Suami Kedua

Suami Kedua
Aman dan Nyaman


__ADS_3

Di meja makan kini sudah ada pasangan Sean Lidia dan Kenzo Pelangi. Mereka berempat menunggu kedatangan anak menantunya yang entah sedang apa karena sejak tadi tak kunjung keluar.


Kenzo sejak tadi tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Sean karena telah banyak membantunya. Kenzo bingung dengan cara apa ia membalas budi Sean. Namun Sean sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Cukup dengan pernikahan Chandra dan Feby sudah membuatnya sangat bahagia.


“Dari awal kedatangan Chandra ke rumahku saat itu, aku sebenarnya sudah memiliki niatan untuk menjodohkan Feby dengan Chandra. Namun aku tidak berani mengatakan padamu karena aku mempunyai hutang janji pada Tuan Ibra.” Ucap Kenzo yang mulai menceritakan tentang perjodohan Feby dengan Reza.


Kenzo sangat sedih karena telah menjadikan anaknya sebagai korban. Namun dia bersyukur akhirnya pernikahan itu tidak berlangsung lama walau menjadikan Feby sebagai seorang janda di usia muda.


Lidia yang mendengar semua itu hatinya tergelitik penasaran tentang penyebab perceraian Feby dan Reza. Karena yang ia tahu saat hadir di pesta pertunangan dan pernikahan Feby bahwa sosok Reza adalah pria yang hangat dan sopan.


Mendapati pertanyaan dari Lidia, Kenzo dan istrinya saling lirik sebelum menjawabnya.


“Maaf, sampai saat ini yang kami ketahui dari Feby kalau diantara mereka memiliki banyak ketidak cocokan.” jawab Pelangi.


Lidia mengangguk paham walau masih belum puas dengan jawaban Pelangi. Bahkan Lidia sudah berpikiran buruk kalau ada pihak ketiga yang menyebabkan perceraian Feby dan Reza saat itu.


Tak lama kemudian dua orang yang ditunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Chandra dan Feby datang langsung duduk tanpa merasa bersalah kalau kedua orang tua dan mertua mereka sudah lama menunggu.


“Kalian bisa kan melakukannya nanti? Tanpa harus membuat kaum lansia ini menunggu lama.” Celetuk Lidia sambil mencebikkan bibirnya.


“Enak saja menyebut kaum lansia.” Sahut Sean tidak terima.

__ADS_1


“Ah iya, aku lupa kalau tenaga kamu masih sangat kuat apalagi hmmmpp-“


Sean segera membungkam mulut istrinya yang akan berucap tanpa filter. Pasangan Kenzo dan Pelangi hanya menahan tawa. Sedangkan Chandra yang sudah tahu kebiasaan Mamanya tampak acuh. Berbeda halnya dengan Feby yang masih penasaran menunggu kelanjutan kalimat mertuanya.


“Apalagi apa, Ma?” tanya Feby dengan polosnya.


Kenzo dan Pelangi menggelengkan kepala melihat sikap anaknya yang oon atau memang polos.


“Cepatlah makan, sebentar lagi kita akan berangkat.” Ucap Chandra tiba-tiba.


Feby mengangguk lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya. Niat Feby ingin melayani suaminya dengan mengambilkan makan, namun Chandra sudah lebih dulu mengambilnya sendiri.


Mereka berenam menikmati makan malam bersama dengan canda dan tawa. Kedua pasang pasang orang tua itu yang lebih dominan berbicara dengan memberikan beberapa wajangan kepada anak menantu mereka yang sebentar lagi akan tinggal berdua dan jauh dari orang tua.


“Nak Feby, memang usia Chandra empat tahun lebih muda dari kamu. Namun kamu jangan menjadikan usia sebagai patokan untuk seseorang meraih bahagia. Mama sangat yakin dengan sikap bijaksana dan dewasa Chandra sanggup membimbingmu menjadi istri yang penurut dan juga penyayang. Jadi hilangkan pandangan kalian yang menyangkut pautkan usia. Jalani rumah tangga kalian dengan sungguh-sungguh agar bisa mencapai kebahagiaan seperti kita para orang tua.” Lidia memberikan nasehat dengan bijaksana.


Kenzo dan Pelangi sangat setuju dengan nasehat yang diberikan oleh Lidia. Begitu juga dengan Chandra dan Feby.


“Iya, Ma. Feby akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Chandra.” Jawab Feby.


Usai makan malam, Chandra dan Feby kembali masuk ke kamar. mereka menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk keberangkatannya ke luar negeri. walau tidak begitu banyak barang bawaan yang akan mereka bawa. Sedangkan beberapa dokumen penting akan Sean kirimkan nanti saat Chandra dan Feby sudah sampai.

__ADS_1


Pukul sembilan malam pesawat pribadi milik Sean sudah tiba di halaman belakang Villa. Feby memeluk kedua orang tuanya sebelum berpisah. Begitu juga dengan Chandra.


Tak lama kemudian Chanbdra menggandeng tangan Feby lalu menuntunnya masuk ke dalam pesawat. Mereka berdua melambaikan tangan kepada para orang tua.


Kini Chandra dan Feby sudah duduk bersanding lalu pesawat itu segera lepas landas.


“Kamu gugup?” tanya Chandra saat merasakan tangan istrinya begitu dingin.


“Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk pada kita.” Jawab Feby sambil menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.


“Tenanglah, Sayang! Aku akan selalu membuatmu aman dan nyaman.”


.


.


.


*TBC


Siap-siap untuk bab selanjutnya yg mungkin penuh ketegangan. entah tegang apanya🤣🤣🤣✌️✌️

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2