Suami Kedua

Suami Kedua
Berangkat


__ADS_3

Jadi mulai malam itu dan selama beberapa malam berikutnya Lidia tidur di kamar Chandra. Sedangkan Chandra sendiri pun tidak bisa menolaknya. Karena dia juga cukup merasa lega akhirnya Mamanya mengijinkan untuk tetap tinggal disini.


Waktu itu pun tiba. Hari ini Sean akan berangkat ke Indonesia. Tentunya bersama Lidia dan ketiga anaknya. Chandra juga ikut mengantar kepergian keluarganya ke bandara dengan ditemani oleh Fredy.


Lidia tidak kuat menahan tangisnya saat akan berpisah dengan putra sulungnya. Sean hanya bisa membiarkan istrinya yang sejak tadi memeluk Chandra dan seperti enggan melepasnya. Andai saja tidak mendengar tangisan Mirza, pasti Lidia juga tidak melepas pelukannya.


Setelah mengurai pelukannya, Chandra kini beralih memeluk adiknya satu per satu secara bergantian. Chandra juga merasakan kesedihan karena akan berpisah dari ketiga adiknya. Terutama Mirza. Adiknya yang super duper manja.


Chandra memeluk Viana sambil membisikkan sesuatu. Setelah itu melakukan hal yang sama pada Kavi. Kedua adik Chandra yang sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik itu hanya mengangguk patuh pada perintaah kakaknya. Sean yang melihatnya ikut bangga karena anak-anaknya semua rukun.


“Chan, jaga diri baik-baik, ya? Ayah yakin kalau Chan anak yang tangguh. Jangan segan-segan menghubungi ayah jika terjadi sesuatu.” Ucap Sean.


Chandra hanya mengangguk lalu memeluk ayahnya dengan erat. Kemudian ia mencium adiknya yang paling kecil yang kini sedang menangis dalam gendongan mamanya.


Jadwal keberangkatan tiba. Chandra melambaikan tangannya pada kedua orang tuan dan ketiga adiknya sebagai tanda perpisahan. Setelah itu ia kembali ke rumah ditemani oleh Fredy.


Sedangkan di dalam pesawat, Lidia masih berusaha menyembunyikan kesedihannya karena berpisah dengan anak sulungnya. Lidia tidak ingin menampakkan pada Sean yang saat ini sedang memikirkan masalah di perusahaannya.


“Sayang, kamu baik-baik saja?” rupanya Sean bisa membaca hati istrinya yang sedang sedih.


“Aku baik-baik saja.” Jawabnya dengan memaksa senyum.

__ADS_1


Sean memilih untuk percaya dengan ucapan istrinya. Dia yakin kesedihannya nanti juga pasti berangsur menghilang. Karena tidak hanya memikirkan Chandra saja. Masih ada ketiga anaknya yang membutuhkan perhatian mamanya.


Selama belasan jam menghabiskan waktu di udara, akhirnya pesawat yang ditumpangi Sean tiba dengan selamat. Sudah ada mobil yang menjemput Sean untuk mengantar pulang ke rumahnya. Sean akan pulang ke rumah lamanya yang selama ini hanya ditempati oleh sepasang suami istri yang bertugas menjaga dan membersihkan rumah. karena Bi Rani dan Pak Doni sudah tua dan memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya.


Sesampainya di rumah, Sean mempersilakan anak istrinya memasuki kamar masing-masing dan beristirahat. Sedangkan dirinya masuk ke ruang kerja dan menunggu kedatangan seseorang yang akan menjelaskan masalah yang sedang terjadi di perusahaannya.


“Sean, apakah kamu nggak istirahat terlebih dulu? Ini sudah sangat malam. apakah tidak ada hari esok untuk bekerja?” tanya Lidia khawatir.


“Kamu saja istirahatlah terlebih dulu. Masalah ini benar-benar urgent. Kamu nggak apa-apa kan jika malam ini aku tinggal mengurus pekerjaan?”


“Tapi aku khawatir dengan kesehatan kamu.”


“Sayang, tenaglah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh semangat dan dukungan kamu.”


*


*


Rupanya masalah yang terjadi di perusahaan Sean tidak bisa disepelekan begitu saja. Berbulan-bulan Sean menyelesaikan masalah itu, namun sampai saat ini tak kunjung usai. Beruntungnya perusahaan tidak sampai gulung tikar, meski Sean sudah kehilangan beberapa investor.


Hampir setiap malam Seaan bekerja lembur. Dia masih terus mendaami otak dibalik kekacauan yang sedang mempermainkan perusahaannya. Dan lagi-lagi dia kesulitan menemukan siapa orang yang berbuat curang itu. Sean hanya merasa kalau orang yang berusaha menghancurkan perusahaan adalah orang yang mengetahui karakter dirinya.

__ADS_1


Tidak ingin anak-anaknya terkena imbas dari masalah perusahaan, Sean sudah berunding dengan istrinya untuk melakukan pembelajaran homeschooling pada anak-anaknya. setidaknya sampai suasana benar-benar kondusif, karena sebelumnya Sean dan Lidia sudah berencana akan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal.


*


Saat ini Sean sedang berada di kantor. dia sedang ditemani oleh asisten pribadinya untuk memberikan semua data perusahaan beserta hasil laporan tiap bulan selama beberapa tahun terakhir. Sean ingin menelitinya lagi siapa tahu memang ada sesuatu hal yang ia lewatkan.


“Baiklah, kamu boleh keluar. Untuk meeting nanti, kamu saja yang hadir. Aku akan fokus dengan berkas ini dan aku minta jangan ada satu orang pun yang datang ke ruangan ini tanpa aku yang memintanya.” Ucap Sean dengan tegas pada Erick, asisten pribadinya.


“Baik, Tuan.” Jawabnya lalu segera pamit undur diri.


Setelah Erick keluar. Sean mulai memeriksa kembali berkas yang dibawa oleh asistennya tadi. entah ini memang petunjuk atau memang beberapa hari yang lalu Sean kurang teliti. Pria itu menemukan salah satu data yang menurutnya aneh. Kemudian Sean mulai menyalakan laptop pintarnya, yang akan ia gunakan untuk menuntaskan tindak kejahatan.


Sean memasukkan data tersebut lalu menelitinya. Dan benar saja, ternyata data itu ada yang sengaja memanipulasi.


“Berengsekkkkk!!!”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2