
“Hei, apa-apaan kamu bocah!!!”
Pria berdarah campuran dengan usia kisaran dua puluh delapan tahun itu merasa sakit di tubuhnya setelah jatuh ke tanah, ditambah lagi tertimpa seorang gadis dengan tubuhnya yang sangat berat.
Viana perlahan bangkit dari tubuh pria itu lalu mengibas-ngibaskan seragamnya yang sedikit kotor. Tak lama kemudian datang seorang pria yang lebih tua dengan menunjukkan perasaan khawatirnya.
“Tuan, apa anda baik-baik saja? Maafkan saya hingga membuat anda hampir celaka.”
Pria itu sudah bangkit dan merasakan punggungnya sangat nyeri. Lalu matanya menelisik mencari keberadaan ponselnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat ponselnya sudah hancur tak berbentuk.
“Ini semua gara-gara kamu bocah ingusan!” umpat pria itu kala melihat ponselnya yang sudah remuk.
“Hei, Bapak ini sudah ditolong tapi nggak tahu terima kasih. Tahu gitu aku biarkan saja mati terlindas mobil box tadi.” geram Viana tak terima karena disalahkan.
“Iya, Tuan. Adik ini telah menyelamatkan nyawa anda.” Pria tua itu membela Viana.
“Sekarang aku minta imbalannya karena sudah menyelamatkan nyawa Bapak.” Ucap Viana kemudian. Karena dengan cara itu dia bisa pulang dengan memesan taksi.
“Bapak.. bapak.. memangnya aku ini bapak kamu? Oh apa kamu sengaja memerasku dengan cara pura-pura menolongku? Masih kecil sudah licik.” Jawabnya tak terima.
Viana semakin marah saat dituduh memeras. Namun setelah itu pria tua yang diyakini adalah sopir mendekati Viana sambil memberikan beberapa lembar uang. Uang itu lumayan banyak.
“Saya hanya butuh ini saja, Pak untuk saya pulang naik taksi.” Ucap Viana sambil mengembalikan sebagian uang.
Sedangkan pria yang diselamatkan Viana masih terdiam melihat Viana yang sudah pergi begitu saja. Harusnya dia mengucapkan terima kasih pada anak kecil itu, tapi rasa gengsinya terlalu tinggi, apalagi dia baru saja memarahinya dan menuduh yang tidak-tidak.
__ADS_1
“Mari, Tuan!” ujar pria tua itu mempersilakan majikannya masuk ke mobil.
Pria itu segera masuk mobil sambil membawa ponselnya yang sudah tak berbentuk lagi. dari dalam mobil pria itu melihat Viana yang sedang berdiri di depan stand penjual es cup pinggir jalan, setelah itu Viana berjalan untuk mencari taksi yang akan mengantarnya pulang.
***
Taksi yang Viana tumpangi sudah berhenti di depan gerbang rumahnya. Dia meliha kakaknya sedang berdiri di samping mobil dengan menunjukkan aura tak ramahnya. Viana seketika menundukkan kepalanya. Dia benar-benar takut melihat wajah seram kakaknya.
“Sudah cukup apa belum hukuman dariku?” tanya Chandra.
“Maafkan Vian, Kak. Maaf, Vian telah lancang masuk ke kamar Kak Chan dan membuka isi laptop Kakak. Hukuman yang Kakak berikan cukup membuatku jera. Vian janji tidak akan mengulanginya lagi.” ucap Viana dengan sungguh-sungguh.
Chandra yang melihat wajah lelah sang adik, dan juga permintaan maafnya membuat ia tidak tega. Chandra lalu menarik adiknya ke dalam pelukan.
“Terima kasih, Kak. Vian janji tidak akan mengulanginya lagi.” ucap Viana sambil terisak lirih dalam pelukan Chandra.
Chandra kini masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Namun sebelum itu ia melihat ponselnya ternyata ada pesan masuk.
“Chan, weekend besok kamu ada acara nggak?”
Membaca pesan itu membuat hati Chandra berbunga-bunga. Siapa lagi kalau bukan Feby. Dengan cepat Chandra membalas pesan Feby.
“Nggak ada. Memangnya kenapa?”
“Ya kali aja kamu bisa ikut gabung. Aku mau nongkrong sama Fico. Kamu juga bisa ngajak adik kamu kok, Chan.”
__ADS_1
“Baiklah. Besok aku hubungi lagi. dan jangan lupa share tempatnya.”
Chandra tidak menyangka kalau Feby mengajaknya jalan. Ya, walau ramai-ramai, tapi tidak masalah baginya asal bisa bertemu dengan Feby.
Setelah berbalas pesan dengan Feby, Chandra meletakkan ponselnya lalu masuk ke kamar mandi.
Malam harinya Chandra sudah bergabung dengan semua keluarganya untuk makan malam bersama. Suasana rumah selalu tampak ramai dengan ulah adik-adik Chandra. Bahkan saat di meja makan pun dua adik Chandra yang masih kecil itu selalu berdebat untuk hal yang tidak jelas. Lagi-lagi suara ayahnya lah yang bisa menghentikan perdebatan kecil itu. Karena Sean sangat tidak suka jika sedang makan ada yang bertengkar.
Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Sean selalu menyempatkan waktu untuk keluarganya berkumpul seperti ini usai makan malam. karena hanya waktu malam seperti ini lah yang pas untuknya saling sharing bersama istri dan anak-anaknya. kalau pagi juga tidak mungkin, apalagi siang, yang pastinya pada sibuk.
“Chan, tadi Onty Jenny menghubungi Mama dan menanyakan kabar kamu. Onty katanya kangen sama kamu.”
“Oh ya, Ma? Maaf, hampir saja Chan lupa. Sudah lama tinggal di kota ini, sampai tidak sempat menghubungi keluarga Onty Jenny.”
“Kalau kamu ada waktu berkunjunglah kesana, Chan. Mereka juga saudara kamu.” Sahut Sean.
“Iya, Yah. Chan juga kangen sama Gita dan Daniel.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️