siapa mafianya?


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2