Suami Kedua

Suami Kedua
Makan Malam


__ADS_3

Xander dan Silvia kini sudah tiba di rumah. kebetulan saat itu semua penghuni rumah tampak sedang makan malam bersama.


“Kalian dari mana? Kita nunggu dari tadi.” tanya Lidia yang saat itu sedang berdiri sambil menggendong Kavi.


“Aku dan Silvia hanya jalan-jalan sebentar. Maaf membuat kalian menunggu.” Jawab Xander.


“Sudah, lebih baik kalian berdua segeralah bergabung untuk makan malam bersama.” Ajak Sean kemudian.


Xander dan Silvia mencuci tangan terlebih dulu setelah itu ikut bergabung di meja makan. Silvia yang hendak duduk di samping Xander tapi matanya melihat Lidia sedang menggendong Kavi, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk makan. Silvia yakin kalau Lidia pasti belum makan.


“Nyonya, lebih baik anda makan dulu. Biar Kavi bersama saya.”


“Nggak usah. Kamu makan saja, aku nanti saja. Aku masih ingin menikmati waktuku bersama Kavi.” Tolak Lidia secara halus.


Silvia pasrah. akhirnya dia segera makan malam bersama yang lainnya.


Xander melihat pemandangan di depan matanya juga ikut bahagia. Dimana keluarga kecil Sean sudah bisa berkumpul kembali seperti dulu. Justru sekarang kebahagiaan mereka bertambah. Yaitu dengan hadirnya Kavi. Bayi mungil nan tampan itu.


Usai makan malam, Sean berganti menggendong Kavi, lalu mempersilakan istrinya makan. Sedangkan Chandra dan Viana sudah terlebih dulu masuk ke kamar ditemani oleh Bibi Anne. Sementara Fredy memilih untuk keluar rumah dengan alasan mencari angin segar.


“Setelah kalian membersihkan diri, aku tunggu di ruang tengah. Ada yang ingin aku bicarakan.” Ucap Sean menahan langkah Xander dan Silvia.

__ADS_1


Xander dan Silvia mengangguk.


Kini sean tampak duduk di hadapan Lidia yang sedang makan sambil menimang Kavi. Sean sangat gemas dengan bayinya yang sangat lucu itu. Bahkan dia terus menciuminya hingga bayi itu bergerak-gerak kegelian akibat terkana vulu-bulu halus di sekitar wajah sang ayah.


Lidia mengunyah makannya tersenyum saat melihat interaksi ayah dan anak itu. Akhirnya hidupnya sangat bahagia setelah mampu memberikan seorang anak dari hasil pernikahan keduanya dengan pria penyayang dan sangat ia cintai, yaitu Sean. Ya, walau jalannya begitu terjal. Namun akhirnya dia bisa melewati semuanya.


Lidia berharap pada semua anak-anaknya semoga menjadi anak-anak yang tangguh dan mandiri. Karena secara tidak langsung, mereka sudah mendapat pelajaran hidup yang begitu berarti di saat usia mereka masih kecil.


Usai makan, Sean mengajak istrinya menuju ruang tengah untuk menunggu Xander dan Silvia. Entah apa yang ingin Sean bicarakan pada mereka, yang pasti Lidia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada Xander dan Silvia. Terutama Silvia yang sudah merawat Kavi dengan penuh kasih sayang.


Beberapa saat menunggu, Xander dan Silvia pun kini sudah bergabung di ruang tengah. Silvia memilih duduk di samping Lidia yang sedang menggendong Kavi. Perempuan itu mengambil alih Kavi dari gendongan Silvia. Karena jujur saja, ditinggal beberapa jam saja membuat Silvia sangat rindu pada bayi tampan itu.


“Aku melakukannya dengan ikhlas, Sean. Tanpa kamu memintaku untuk menyelamatkanmu, ataupun menjaga istri dan anak-anakmu, aku pasti akan melakukannya. Karena kamu sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri.” Jawab Xander, lalu menjeda ucapannya.


“Untuk masalah hubunganku dengan Silvia, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Justru dengan ada masalah ini aku bis amengambil hikmahnya. Mungkin dengan cara seperti inilah Tuhan menguji hubunganku dengan Silvia.” Lanjutnya sambil tersenyum memandang Silvia yang menunduk.


Lidia yang berada di sebelah Silvia, perlahan merengkuh bahu perempuan itu.


“Disini akulah yang paling bersalah pada hubungan kalian. bahkan selalu membuat kalian salah paham. Bahkan kalian hampir saja putus. Maafkan aku, Silvia. Aku juga sangat berterima kasih karena kamu telah merawat Kavi dengan penuh kasih sayang.” Ucap Lidia dengan tulus sambil menitikan air mata.


Silvia pun ikut terharu. Dia menggelengkan kepalanya agar Lidia tidak merasa bersalah seperti itu.

__ADS_1


“Nyonya jangan bilang seperti itu. Benar yang dikatakan oleh Xander. Inilah cara Tuhan menguji cinta kami. Dan untuk Kavi, saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri.” Ucap Silvia.


“Silvia, Xander bilang kalau dia sudah menganggap aku dan Sean sudah seperti keluarganya sendiri. Jadi mulai sekarang, kamu jangan memanggilku Nyonya lagi. panggil aku Lidia saja, karena kita sudah menjadi keluarga bukan?”


Silvia bingung namun dia juga sangat bahagia. Akhirnya ia pun mengangguk samar.


“Dan untuk sementara waktu aku memutuskan untuk tinggal disini dulu. Aku ingin menyelesaiakan semuanya. Selain itu, keadaan istriku juga belum pulih sepenuhnya. Aku nggak berniat mengusir kalian berdua dari sini, hanya saja aku sangat berharap kalian segera meresmikan hubungan kalian.” ucap Sean.


Lidia yang mendengar penuturan suaminya tak sengaja melihat tangan Silvia, dimana pada jari manis perempuan itu telah tersemat cincin berlian yang ia yakini itu dari Xander.


“Sepertinya tadi ada momen bahagia yang kita lewatkan, Sayang.” Ucap Lidia sambil tersenyum memandang Sean.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2