Suami Kedua

Suami Kedua
Ancaman Istri Muda


__ADS_3

Kila menarik napas sambil meletakan ponsel di tangannya itu ke meja. Wajahnya bersandar di meja dengan tangannya memainkan kantung plastik berisi belanjaan yang sebelumnya dia beli di minimarket. “Nyonya,” tukas suara perempuan yang membuat Kila kembali mengangkat wajahnya.


“Teh yang Nyonya inginkan,” sambungnya sambil meletakan secangkir teh hangat di dekat Kila.


“Terima kasih, Bi,” saut Kila, yang tersenyum sebelum menyeruput teh yang diberikan.


“Bagaimana dengan bahan-bahan makanan yang aku inginkan?”


Mainun mengangguk pelan, “semuanya sedang dibeli oleh pelayan yang lain, Nyonya,” jawabnya dengan nada lembut terdengar.


“Bibi, di mana Kak Citra sekarang?” Kila kembali bertanya kepadanya.


“Nyonya Citra, sejak semalam mengurung dirinya-”


Kila menghela napas lalu beranjak dari kursinya, “begitu, kah?” gumam Kila dengan meraih ponsel lalu melangkahkan kakinya melewati Mainun.


“Nyonya, Nyonya ingin ke mana?”


“Menemuinya-”


“Tapi Nyonya,” panggil Mainun yang tidak digubris sama sekali oleh Kila.


Kila terus melanjutkan langkahnya mendekati kamar yang ditempati Rama dan juga Citra, langkahnya berhenti sambil menarik napas dalam … Mengetuk pintu berwarna putih di hadapannya itu. Kila kembali mengetuk saat tak ada suara yang menanggapi. Ketukan yang ia buat kembali berlanjut, hingga berulang dan berulang Kila lakukan.


“Rama, apa itu kau, Rama?”


Ketukan Kila berhenti saat suara perempuan menyaut dari dalam. Dia sedikit berjalan mundur saat pintu tersebut terbuka. “Apa yang dilakukan perempuan murahan sepertimu di sini? Di mana Rama? Di mana Suamiku?” tanya Citra saat kepalanya bergerak, mencoba untuk mencari keberadaan Rama.


“Dia pergi bekerja. Tidak perlu berpura-pura tertindas di depanku, aku sudah tahu semua kebusukanmu,” jawab Kila sembari menyelonong masuk ke dalam kamar.


“Apa yang kau lakukan? Keluar dari kamarku?!” Citra meninggikan suaranya sambil menyusul Kila masuk.


Langkah Kila berhenti, tatapan matanya menyebar ke seluruh kamar yang sangat berantakan itu. Kila sedikit meringis saat rambutnya dengan tiba-tiba ditarik kuat ke belakang. “Keluar kau dari sini!”

__ADS_1


“Dasar perempuan tidak tahu malu! Apa kau tidak bisa berkaca pada dirimu sendiri!”


Kila berbalik lalu menepis tangan Kila hingga tarikan di rambutnya terlepas. “Kau memukulku? Berani-beraninya kau memukulku!” Citra kembali meninggikan suaranya dengan memegang lengannya sendiri.


“Aku tidak sedang memukulmu, aku hanya sedang berusaha untuk melepas rambutku,” Kila menyaut santai sambil berjalan lalu duduk di pinggir ranjang.


“Enyah kau dari sana! Kau membuat tempat tidur kami menjadi kotor!”


“Apa kau, tidak bisa menurunkan nada suaramu? Suaramu yang seperti tikus itu, benar-benar membuat telingaku berdenging.”


“Apa mak-”


“Maju satu langkah saja. Jangan menyesal jika aku melakukan sesuatu kepadamu,” ancam Kila yang dengan cepat memotong bentakan Citra.


“Wahai kau, mantan kekasih dari suamiku, Gilang,” Kila tersenyum kecil saat mata Citra membesar tatkala mendengarnya.


“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, aku mengetahui kebusukanmu … Perempuan murahan? Apa kau, tidak bisa bercermin dengan dirimu sendiri?” Kila mengibas rambutnya sambil terus menatapi Citra yang tiba-tiba membeku.


