Suami Kedua

Suami Kedua
Pengusaha Sukses


__ADS_3

Setelah mendapat panggilan dari anak buahnya, Sean berpamitan pada Erick. Dan segera menuju markas dimana saat ini Ricky dan rekannya diamankan.


Markas yang Sean gunakan untuk menyekap Ricky berbeda dengan markas diaman ia menyekap satpam tadi. maarkas ini berada sedikit jauh dari perkotaan dan membutuhkan waktu kurang lebih selama satu jam perjalanan.


Sebelum menuju markas, Sean singgah dulu ke suatu tempat rahasia untuk menyiapkan sesuatu yang akan ia bawa. Setelah itu barulah ia melanjutkan perjalanannya.


Satu jam kemudian Sean sudah memasuki sebuah rumah sederhana yang jauh dari pemukiman penduduk. Rumah itu adalah markas yang telah ia siapkan sejak beberapa bulan yang lalu saat kepulangannya dari luar negeri. Sebulan memang sengaja menyiapkan rumah itu mengamankan pelaku yang telah mengacaukan perusahaannya.


Kedatangan Sean sudah disambut oleh anak buahnya yang berjaga di luar. Lalu dia masuk ke salah satu ruangan dimana saat ini Ricky berada. Sementara rekan Ricky yang ikut andil berada di ruangan lain. Sean meminta anak buahnya memberikan pelajaran lalu membuangnya ke tempat yang sangat jauh dan dipastikan tidak bisa kembali lagi.


Cklek


Sean memasuki ruangan dimana Ricky berada. Pria itu tampak terikat tali sambil duduk di sebuah kursi. Namun mulutnya tidak tertutup lakban.


“Apa kabar kawan?” tanya Sean sambil tersenyum sinis menatap wajah Ricky yang tertunduk.


Ricky mendongak menatap tajam penuh permusuhan pada seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.


“Ternyata kamu tidak pernah bosan bermain-main denganku.” Lanjut Sean dengan wajah yang terlihat sangat santai.


Ricky masih diam. Dia membiarkan Sean bicara sesuka hatinya.


“Kenapa diam? Apa kamu sedang menyiapkan rencana besar lagi untuk mengacaukan perusahaanku?” tanya Sean mendekatkan wajahnya pada Ricky.


Cuihh


Ricky meludahi wajah Sean. Sontak saja Sean sangat murka. Lalu anak buahnya mendekat untuk memberikan Sean tisu.

__ADS_1


Bugh


Sean memukul rahang Ricky cukup keras hingga mulutnya mengeluarkan darah.


“Aku nggak takut sama sekali denganmu! Aku akan tetap membalaskan semua perbuatanmu padaku selama ini.” ucap Ricky sambil menahan kesakitannya.


Sean hanya tersenyum sinis menanggapinya. Kali ini Sean tak ingin adu kekuatan dengan Ricky. Karena akan sia-sia dan tidak membuatnya puas jika membuat pria itu hanya terkapar di rumah sakit.


Sean duduk di sebuah kursi lalu membuka tas kecil yang ia bawa. Sean mengeluarkan sebuah alat injeksi dan beberapa cairan dalam botol kecil. Sean memasukkan beberaa cairan itu dan mencampurnya jadi satu. Cairan itu mengandung zat berbahaya bagi tubuh manusia. Efeknya memang lambat. Namun yang pasti, tubuh yang terkena suntikan cairan itu perlahan akan membusuk dan melemahkan tulang-tulangnya hinga akhirnya bisa menyebabkan kematian. Beberapa bulan yang lalu Sean sudah menyiapkan cairan itu melalui bantuan dokter Smith.


“Tutup mulut baj***an itu!” ucap Sean.


Ricky yang seolah mengerti akan mendapatkan bahaya, pria itu terus meronta dan ingin lepas namun tidak bisa. Setelah mulut Ricky tertutup lakban, Sean mulai menyuntikkan cairan itu ke lengan Ricky.


“Tenanglah kawan, obat ini hanya akan membuatmu rileks. Rileks menghadapi kematian.” Ucap Sean setelah berhasil menyuntikkan cairan itu.


“Selamat menikmati penderitaanmu!” pamit Sean.


Sean keluar dari rumah itu. Dia tetap mengutus anak buahnya menjaga Ricky hingga pria itu benar-benar dinyatakan meninggal.


***


Beberapa bulan berlalu. Kabar kematian Ricky akibat suntikan yang ia berikan cukup membuat Sean lega. Dan keadaan perusahaan Sean sudah kembali seperti semula. Bahkan kini berkembang semakin pesat dan membuat nama Sean melejit di kalangan pengusaha sukses tanah air.


Meski Sean sangat disibukkan dengan pekerjaannya, namun pria itu tetap menomor satukan keluarganya. Dia juga bisa membagi waktunya antara perusahaan dan keluarga. Sean juga menepati janjinya pada sang istri untuk rutin berkunjung ke luar negeri melihat keadaan Chandra.


***

__ADS_1


Hari ini Sean, Lidia beserta ketiga anaknya tengah bersiap pergi ke bandara untuk menjemput Chandra.


Harusnya satu tahun yang lalu Chandra pulang ke Indonesia sesuai permintaanya dulu kalau akan tinggal di luar negeri hanya tiga tahun saja. Tapi nyatanya Chandra menghabiskan waktunya selama empat tahun.


Awalnya Lidia tidak terima dengan keputusan itu, namun karena Chandra ingin membantu Fredy mengatasi masalah di perusahaan, akhirnya Lidia memakluminya.


Rencana Sean dan Lidia menjemput Chandra hari ini sekaligus ingin merayakan ulang tahun anak sulungnya yang ke tujuh belas tahun. Lidia juga sudah menyiapkan pesta kejutan untuk anak sulungnya itu.


Sebelum berangkat, Lidia dikejutkan dengan suara tangisan anak laki-laki dari dapur. Siapa lagi kalau bukan Mirza. Lidia rasanya sudah terbiasa dengan tangisan anak bungsunya itu. Usianya sudah enam tahun namun kelakuannya masih seperti anak usia tiga tahun.


“Kenapa lagi?” tanya Lidia melihat Mirza menangis sambil menundukkan kepalanya.


“Itu Ma, tadi Mirzaa maksa minta kue tart yang akan digunakan merayakan pesta ulang tahun Kak Chandra.” Jawab Kavi yang berdiri di belakang Mirza.


“Lalu kamu marahi adik kamu?” tanya Lidia sambil menekan rasa sabar dalam dadanya. Kavi hanya mengangguk takut jika terkena sasaran kemarahan mamanya.


“Sudah, sudah, kalian jadi ikut ke badara nggak?” Sean yang baru datang berusaha menengahi pertengkaran kecil itu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


__ADS_2