
Lidia terjaga dari tidurnya. Dia merasa sangat haus. Setelah itu dia melirik ke sampingnya yang tampak kosong. Wanita itu mencoba mencari keberadaan suaminya melalui layar monitor cctv. Dan ternyata Sean saat ini sedang berada di ruang kerjanya.
Lidia bangun untuk mengambil minum sekaligus menghampiri suaminya. Lidia perlahan membuka pintu ruang kerja Sean. Dia melihat suaminya sedang tampak fokus dengan layar laptop yang ada di hadapannya. Sean juga tidak menydari kalau ada seseorang yang ke dalam ruangannya. Lidia terus berjaalan mendekati suaminya berniat mengagetkan pria itu. Namun ternyata ia urungkan saat tak sengaja melihat wajah seseorang di dalam layar laptop Sean.
“Jeff!”
Sean tersentak kaget saat mendengar suara Lidia. Dia lekas menoleh, ternyata Lidia berada di belakangnya melihat dengan jelas foto Jeff.
“Sayang? Kenapa kamu kesini?” tanya Sean berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Sean, katakan padaku kenapa Jeff ada disana?”
Karena Lidia sudah mengetahui Jeff, akhirnya Sean menceritakan semuanya pada istrinya. Dia mengajak Lidia duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan mengajaknya bicara.
“Kenapa Jeff ada di dekat mobil kita, Sean? Apakah dia yang melakukan itu semua?” tanya Lidia tak tenang.
“Iya, Sayang. Dia. Laki-laki yang pernah menabrak kamu saat itu adalah laki-laki yang berusaha merusak mobil kita dan hendak mencelakai kita.”
“Tapi, kenapa? Ada hubungan apa kamu dengan Jeff? Rasanya tidak mungkin Jeff bisa melakukan itu semua.” Lidia masih tidak percaya.
Sean memegang kedua bahu istrinya lalu menceritakan tentang siapa Jeff sebenarnya. Dan terpaksa Sean juga membuka tentang kecelakaan rekayasa yang dilakukan Jeff pada Lidia hingga membuatnya keguguran. Sean mengatakan kalau Jeff hanyalah orang suruhan. Lidia menutup mulutnya tak percaya. Air matanya mengalir begitu saja saat kembali mengingat tentang janinnya yang hilang.
“Maafkan aku, Lidia. Semua ini salahku. Andai saat itu aku tidak pergi, pasti kamu akan selalu aman dan anak kita masih ada.” Sean memeluk istrinya yang sedang menangis tersedu.
“Sean, kapan semuanya ini akan berakhir. Aku sama sekali tidak tenang kalau keluarga kita selalu dalam bahaya seperti ini. aku benar-benar takut.” Lirihnya dengan terisak.
“Aku janji akan menyelesaikan ini secepatnya. Aku juga ingin keluarga kita hidup tenang tanpa ada gangguan, Sayang. Tenanglah, yang aku butuhkan hanya semangat dari kamu.”
Lidia tak mampu lagi berbicara. pikirannya melayang membayangkan betapa kejamnya perbuatan orang-orang itu sampai berhasil melenyapkan janinnya dulu. Bahkan bisa saja niat orang itu juga ingin membunuh dirinya. Ditambah lagi kejadian penculikan Chandra dan penusukan terhadap Chandra saat di bandara. Lidia semakin ketakutan.
“Sudah hampir pagi. lebih baik kita sekarang istirahat. Kamu jangan ikut memikirkannya. Aku akan mengatasinya bersama Xander dan Leon.” Lidia mengangguk setelah itu dia masuk kembali ke dalam kamar dan diikuti oleh Sean.
Keesokan paginya Lidia terbangun lebih dulu. Dia segera mencuci mukanya setelah itu masuk ke dalam kamar Viana. Entah kenapa perasaan Lidia semakin tak tenang sejak semalam, terlebih setelah mendengar cerita dari Sean. Lidia menggendong Viana yang terlihat baru saja bangun. Dia menciumi bayi mungil itu seolah tak ingin kehilangannya.
__ADS_1
Mungkin Chandra bukan lagi sasaran musuh Sean, karena beberapa kali mereka gagal melakukan kejahatannya terhadap Chandra. Namun bagaimana jika setelah ini Viana lah yang menjadi sasaran berikutnya. Lidia semakin erat memeluk Viana. Dia sangat takut kehilangan anak keduanya itu.
“Sayang, apapun yang terjadi, Mama akan selalu melindungimu.” Gumamnya tepat di telinga Viana.