Kila kembali beranjak berdiri mendekati Citra, “jangan menyusahkan kak Rama, jika kau melakukannya … Semua anggota keluarga Rahardian, akan mengetahui kebusukanmu itu. Aku menunggumu untuk makan siang. Jadi, bekerja samalah denganku, istri pertama suamiku,” ucap Kila, dia melirik ke arah Citra sebelum melangkah meninggalkannya sendirian di kamar.


Kila menuruni tangga, bibirnya kembali menyunggingkan senyuman setelah apa yang ia lakukan. Dia terus melanjutkan langkah mendekati kamarnya, “kamar ini benar-benar sudah dirapikan,” gumam Kila, saat baju-baju yang sebelumnya ia letakan di atas ranjang telah menghilang.


Dia menutup rapat pintu, melemparkan ponsel di tangannya itu ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya. “Dia bertingkah seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya. Aku tidak menyangka, kedua beradik Rahardian itu akan sama-sama jatuh kepada perempuan tersebut,” Kila kembali bergumam sambil memejamkan matanya.


______________.


Rama berjalan masuk ke dalam rumah, “di mana Kila?” tanya Rama, kepada seorang pelayan yang ia temui.


“Nyonya, sedang di dapur, Tuan.”


Rama terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Dia menghentikan langkah, saat pandangan matanya itu terjatuh kepada Kila yang terlihat bersenda-gurau kepada beberapa koki di dapur. Langkahnya kembali berlanjut, saat Kila sendiri tidak sengaja menoleh ke arahnya.


“Kak Rama? Apa sekarang, sudah jam istirahat untuk makan siang?” tanya Kila yang gelagapan sambil melangkah mendekati Rama.

__ADS_1


“Jam 2 aku harus menghadiri rapat penting, jadi aku lebih cepat ke sini,” ucap Rama, saat Kila sendiri telah berdiri di depannya.


“Tapi bagaimana, masakannya belum siap-”


“Aku akan menunggu,” saut Rama singkat, sambil berbalik, meninggalkan dapur.


“Nyonya Kila!”


Kila menoleh ke arah beberapa koki dapur yang memanggilnya, “kami akan mengurus semuanya. Pergilah!” ucap Pak Mahmud yang diikuti anggukan yang lain.


“Apa kalian yakin?”


Kila tersenyum dengan memberikan celemek kepada Mainun yang berjalan mendekatinya, saat mereka semua menganggukan kepala. Kila berjalan dengan langkah yang sedikit cepat, menyusul Rama yang telah menaiki tangga, “apa dia ingin menemui Citra?” gumam Kila, langkahnya kembali berlanjut menaiki tangga saat Rama sendiri berjalan ke arah sebaliknya dari kamar.


“Kak!” panggil Kila, hingga Rama menghentikan langkahnya.


“Apa kakak ingin ke ruang baca? Ingin aku menyiapkan minuman atau sesuatu?”


“Kau, sudah selesai memasak?”


Kila mengangguk sambil meraih lengan Rama yang ada di dekatnya, “masakannya, hanya tinggal menunggu untuk matang. Dan mereka berkata, akan membawa makanannya ke ruang makan. Jadi, aku berniat untuk melayani kakak saja sambil menunggu mereka selesai melakukannya. Apa kakak, membutuhkan sesuatu?”


“Aku hanya ingin membaca di ruang bacaku-”


“Begitu ya.”


“Apa kau ingin ikut?” tanya Rama yang langsung dibalas dengan cepat anggukan Kila.


Mereka kembali berjalan menaiki tangga, “aku dengar, jika kau meminta mereka untuk merapikan kamar.”


‘Apa mereka yang di sini, segera melapor kepadanya kalau terjadi sesuatu? Sepertinya, aku harus berhati-hati untuk kedepannya,’ batin Kila sambil menganggukan kepalanya.


“Semua jas dan kemeja untuk kakak bekerja, semuanya ada di dalam kamar itu. Aku hanya tidak ingin, pekerjaan kakak terganggu karena itu,” jawab Kila, sembari berjalan masuk ke dalam ruangan saat Rama membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


“Benarkah?”


Kila berbalik, melangkah mendekati Rama yang telah menutup kembali pintu ruangan. Dia memeluk Rama dengan menyandarkan kepala di dadanya, “aku, hanya sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik,” ucap Kila dengan semakin mempererat pelukannya kepada laki-laki yang menjadi suaminya itu.


__ADS_2