Suami Kedua

Suami Kedua
Merayakan Keberhasilan


__ADS_3

Kini Chandra sudah berada dalam mobil Bersama Mama dan adik-adiknya. Lidia duduk di jog depan Bersama Chandra. Sedangkan ketiga anak Lidia yang lainnya duduk di belakang. Ya, walaupun Mirz tadi sempat merengek karena tidak mau duduk di belakang Bersama dua kakaknya yang selalu menjailinya.


Dalam perjalanan pulang ke rumah Iqbal, Chandra sedikit menceritakan masalah yang sedang terjadi pada keluarga Iqbal. terutama sepupunya yaitu Gita. Chandra tidak tahu pasti masalahnya. Dia hanya tahu secara garis besarnya saja. Jadi dia meminta Mamanya agar mengajak bicara Gita yang selalu terlihat murung mendekati hari pernikahannya.


Bukan tanpa alasan Chandra meminta mamanya agar mengajak Gita bicara. Gita sepupu Chandra itu dulunya dirawat oleh mamanya. Karena sebelum mamanya menikah dengan mendiang Papanya, Lidia adalah baby sitter Gita. jadi Gita sudah seperti anak Lidia sendiri.


“Kasihan sekali calon suami Gita. baiklah, nanti Mama akan bicara dengannya.” Jawab Lidia.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba. Tuan rumah menyambut kedatangan Lidia beserta anak-anaknya dengan senang hati. Lidia juga meminta maaf atas ketidak hadiran suaminya, karena sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri. Iqbal dan Jenny pun memakluminya.


***


Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa Chandra sudah tinggal di kota B selama hampir empat tahun. Dan selama kurun waktu itu, Chandra hanya fokus dengan kuliahnya. Walau sesekali terkadang ia diminta oleh Iqbal membantu pekerjaan kantor.


Hari ini Chandra sedang melakukan sidang skripsi. Laki-laki yang dua bulan lalu genap berusia dua puluh dua tahun itu tampak tenang menjelaskan hasil penelitiannya di depan dosen penguji skripsinya. Bahkan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh tiga dosen penguji itu dijawab Chandra dengan lancar dan benar. Hingga membuat para dosen sangat takjub dengan kemampuan Chandra.


Tidak sampai enam puluh menit dari waktu yang ditentukan, Chandra sudah menyelesaikan sidangnya. Perasaannya sangat lega. Seperti semua beban yang ada dalam dadanya musnah begitu saja.


Chandra keluar dari ruangan ujian disambut oleh orang-orang yang sangat ia cintai. Siapa lagi kalau bukan keluarganya. Chandra sangat terkejut melihat kedua orang tuanya beserta ketiga adiknya sudah berdiri di depan pintu ruang ujian dengan membawa banyak bouqet bunga. Padahal Chandra sebelumnya sudah mengatakan kalau akan meminta mereka datang saat wisuda nanti. Tapi justru mereka datang lebih awal. Dan itu menjadi kejutan tersendiri buat Chandra.

__ADS_1


“Selamat, Sayang!” ucap Lidia lalu memeluk Chandra.


Chandra juga membalas pelukan mamanya dengan erat. Setelah itu bergantian memeluk Sean. Pria paruh baya yang menjadi ayah sambung Chandra itu juga senang melihat kesuksesan Chandra yang hari ini sudah mendapatkan gelar sarjananya.


Setelah itu Chandra berhambur memeluk adik perempuannya yang saat ini tengah membawa bouqet bunga paling besar diantara yang lain. Chandra sempat kaget dengan adik perempuan satu-satunya itu yang kini sudah tumbuh dewasa dan sangat cantik.


“Selamat ya, Kak!” ucap Viana.


Chandra mengangguk, lalu berganti memeluk dua adik laki-lakinya yang juga sedang membawa hadiah untuknya. Chandra sangat gemas melihat Kavi dan Mirza yang sudah besar dan tampan.


“Ehm, maaf mengganggu waktunya.” Ucap salah satu dosen yang menguji Chandra tadi.


“Saudara Chandra, boleh saya meminta waktu anda sebentar saja? Kalau bisa, sekarang juga ikut saya!" Ucap dosen laki-laki yng berusia sekitar lima puluh lima tahun itu.


Chandra mengangguk lalu meminta ijin pada kedua orang tuanya. Sean dan Lidia juga tidak tahu apa alasan anaknya dipanggil lagi setelah ujiannya dinyatakan lulus.


Beberapa menit Chandra dalam ruangan itu akhirnya dia keluar dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat. Bukan masalah amplop yang menyita perhatian Sean dan Lidia, namun raut wajah Chandra lah yang membuat mereka bertanya-tanya.


“Mama, Ayah, ini surat kontrak kerja dari pihak kampus untuk Chan.” Ucapnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


“Apa maksudnya surat kontrak kerja, Chan?” tanya Lidia bingung. Sedangkan Sean tampak tersenyum bangga karena dia paham dengan maksud Chandra.


“Chan direkrut langsung oleh pihak kampus untuk bekerja di sini. dan ini surat kontrak kerjanya, Ma.” Jawab Chandra kemudian memeluk Mamanya.


Lidia terkejut sekaligus terharu. Dia benar-benar bangga atas prestasi yang diraih oleh anaknya. sekarang Lidia sudah tidak lagi melarang atau memerintah anak-anaknya harus sekolah dan bekerja dimana. Jika dulu dia selalu meminta anak-anaknya agar tinggal dekat dengannya, sekarang tidak lagi. dengan kabar bahagia ini, Lidia tidak mempermasalahkan Chandra jika harus berlama-lama lagi tinggal di kota ini.


“Selamat, Sayang! Mama sangat bangga dengan prestasi kamu.” Ucap Lidia sambil menitikan air matanya.


Chandra juga tak kalah bahagia. Tadi dosennya sempat mengatakan kalau sudah lama pihak kampus ingin merekrutnya untuk bekerja di kampus. Namun sebagian ada yang kurang setuju sebelum Chandra sidang skripsi. Setidaknya ingin melihat hasil ujiannya. Dan hari ini, para dosen itu melihat sendiri hasil sidang skripsinya yang nilainya hampir sempurna.


“Ya sudah, ayo kita segera merayakan keberhasilan Kak Chandra. Keluarga Uncle Iqbal sudah menunggu di restaurant yang sudah kita tentukan.” Ajak Lidia kemudian.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2