Suami Kedua

Suami Kedua
Ekspresi Kesal


__ADS_3

Bak gayung bersambut. Viana melihat laptop Chandra berada di atas meja yang jauh dari tempat tidur. Sebelum memulai aksinya, gadis itu melihat kembali ke arah pintu yang tadi belum ia kunci. Viana segera mengunci pintu kamar Chandra dan dengan cepat kembali ke tempatnya semula.


Viana mulai menyalakan laptop Chandra. Meskipun untuk membuka laptop itu harus mengguanakan password, tapi Viana biasa tahu apa password itu. Karena selama ini ia sering melihat kakanya yang sibuk di depan laptopnya. Dan diam-diam dia mencuri pandang saat kakaknya mengetikkan password untuk membuka laptopnya.


Klik


Viana bersorak gembira karena password yang ia ketik benar. Kini saatnya ia membuka satu per satu folder yang tersimpan dalam laptop itu. Viana tahu kalau kakaknya mempunyai dua laptop. Dan salah satunya saat ini pasti sedang dibawa. Lalu yang ditinggal di rumah, dia berharap ada sesuatu yang sejak kemarin membuatnya penasaran.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Viana melakukan pencariannya, gadis itu menghembuskan nafas kecewa karena tidak menemukan sesuatu yang dicarinya. Padahal semua folder sudah ia buka. Kemudian Viana berhenti sejenak tampak memikirkan sesuatu. Mungkin saja ada satu foto yang sedang disembunyikan kakaknya pada laptop itu, tapi dia tidak tahu tempatnya. Kemudian dengan cepat dia mencari cara bagaimana untuk menemukan file tersembunyi.


Klik


Viana membaca petunjuk untuk menbemukan file tersembunyi pada laptop yang tidak ia ketahui. Selesai membaca petunjuk, kini saatnya ia mempraktikkannya. Dan hasilnya….


“Ini Kak Feby bukan sih? Yang kapan hari datang ke rumah itu kan?” tanyanya pada diri sendiri saat menemukan satu foto perempuan tapi posenya tidak sama seperti yang ia lihat saat itu.


Foto saat ini yang Viana temukan adalah foto Feby yang sedang duduk santai di sambil memegang buku di sebuah halaman mirip bangunan kampus. Foto Feby sangat cantik sedang tersenyum manis.


“Masa iya sih yang saat itu aku lihat juga foto Kak Feby?” lagi-lagi Viana bertanya pada dirinya sendiri, jadi tidak ada yang menjawabnya.


Viana berusaha mencari lagi foto yang lain tapi sudah tidak ada. Akhirnya dia segera mematikan laptop itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Setidaknya usahanya kali ini membuahkan hasil. Meskipun menyisakan rasa penasaran dan banyak pertanyaan.


Viana keluar dari kamar kakaknya dengan kepala penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Kenapa kamu ada di kamar Kak Chandra?”


Deg


Viana terkejut mendapati mamanya sudah berdiri tepat di hadapannya.


“Oh itu, Ma… itu.. Viana mau pinjam charger ponsel Kak Chan. Tapi ternyata tidak ada.” Jawab Viana akhirnya.


“Jangan mainan gadget mulu! Katanya sakit kepala, sana balik ke kamar!” ucap Lidia dengan tegas. Viana hanya mengangguk lalu masuk kembali ke kamarnya.


***


Jam pulang kantor tiba. Feby kini tampak membereskan pekerjaannya sebelum pulang. setelah selesai dan siap untuk pulang, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan panggilan itu dari Papanya. Kenzo meminta Feby untuk masuk ke ruangannya.


“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Kenzo yang sedang duduk di sofa.


“Kenapa memangnya, Pa?” Feby balik bertanya sambil melangkah mendekati sofa dimana Papanya sedang duduk.


“Papa akan lembur. Papa akan menemani Chandra sampai pekerjaannya selesai. kamu kalau mau pulang sekarang pakai mobil Papa saja, bukannya tadi kamu berangkat dengan Chandra.”


“Apa Papa tidak perlu bantuan Feby? Feby juga tidak keberatan jika Papa minta lembur.”


Entahlah rasanya Feby juga tidak ingin keluar dari ruangan papanya. Dia masih ingin bersama Chandra, jadi dia beralasan seperti itu.

__ADS_1


“Nggak ada yang perlu dibantu.” Jawaban itu bukan dari Kenzo, melainkan dari Chandra. Karena memang dia tahu kalau pekerjaan Kenzo sudah selesai, hanya menunggu dirinya saja. Tentu saja tidak ada yang dibantu, karena Kenzo juga tidak bisa.


Tanpa berbicara lagi, Feby segera mengambil kunci mobil Papanya yang ada di atas meja. Setelah itu dia berpamitan pada Kenzo dan pulang. sedangkan Chandra masih memasang wajah seriusnya sambil menghadap laptop. Dia tidak peduli dengan ekspresi kesal Feby baru saja.


Dan benar saja, sampai pukul sepuluh malam pekerjaan Chandra baru selesai. dia sudah meretas semua email dan kini saatnya Chandra meneliti satu per satu pesan yang masuk ke email itu.


“Raymond Balindra”


Chandra membaca pesan masuk dari salah satu akun yang memiliki nama akun Raymond Balindra. Setelah itu dia memanggil Kenzo dan menunjukkan isi semua pesan itu.


Dalam pesan itu berisi percakapan antara Raymond dengan seseorang yang memiliki alamat email “Mr. X” yang membahas tentang pemasangan aliran listrik pada hendle pintu di control room. Dan sebagian pesan lainnya sepertinya sudah dihapus oleh pelaku.


“Berengsekkk!!” geram Kenzo saat membaca pesan itu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2