Suami Kedua

Suami Kedua
Sean Pergi


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan Sean. Hari ini ia akan terbang ke negera dimana perusahaan David berada. Sean akan pergi bersama Fredy. Mungkin selama dua sampai tiga hari Sean berada disana. Otomatis dia tidak bisa bertemu dengan istri dan anak-anaknya.


“Sayang, kamu nggak apa-apa aku tinggal pergi?” tanya Sean saat sedang bersiap di dalam kamar.


“Bukannya kemarin sudah dibahas? Bahkan kamu dulu pergi sangat lama, aku juga tidak apa-apa.” Jawabnya diiringi senyuman.


“Iya. Maaf! Jadi kamu sekarang sudah terbiasa ya, ada aku dan tidak ada aku sam-“


Cup


Lidia mengecup bibir suaminya karena tak ingin mendengar lanjutan kalimat Sean yang seperti sedang terpojok.


“Bukankah kamu bilang pergi demi urusan pekerjaan? Dan itu juga sangat penting untuk keluarga kita? Aku nggak apa-apa. Aku akan menahan rinduku demi suamiku yang sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya.” Ucap Lidia.


Sean seketika memeluk istrinya dengan erat. Unggu beruntung sekali memiliki istri seperti Lidia yang selalu bersikap dewasa jika menghadapi suatu masalah. Terlebih, Lidia juga sangat bijaksana jika memberikan nasehat ataupun saran.


“Ya sudah, ayo! Kasihan Fredy sudah menunggu di luar.” Ajak Lidia kemudian.


Sean memeluk dan mencium anak-anaknya bergantian sebelum pergi. Setelah itu Jonathan mengantarnya ke bandara.


Sean melakukan penerbangan dengan menggunakan pesawat komersil. Meski ia tahu David mempunyai jet pribadi dan bisa saja itu menjadi miliknya sekarang, namun Sean tidak mau. Mungkin suatu saat nanti dia akan membelinya sendiri dari uang hasil jerih payahnya sendiri.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, Sean dan Fredy sudah tiba di lokasi. Mereka berdua segera menuju hotel untuk beristirahat terlebih dulu sebelum melaksanakan tugasnya.

__ADS_1


Menurut Sean, perusahaan milik David yang akan menjadi miliknya ada dua cabang. Sedangkan pusatnya ada di kota B. rencana Sean, dia akan mengalihkan dua perusahaan cabang itu menjadi miliknya. Sedangkan yang lainnya, hasil dari ia menipu karena perintah David, Sean akan mendatangi pemilik aslinya dan mengembalikannya.


Sean dan Fredy sudah berada di kantor. hampir seluruh karyawan David belum mengetahui kabar tentang atasannya yang sudah tiada. Hal itu karena Sean lah yang menyembunyikan kabar itu. Selain itu juga, karyawan David bisa bernafas dengan lega karena tidak melihat kedatangan bos mereka ke kantor dalam waktu yang cukup lama. Memang gaji mereka banyak, namun mereka sama sekali tidak menyukai sosok David.


Sean melakukan meeting di dua perusahaan cabang secara bergantian. Sean menyampaikan pada seluruh karyawannya kalau dirinyalah saat ini yang akan menjadi pemimpin perusahaan. Sean mengatakan kalau David sudah meninggal dunia karena sakit keras dan semua asset miliknya dialihkan menjadi milik Sean.


Sontak saja seluruh karyawan peserta meeting terkejut dengan kabar duka itu. Ada rasa iba sekaligus lega dalam hati mereka. Apalagi sekarang perusahaan akan dipimpin langsung oleh mantan asisten David yakni Sean. Yang menurut mereka sangat humble pada semua karyawan. Dan Sean juga mengatakan kalau dia akan bekerja dengan dibantu oleh Fredy yang sudah ia angkat menjadi asisten pribadinya.


Hampir dua hari Sean dan Fredy menangani perusahaan itu. Dia juga berkunjung ke beberapa pengusaha yang asetnya sempat Sean ambil. Sean mengembalikannya. Dan hal itu mendapat sambutan baik dari mereka.


“Fred, kamu kembalilah ke hotel! Aku akan pergi ke rumah sakit sebentar.” Ucap Sean setelah selesai bertemu dengan beberapa pengusaha.


“Apakah anda sakit, Tuan?” tanyanya khawatir.


“Tidak. Aku hanya ingin bertemu dengan dokter Smith.”


Beberapa menit perjalanan, akhirnya Sean sudah tiba di rumah sakit. Dia segera menuju ruangan direktur rumah sakit. Saat Sean sudah dipersilakan masuk oleh si pemilik ruangan, dokter Smith tampak terkejut melihat kedatangan Sean.


“Tuan Sean? Silakan duduk!”


“Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada masalah dengan luka pada jahitan bekas operasi anda saat itu?” tanya dokter itu merasa khawatir.


Sean menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum tipis.

__ADS_1


“Saya sudah berjanji akan datang lagi kesini seteah urusan saya selesai.” ucapnya sambil memberikan sebuah map pada dokter Smith.


“Ini bayaran anda karena sudah banyak membantu saya.” ucap Sean.


Dokter Smith semakin bingung. Sebenarnya dia tidak menuntut bayaran pada Sean atas operasinya dulu. Dokter Smith ikhlas membantu karena demi menyelamatkan nyawa Sean. Namun jika Sean mengatakan ingin membayar semuanya, kenapa dengan memberinya sebuah map dan bukan dalam bentuk uang ataupun cek.


“Anda bisa membacanya, dokter!” perintak Sean.


Mau tak mau dokter Smith membuka map itu dan membacanya dengan seksama. Antara percaya dan tidak. Dokter Smith berulang kali membaca isi dokumen dalam map tersebut, dan isinya sama.


“Saham lima belas persen? Apa maksud anda, Tuan Sean?” tanyanya memastikan.


“Iya. Saya memberikan lima belas persen saham perusahaan saya kepada anda sebagai imbalan karena anda telah membantu saya selama ini.”


“Tapi, Tuan. Ini sangat berlebihan. Saya ikhlas membatu anda.”


“Tapi saya tidak menerima penolakan, dok!”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2