
Mobil yang ditumpangi oleh Sean, Xander, dan Fredy sudah tiba di sebuah rumah sakit dimana dulu Sean pernah berobat disana. Sean tidak serta merta bilang ke pihak rumah sakit untuk pengambilan bom pada tubuhnya. Namun dia ingin bertemu dengan dokter Smith terlebih dulu.
Kini Sean sudah duduk di ruang kerja dokter Smith. Dokter itu tampak bingung melihat kedatangan Sean dan dua orang temannya. Bingung karena penampilan Sean, Xander, dan Fredy jauh dari kata rapi. Bahkan bajunya terkena noda darah bekas ledakan tubuh David tadi. mereka juga tampak acuh dengan pandangan orang di sekitar rumah sakit tadi.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Sean?”
Sean akhirnya menjelaskan semuanya pada dokter Smith mengenai bom yang ada dalam tubuhnya. Dokter Smith sangat terkejut mendengarnya. Pasalnya dulu Sean tidak pernah menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Sean hanya meminta bantuan dokter Smith untuk mengambil sampel darahnya lalu mengetesnya. Tidak hanya itu, Sean juga meminta dokter Smith untuk memanipulasi data kesehatan yang menyatakan bahwa dirinya terindikasi gejala leukemia. Jadi sekarang Sean meminta bantuan dokter Smith untuk melakukan operasi pengambilan bom dalam tubuhnya.
Beruntungnya rumah sakit itu milik dokter Smith. Jadi dia bisa dengan mudah memerintah salah satu dokter bedah yang bekerja di rumah sakitnya untuk mengambil bom itu.
“Baiklah. Mohon anda tunggu sebentar. Saya akan menghubungi salah satu dokter bedah saya.” ucap dokter Smith.
Setelah menunggu dokter Smith menghubungi dokter bedah, akhirnya hari itu Sean bisa melakukan operasi. Xander dan Fredy pun ikut langsung memantau proses pengambilan bom itu. karena setelah itu Fredy akan menghancurkannya.
Setelah melewati proses panjang dan keadaan Sean sudah pulih. Meski luka bekas operasinya masih membutuhkan perawatan, namun dokter Smith bisa menjamin kalau kondisi Sean baik-baik saja.
“Terima kasih banyak, dok! Nanti aku akan datang kesini lagi jika semua urusanku selesai.” ucap Sean sebelum pamit pulang.
“Baiklah. Jangan lupa untuk sering mengganti perban pada luka anda.” Jawab dokter Smith.
Tak lama kemudian Sean pulang bersama Xander dan Fredy. Mereka pulang ke tempat singgah sementara milik Marsha.
“Bagaimana keadaan kamu, Sean?” tanya Leon saat melihat Sean sudah tiba.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Jadi kapan kita bisa pulang? aku nggak sabar ingin bertemu dengan istri dan anak-anakku.”
Hening. Keempat orang yang ada di sana tampak terdiam tidak ada yang ingin menjawab pertanyaan Sean. Mereka tidak tega jika Sean mengetahui keadaan Lidia yang sesungguhnya.
“Kenapa kalian diam? Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Sean penuh selidik.
“Nggak ada apa-apa. Iya, secepatnya kita akan pulang. Lidia sangat menantikan kedatanganmu.” Jawab Xander akhirnya.
“Tapi kita melakukan penerbangannya besok pagi. cuaca hari ini kurang baik.” Sahut Marsha.
Sean mengangguk dan tidak mempermasalahkannya. Selagi menunggu hari esok, Sean memanfaatkan waktunya untuk istirahat. Walau dia sangat merindukan istri dan anak-anaknya, namun Sean mencoba bertahan untuk tidak menghubungi mereka dulu. Sean harus bisa menahan rindu itu.
Keesokan harinya, Sean dan keempat temannya sudah siap untuk terbang ke negara dimana istri dan anaknya tinggal. Ada rasa aneh dalam hati Sean saat akan bertemu dengan sang istri. Rasa tidak nyaman dan rasa rindu bercampur jadi satu. Namun Sean berharap semuanya baik-baik saja.
Lima jam perjalanan udara telah mereka tempuh. Helicopter yang membawa mereka sudah turun ke landasan dengan sempurna. Disana juga sudah tampak dua mobil menyambut kedatangan mereka.
“Kalian bertiga berangkatlah terlebih dulu, biar aku dengan Sean mengikuti kalian setelah ini.” ucap Xander sambil memberi kode pada Fredy, Leon, dan Marsha.
Sean pun tidak berpikir macam-macam. Dia mengikuti saja kemauan Xander. Namun saat Sean melihat mobil yang ditumpangi Leon dan dua teman lainnya berbelok arah menuju rumah peninggalan orang tuanya yang sekarang ditempati anak istrinya, lalu kenapa mobil yang ia tumpangi tidak menujun arah yang sama.
“Kamu mau membawaku kemana?” tanya Sean.
“Kamu bilang ingin bertemu dengan orang yang kamu cintai?” tahyanya balik dan semakin membuat Sean bingung.
__ADS_1
Tak lama kemudian Sean dan Xander sudah tiba di sebuah rumah sakit. Hati Sean semakin sesak. Pikiran buruk terus berputar di otaknya. Apa maksud semua ini. apa yang terjadi dengan Lidia, istrinya.
“Xander, cepat katakan! Ada apa ini?”
Namun Xander memilih diam dan terus melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan dimana saat ini Lidia sedang menunggu kedatangan sang suami.
Cklek
Xander membuka pintu ruangan itu. lalu mempersilakan Sean masuk.
Sean menatap nanar pada sosok wanita lemah yang tengah berbaring di atas brankar dengan kondisi mata tertutup rapat.
“Lidiaaaa!!!!” teriaknya pilu dengan tubuh yang sudah merosot terduduk di samping brankar Lidia.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1