Cklek
Pintu terbuka ternyata Bu Dewi yang masuk. Seperti biasa wanita yang menjadi baby sitter itu akan membangunkan Viana lalu memandikannya.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu kalau anda berada disini.” Ucapnya.
“Nggak apa-apa, Bu. Biar hari ini aku saja yang memandikan Viana. Bu Dewi bisa melakukan aktivitas yang lain saja.” Ucap Lidia dan Bu Dewi mengangguk.
Hari minggu ini Sean akan mengajak Leon dan juga Marsha bertemu di suatu tempat. Sean meminta bantuan pada Leon untuk mencari informasi terkini tentang perkembangan perusahaan David yang ada di luar negeri. khusunya Marsha. Perempuan itu terkenal ahli dalam bidang tekhnologi dan informasi. Sean akan meminta bantuan Marsha untuk meretas keamanan data penting milik perusahaan David yang saat ini dipegang oleh Bryan. Hal itu dilakukan oleh Sean agar David berhenti melakukan misi sesatnya yang menginginkan perusahaan dan juga istrinya.
Setelah pertemuannya dengan Leon dan Marsha, Sean mendapatkan informasi bahwa saat ini perusahaan David yang ada di luar negeri sudah perlahan pulih. Dia mendapatkan investor yang mampu mengembalikan keterpurukan perusahaannya. Namun pria paruh baya itu masih belum bisa pulang.
Sean berpikir sejenak setelah mendengar penjelasan Leon. Dia harus bertindak cepat untuk membuat Bryan hancur dengan perusahaan yang dipegangnya saat ini. kalau tidak, pria itu akan semakin mempunyai peluang banyak untuk menghancurkan keluarganya.
“Marsha, lakukan sekarang juga tugas kamu. Besok aku akan meminta Xander kesini.” Titah Sean.
Dan hari itu juga Sean menghubungi Xander agar besok segera melakukan penerbangan ke kota J. selain untuk membahas Bryan, Sean juga meminta beberapa laporan keungan di perusahaan cabang. Bahkan mungkin dia akan menahan Xander sampai semuanya beres.
Keesokan harinya, setelah Xander mendapat pesan dari Sean tadi malam, hari ini juga dia akan terbang ke kota J. namun dia harus pergi ke kantor terlebih dulu untuk menyampaikan beberapa hal mengenai pekerjaannya pada Silvia.
Penerbangan Xander terjadwal pukul sembilan pagi ini. dia sudah sampai kantor sejak pukul tujuh. Xander membereskan beberapa dokumen sambil menunggu kedatangan Silvia.
Tok tok tok
“Masuk!”
Tak lama kemudian muncul sosok perempuan cantik. Xander tertegun melihat penampilan Silvia pagi ini. bukan pakaian pres body seperti yang biasa ia kenakan, melainkan pakaian yang longgar namun justru semakin membuatnya semakin cantik. Meski Xander tidak mendapat balasan mengenai perasaannya, namun dengan melihat perubahan penampilan Silvia pagi sama saja wujud dari balasan persaannya.
“Ada apa Tuan memanggil saya?” tanya Silvia sambil tertunduk salah tingkah.
__ADS_1
Xander berdiri mendekati Silvia, lalu memgang dagunya agar bisa melihat langsung wajah cantik itu.
“Terima kasih.” Ucap Xander dan Silvia hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Hari ini aku akan pergi ke kantor pusat. Sean sedang membutuhkanku.” Ucap Xander.
Seketika terlihat raut kesedihan di wajah Silvia. Entah kenapa rasanya dia tidak ingin berjauhan dengan Xander. Silvia hanya bisa menganggukan kepalanya lalu menyiapkan beberapa laporan yang berupa soft copy untuk diberikan pada Xander untuk Sean. Semalam Xander sudah memintanya langsung melalui pesan singkat. Silvia tidak tahu kalau Xander akan memberikan laopran itu langsung pada Sean.
“Sebentar, Tuan. Saya akan mengambilkan laporan yang anda inginkan.” Ucap Silvia lalu keluar dari ruangan Xander.
Grep
Xander menarik tubuh Silvia ke dalam pelukannya lalu mendaratkan ciuman lembut pada bibir manis perempuan itu. Silvia juga sangat menikmati paguttan itu.
“Aku tunggu!” ucap Xander setelah melepas tautan bibirnya.
.
.
.
*TBC
Wah kalau Xander main nyosor terus begitu, dijamin deh Silvia bakalan terXander-Xander😂😂
Klo othor mah tetap terSean-Sean😍😍
Btw kalian sdh tau visual terbaru mereka blm? yuk cekidot ke instastory ig othor @dee_k9191🤗🤗
Happy Reading‼️
__ADS_1