Suami Kedua

Suami Kedua
Seperti Mimpi


__ADS_3

Seorang perempuan baru saja keluar dari kantor itu. Dan perempuan itu yang pernah Chandra temui saat di restaurant beberapa hari yang lalu. Perempuan yang mirip sekali dengan postur tubuh Feby. Tidak hanya itu, cara jalannya pun sangat mirip dengan Feby. Hanya saja perempuan itu memakai kacamata dan rambutnya sedikit ikal.


Memang Chandra belum menghubungi no ponsel yang tertera dalam kartu tanda pengenal yang ia temukan. Sekarang yang lebih penting adalah perempuan yang mirip dengan Feby ada di depan matanya.


Chandra tidak berniat ingin mendekati Feby ataupun merebut istri orang. Namun hatinya tergelitik rasa penasaran dengan perempuan yang mirip Feby itu. Walau nanti kenyataannya dia bukan Feby, setidaknya rasa penasarannya tidak akan terus menghantuinya.


Perempuan itu menaiki taksi yang baru saja berhenti. Chandra tak kehilangan akal. Dia segera mengikuti kemana arah taksi itu pergi. Dan ternyata taksi berhenti di sebuah apartemen. Pengintaian Chandra hari ini cukup. Mungkin suatu saat nanti akan menemui perempuan itu jika ada kesempatan. Lantas Chandra mengemudikan mobilnya menuju rumah Iqbal.


Setelah mengembalikan mobil Iqbal, Chandra pulang ke apartemen dengan mengendarai motor sportnya. Hari ini dia ingin istirahat saja dan tidak ingin pergi kemana-mana. Karena lusa adalah hari pertamanya bekerja. Yang pasti dia akan tidak mempunyai waktu santai lagi selain weekend.


Chandra merebahkan tubuh di atas tempat tidur berukuran sedang. Badannya sungguh Lelah. Belum sempat mandi, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.


***


Hari ini Chandra sudah bersiap rapi hendak pergi ke kampus. Bukan untuk kuliah lagi melainkan bekerja. Chandra tampak sedikit gugup di hari pertamanya bekerja. Walau secara kemampuan sudah tidak diragukan lagi, namun tetap saja dia merasa gugup karena ini adalah pertama baginya bekerja dengan orang lain.


Chandra menaiki motor sportnya menuju kampus. Kedatangan Chandra ke kampus bukan hal baru lagi bagi beberapa dosen yang mengenalnya. Karena selain terkenal dengan kecerdasannya, Chandra juga sangat sopan dengan semua dosen.


Chandra bekerja bukan sebagai dosen di sana. Tapi dia bekerja sebagai ahli IT khusus yang menangani dan melindungi dokumen rahasia milik kampus. Di sana Chandra tidak bekerja sendiri. Namun ada beberapa pekerja lama yang lebih dulu bekerja di sana sebelum Chandra. Mereka ada empat orang, ditambah dengan kehadiarn Chandra menjadi lima orang.


Chandra memperkenalkan dirinya pada empat orang temannya. Mereka semua usianya jauh di atas Chandra. Dan semuanya tampak sopan menyambut kedatangan Chandra.

__ADS_1


Hari ini Chandra mulai bekerja dengan keempat temannya yang lain. Chandra juga sudah mendapatkan pembagian job desc sesuai dengan kemampuannya.


Tanpa terasa Chandra sudah satu bulan bekerja. Sejauh ini pekerjaannya sangat nyaman dan menyenangkan. Begitu juga dengan teman-temannya.


Weekend yang biasanya Chandra gunakan untuk istirahat saja di apartemen, kali ini dia akan menjemput adiknya ke bandara. Karena hari ini Viana akan tinggal menetap di kota B dan sekolah modelling di sini.


Sebelum Viana tinggal di rumah Xander, Chandra ingin mengajak adiknya tinggal di apartemennya terlebih dulu agar bisa mengajaknya jalan-jalan. Chandra yakin jika nanti Viana sudah berada di rumah Xander, pasti tidak bisa bebas lagi.


Waktu kedatangan Viana masih lama. Chandra masih bisa bersantai sejenak. Lalu ia terpikirkan tentang kartu tanda pengenal yang dulu ia temukan. Mungkin saat ini lah yang tepat untuk menghubungi perempuan itu.


Chandra mulai mengetikkan digit no ponsel yang tertera di kartu itu lalu menekan icon warna hijau. Cukup lama Chandra menunggu panggilan itu. Hingga panggilan ketiga akhirnya si pemilik nomor angkat suara.


“Iya, halo?”


“Halo? Siapakah di sana?” sekali lagi perempuan itu bertanya saat tak mendapat sahutan dari Chandra.


“Ya sudah kalau anda hanya main-main. Saya tidak punya banyak wakt-“


“Halo. Maaf! Saya hanya ingin bertanya apakah pemilik no ponsel ini bernama Mia Allura?” sahut Chandra dengan cepat sebelum perempuan itu memutuskan secara sepihak panggilannya.


Sekarang giliran perempuan itu yang terdiam cukup lama. Entah apa yang terjadi di sana. Apakah perempuan itu sedang sibuk. Namun Chandra masih setia menunggu jawabannya.

__ADS_1


“Halo, Nona?”


“Ehm. Iya, saya Mia Allura. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu dengan suara yang sedikit berbeda dari sebelumnya.


“Oh tidak, Nona. Tempo hari saya menemukan kartu tanda pengenal atas nama Mia Allura. Mungkin kartu ini sangat penting bagi anda, kemana saya bisa mengembalikannya?” tanya Chandra.


Perempuan itu masih tampak berpikir sebelum menjawab Chandra.


“Iya. Kartu itu sangat penting bagi saya. bagaimana kalau anda kembalikan saja sesuai dengan alamat perusahaan itu?”


“Baiklah. Lusa akan saya antar ke perusahaan tempat anda bekerja.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


__ADS_2