
Sore harinya Feby bangun dari tidurnya. Ia langsung mengecek ponselnya yang ternyata banyak pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab. Dan itu dari no pengirim yang sama. Feby membaca pesan itu satu per satu sambil tiduran. Matanya melotot tak percaya saat membaca pesan Chandra yang seenaknya sendiri. Lalu dia kembali melanjutkan membaca pesan itu.
“Ponsel. Mengembalikan ponselku?” gumamnya sambil mengingat sesuatu.
“Astaga! Berarti ponselku saat itu dibawa dia.” Pekiknya terkejut.
Feby sebenarnya sudah mengikhlaskan ponselnya hilang. Walau dia tidak rela kehilangan foto-fotonya yang semuanya tersimpan di sana.
Setelah berpikir lama, Feby memilih mengalah saja. Dan dia akan datang menjemput laki-laki itu ke rumahnya. Selain untuk alasan ganti rugi, Feby juga ingin ponselnya kembali dan akan memperbaikinya nanti.
*
Malam harinya, Feby tengah bersiap pergi ke rumah Chandra. Dia tidak ikut bergabung makan malam bersama keluarganya.
Feby melajukan mobilnya menuju rumah Chandra, yang tak lain juga rumah Sean. Meskipun Feby mengenal Sean dan Lidia, namun dia sama sekali tidak pernah berkunjung ke rumah itu.
Kini mobil Feby sudah masuk ke halaman rumah Chandra setelah ia memastikan alamat itu benar. Dengan sedikit ragu, Feby melangkahkan kakinya masuk menuju teras dan menekan bel.
Cklek
Pintu terbuka lalu muncullah sosok gadis yang Feby pernah lihat saat di café dulu bersama Chandra. Dan gadis itu Feby yakini adalah kekasih Chandra.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Viana dengan ramah.
“Iya. Apakah benar ini rumah…” Feby mendadak blank karena dia tidak tahu nama Chandra. Dia juga belum sempat berkenalan atau sekadar tanya nama saja.
“Rumah siapa yang Kakak cari?” Viana bertanya lagi.
Feby benar-benar bingung. Bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Chandra. Kemudian dia pura-pura sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Chandra. Sedangkan Viana menatap aneh pada perempuan yang sedang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Siapa yang datang, Vi? Kok nggak disuruh masuk?” tanya Lidia yang tiba-tiba muncul.
Deg
Feby belum sempat mengetik pesan pada Chandra, dia dikagetkan dengan suara wanita yang ia kenal.
“Nggak tahu, Ma.” Jawab Viana.
Feby lagi-lagi terkejut saat mendengar gadis di hadapannya itu memanggil Lidia dengan sebutan Mama. Lalu apa hubungan laki-laki itu dengan Lidia dan juga gadis ini. apakah laki-laki itu adalah-
“Eh ada Nak Feby. Ayo silakan masuk. Mau ketemu sama Om Sean?” tanya Lidia yang sudah mendekati Feby.
Lidia memang tidak tahu kalau Feby mencari Chandra. Karena yang ia tahu saat ini suaminya sedang memiliki urusan pekerjaan dengan Kenzo yang tak lain Papanya Feby. Sedangkan Feby yang mendapat pertanyaan seperti itu, membuatnya semakin bingung.
“Oh kamu sudah datang.” Ucap Chandra yang tiba-tiba muncul.
“Oh kalian berdua sudah janjian? Mama kira Feby ingin beretemu Ayah kamu.” Ucap Lidia.
“Mau kemana sih, Kak? Dan kakak itu siapa?” tanya Viana penasaran.
“Huss anak kecil dilarang kepo.” Jawab Chandra dan mengabaikan keberadaan Feby.
“Kalian ini kok jadi mengabaikan Feby sih. Ayo masuk dulu Nak Feby!” ajak Lidia menghentikan perdebatan kecil antara Chandra dan Viana.
Belum sempat Feby masuk, Chandra menghentikan langkahnya dan bilang pada Mamanya kalau akan makan malam bersama Feby di luar sekaligus membahas pekerjaan kantor yang Chandra baru tahu dari ayahnya tadi. walau itu hanya alasannya saja.
Setelah berpamitan, kini Chandra dan Feby segera pergi. Mereka menggunakan mobil Feby dan Chandra yang menyetir.
Feby masih speechless saat sudah berada satu mobil dengan Chandra. Ternyata pemuda yang ia temui beberapa kali itu adalah teman masa kecilnya dulu. Dan gadis tadi ternyata adalah adiknya, bukan kekasih Chandra.
__ADS_1
“Kenapa diam? Masih kaget dan tidak percaya kalau aku adalah Chandra. Teman kamu saat masih kecil dulu?” tanya Chandra sambil tersenyum tipis namun pandangannya lurus ke depan.
Feby gelagapan. Dia berusaha bersikap santai walau sebenarnya ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Entah itu apa.
“Ehm. Iya. Maaf aku sama sekali tidak mengenali wajah kamu.” Ucapnya canggung.
“Memangnya ada yang berubah dengan wajahku? Aku saja masih ingat denganmu.” Ucap Chandra dengan santai.
Feby bingung dengan pertanyaan Chandra. Dia memang benar-benar tidak bisa mengenali wajah Chandra yang sekarang. karena postur tubuh Chandra seperti layaknya laki-laki yang usianya sama dengannya. Padahal setahu Feby, Chandra sepantaran dengan adiknya.
“Maaf. Aku memang benar tidak bisa mengenalimu. Kamu sangat berbeda dengan masa kecil kamu dulu.”
“Apakah aku semakin tampan?” tanyanya penuh percaya diri.
Uhukkk
Seketika Feby terbatuk saat mendengar kalimat narsis yang keluar dari mulut Chandra.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1